• This is default featured slide 1 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

  • This is default featured slide 2 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

  • This is default featured slide 3 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

  • This is default featured slide 4 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

  • This is default featured slide 5 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Khutbah Jum’at Hubban Jammaa, Cinta Harta Secara Berlebihan

Khutbah Jum’at Hubban Jammaa, Cinta Harta Secara Berlebihan Oleh Masykur H. Mansyur (Ketua FKUB Karawang) Sudah menjadi sifat manusia, di antaranya adalah sangat mencintai harta. Mereka mengira bahwa harta akan dapat menyelamatkan dirinya. Selain itu, bahwa dengan harta yang melimpah, seseorang akan merasa dipandang hidupnya berhasil, semua keinginannya dapat dipenuhi, dan seterusnya. Di antara sebagaian manusia saat memulai aktivitasnya setelah bangun tidur sampai dia kembali ke rumahnya untuk beristirahat, yang dipikirkannya hanyalah dunia saja. Bahkan, saat tidurnya pun yang diimpikan adalah mencari harta atau dunia. Seakan-akan dirinya diciptakan untuk sekadar mencari dunia. Padahal, dengan perhatian dan keinginan yang berlebihan hingga melalaikan akhirat seperti itu, seseorang tidak akan mendapatkan rezeki kecuali yang telah Allah SWT tetapkan untuk dirinya. Dalam sebuah hadits disebutkan; Sekiranya manusia itu mempunyai satu lembah harta, niscaya ia ingin yang kedua (satu lembah lagi). Kalau ia mempunyai dua lembah, niscaya ia ingin yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut Bani Adam kecuali tanah. Dan Allah mengampuni orang-orang yang bertobat kepada-Nya. Allah SWT mengingatkan bahwa janganlah mencintai harta itu dengan berlebih-lebihan sebagaimana firman-Nya dalam al-Qur’an surat al-Fajr 89 [20] Allah berfirman وَّتُحِبُّوْنَ الْمَالَ حُبًّا جَمًّاۗ Dan kamu mencintai harta benda dengan kecintaan yang berlebihan. Senada dengan ayat tersebut terdapat dalam surat al-‘Adiyat 100 [8] وَاِنَّهٗ لِحُبِّ الْخَيْرِ لَشَدِيْدٌ ۗ Kedua ayat tersebut merupakan teguran halus sekaligus peringatan keras. Cinta harta pada batas wajar adalah fitrah karena ia sarana bertahan hidup. Namun, ketika kecintaan itu berubah menjadi hubban jammâ, kecintaan yang menumpuk-numpuk, rakus, dan tak terkendali, tak kenal batas, dengan segala cara tanpa peduli halal atau haram, sehingga membuatnya materialitis, bakhil, cenderung menggunakannya untuk sesuatu yang tidak benar, tentu ia akan mendatangkan malapetaka bagi iman seseorang. Dalam surat al-Munaafiquun 63 [9] Allah berfirman jangan sampai harta benda dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تُلْهِكُمْ اَمْوَالُكُمْ وَلَآ اَوْلَادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللّٰهِ ۚوَمَنْ يَّفْعَلْ ذٰلِكَ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْخٰسِرُوْنَ Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah harta bendamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Dan barangsiapa berbuat demikian, maka mereka itulah orang-orang yang rugi Pada hal ada dua persoalan mendasar yang dialami manusia yang telah meninggal dunia. Pertama ia meninggalkan semua harta yang selama ini telah dikumpulkannya dengan sekuat tenaga disertai segala suka dan duka. Kedua pada saatnya nati akan mempertanggung jawabkan semua harta yang diperolehnya. Pertanyaannya lalu untuk apa kita mengejar dunia, jika pada akhirnya akan kita tinggalkan semuanya. Kita akan berpisah dengan sesuatu yang telah kita perjuangkan selama hidup yang paling kita cintai, kita jaga, misalnya rumah yang kita bangun, kendaraan yang kita banggakan, tabungan yang kita kumpulkan sedikit demi sedikit, dan semua yang dimiliki. Semua itu akan ditinggalkan. Yang menyertai kita akhirnya hanya kain kafan dan amal sholeh yang pernah kita torehkan. Rasululloh saw bersabda bahwa mayyit itu diikuti dengan 3 (tiga) perkara yaitu; keluarganya, hartanya dan amal perbuatannya. Dua perkara kembali, dan satu perkara tetap ikut bersama mayyit tesrsebut. Yang kembali adalah keluarga dan hartanya, sedangkan amalnya ikut serta bersamanya. Jadi, harta yang ia tinggalkan ternyata akan menjadi pertanyaan yang berat oleh Allah, di mana ia mendapatkannya, dan untuk apa ia menggunakannya, sebagaimana sabda Rasululloh saw. لَا تَزُوْلُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ أَرْبَعٍ عَنْ عُمُرِهِ فِيْمَا أَفْنَاهُ وَعَنْ جَسَدِهِ فِيْمَا أَبْلَاهُ وَعَنْ عِلْمِهِ مَاذَا عَمِلَ فِيْهِ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيْمَا أَنْفَقَهُ (رَوَاهُ ابْنُ حِبَّانَ وَالتِّرْمِذِيُّ) Kedua kaki seorang hamba tidaklah beranjak dari tempat hisabnya pada hari kiamat hingga ia ditanya mengenai empat hal: (1) umurnya, untuk apakah ia habiskan, (2) jasadnya, untuk apakah ia gunakan, (3) ilmunya, apakah telah ia amalkan, (4) hartanya, dari mana ia peroleh dan dalam hal apa ia belanjakan” (HR Ibnu Hibban dan at-Tirmidzi) Sebetulnya masalahnya bukan memiliki harta. Islam sama sekali tidak melarang seseorang muslim menjadi kaya, tetapi janganlah sampai kita hanya sibuk mengumpulkan sesuatu yang akan kita tinggalkan, sementara kita lupa menyiapkan sesuatu yang akan kita bawa menghadap kepada Allah SWT. Carilah dunia dengan usaha yang baik dan benar, tapi jangan biarkan dunia mengusai hati dan pikiran kita, karena suatu hari nanti kita akan meninggalkan semuanya. Dan yang tersisa hanyalah amal sholeh. Islam tidak melarang kita untuk menjadi kaya, bahkan menganjurkan untuk menjadi kuat secara ekonomi, tapi juga Islam mengajarkan agar kekayaan itu diperoleh dengan cara halal, jujur, dan bermanfaat bagi sesama. Karena di setiap usaha yang jujur, tersimpan keberkahan dan kemuliaan di sisi Allah. Dampak buruk terhadap cinta yang berlebihan terhadap harta menurut Prof. Muhammad Quraish Shihab adalah kecintaan seseorang terhadapnya dengan berlebih, sehingga mampu mengantarnya pada sifat bakhil, kikir, pelit dan membuat dia enggan untuk memberikan sebagian hartanya untuk orang-orang yang membutuhkan. Di antara dampak buruk tersebut antara lain; 1. Adanya sifat ghoflah dalam diri seseorang. Yang menyebabkan seseorang lalai dari ibadah dan akhirat, diantaranya sifat ghaflah . sifat ghaflah adalah kondisi ketika hati manusia tertipu oleh keindahan dunia, sehingga lupa pada tujuan utama hidup yaitu mengabdi kepada Allah dan mengumpulkan bekal kematian. Hal ini membuat seseorang rugi karena menganggap dunia kekal padahal sementara 2. Menghalalkan segala cara. Menghalakan segala cara adalah tindakan seseorang yang gila harta dengan cara menipu, rela melanggar aturan, norma, atau nilai moral demi mewujudkan ambisi pribadinya. Prinsip ini mengabaikan batasan benar atau salah asalkan tujuan yang diinginkan tercapai. 3. Menjadikan seseorang bersifat kikir. Menumpuk harta secara berlebihan dan enggan berbagi sering kali menumbuhkan sifat kikir atau bakhil, yang lahir dari rasa cinta dunia yang terlalu mendalam. Sikap ini membuat seseorang merasa harta adalah milik mutlak dan kekal, sehingga muncul ketakutan besar harta akan berkurang jika dikeluarkan 4. Melahirkan sifat anti sosial Menumpuk harta secara berlebihan dapat memicu sifat anti sosial karena fokus hidup seseorang bergeser dari hubungan kemanusiaan menjadi obsesi materi dan ketakutan kehilangan kekayaan, sehingga menimbulkan hilangnya rasa empati. Dengan hilngnya rasa empati ini ditandai dengan mengabaikan kebutuhan dan penderitaan orang lain di sekitarnya. wallahu a’lam bi al-shawaab
Share:

Khutbah Jum’at Alam Semesta-pun Bertasbih

Khutbah Jum’at Alam Semesta-pun Bertasbih Oleh Masykur H. Mansyur (Ketua FKUB Karawang) Kalimat tasbih yaitu mengikrarkan kesucian terhadap Allah SWT dari segala sifat kekurangan, kesalahan, keburukan, aib atau segala sesuatu yang tidak layak bagi-Nya, baik yang terlintas dalam hati dan pikiran pengucap maupun pihak lain. Kalimat tasbih dikenal dengan ucapan subhanallah. Subhanallah (Maha Suci Allah). Kata tasbih berasal dari kata kerja sabbaha dan yusabbihu yang artinya mensucikan. Tasbih termasuk amalan yang sangat mudah, tapi sarat pahala. Sebagai bagian dari dzikir, tasbih bisa dilakukan kapan pun dan di manapun; tidak mesti di masjid dan tidak harus dalam keadaan suci. Karena kalimat suci, maka lebih baik dalam keadaan suci.Tasbih bisa dilafalkan dalam perjalanan pergi atau pulang kerja, di kantor, sekolah, rumah, pasar, tempat olah raga, mall dan lain sebagainya. Bahkan Allah SWT memerintahkan bertasbih baik di dalam shalat maupun di luar shalat bahkan sepanjang waktu, sebagaimana firman-Nya dalam al-Qur’an surat al-Ahzab 33 [42] وَّسَبِّحُوْهُ بُكْرَةً وَّاَصِيْلًا Dan bertasbihlah kepada-Nya pada waktu pagi dan petang (dengan menyucikan Allah dari sifat-sifat kekurangan). Dan dikuatkan lagi dalam surat Thoha 20 [130] فَاصْبِرْ عَلٰى مَا يَقُوْلُوْنَ وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ قَبْلَ طُلُوْعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ غُرُوْبِهَاۚ وَمِنْ اٰنَاۤئِ الَّيْلِ فَسَبِّحْ وَاَطْرَافَ النَّهَارِ لَعَلَّكَ تَرْضٰى Maka, bersabarlah engkau (Nabi Muhammad) atas apa yang mereka katakan dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu sebelum matahari terbit dan sebelum terbenam. Bertasbihlah (pula) pada waktu tengah malam dan di ujung siang hari agar engkau merasa tenang. Tasbih adalah amalan para Nabi dan orang-orang beriman. Bahkan, seluruh alam semesta, yang di langit, bumi, dan di antara keduanya, semua yang berada di bawah Arsy Allah sejatinya mereka semua bertasbih kepada Allah tanpa henti untuk mendapatkan jalan (washilah) menuju kepada-Nya. Seluruh makhluk, langit, dan bumi bertasbih memuji Allah, menjadikan kalimat ini selaras dengan ritme alam raya. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam al-Qur’an surat al-Isra’ 17 [44], تُسَبِّحُ لَهُ السَّمٰوٰتُ السَّبْعُ وَالْاَرْضُ وَمَنْ فِيْهِنَّۗ وَاِنْ مِّنْ شَيْءٍ اِلَّا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهٖ وَلٰكِنْ لَّا تَفْقَهُوْنَ تَسْبِيْحَهُمْۗ اِنَّهٗ كَانَ حَلِيْمًا غَفُوْرًا Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun. Sayyid Quthb dalam Tafsir fi Zhilalil Qur’an menafsirkan ayat ini,….sungguh indah pemandangan semesta alam yang unik ini ketika menggambarkan hati dan jiwa. juga ketika bercerita tentang kerikil dan bebatuan, biji-bijian dan dedaunan, bunga-bunga dan buah-buahan, tumbuhan dan pepohonan, semut dan binatang melata lainnya, hewan dan manusia, mahluk yang berjalan di daratan dan yang berenang di lautan serta yang melayang di angkasa. Semuanya bersama-sama dengan penghuni langit bertasbih dan menghadapkan wajah nuraninya kepada Allah yang berada kepada ketinggian-Nya. Hati Nurani ini benar-benar bergetar mana kala merasakan adanya kehidupan bergerak di sekitar diri ini, yang terlihat maupun yang tak terlihat. Setiap kali tangan ini hendak menyentuh sesuatu, dan setiap kali kaki ini hendak menginjak sesuatu, terngiang darinya suara tasbih kepada Allah, seraya ia ikut berdenyut bersama nadi kehidupan. Semuanya bertasbih dengan cara dan bahasanya masing-masing, tetapi manusia tidak mengerti tasbih mereka, Sayyid Quthb lebih lanjut menjelaskan dalam tafsirnya, kamu tidak mengerti cara bertasbih mereka karena kamu terhalang oleh lempengan duniawimu. Juga karena kamu tidak bisa mendengarkannya dengan hatimu, dan kamu tidak mau membawa hatimu ke dalam rahasia-rahasia wujud yang tersembunyi. Kamu tidak berkenan membawanya kepada hukum alam yang menarik setiap benda atom yang ada di semesta alam raya ini agar semuanya menghadap kepada Sang Pencipta hukum alam dan yang mengatur alam semesta raya ini. Dikala hati ini menerawang dengan kebeningan jiwa sehingga mampu mendengar denyut nadi kehidupan dari segala mahluk yang bergerak maupun yang diam, sedangkan mereka melantunkan tasbih kepada Sang Pencipta, maka hati ini siap utuk berkomunikasi dengan Yang Maha Tinggi. Juga siap memahami rahasia-rahasia wujud yang sesungguhnya tak dapat dipahami oleh jiwa-jiwa yang lalai. Yakni jiwa yang terhalang oleh lempengan duniawi sehingga hatinya tak mampu berinteraksi dengan rahasia yang tersembunyi di dalam wujud semesta raya ini, yang sedang berdenyut bersama segala mahluk yang bergerak maupun yang diam. Al-Razi dan sejumlah ulama lainnya berpendapat bahwa tasbihnya manusia dan mahluk-mahluk berakal adalah tasbih yang sesungguhnya, artinya mereka mengucapkan “subhanallah”, untuk mencucikan dan mengagungkan Allah. Sedangkan tasbihnya selain manusia bersifat majasi, atau tasbih dilaalah (bukti). Artinya, keberadaan mahluk-mahluk tersebut menjadi bukti adanya Tuhan Sang Pencipta. Karena semua mahluk menjadi saksi bagi dirinya sendiri bahwa Allah Azza wa Jalla adalah Sang Pencipta Yang maha Kuasa. Sedangkan menurut al-Qurthubi dan sejumlah ulama lainnya berpendapat bahwa pendapat yang benar ialah segala sesuatu yang ada di alam ini benar-benar bertasbih, berdasarkan dalil-dalil yang menunjukkan hal tersebut. Seandainya tasbih tersebut sekedar tasbih dilaalah, tiada gunanya pengkhususan Nabi Dawud a.s. yang disebutkan dalam firman Allah yang artinya “bersabarlah atas apa yang mereka katakan. Dan ingatlah akan hamba Kami, Dawud yang mempunyai kekauatan; sungguh dia sangat taat (kepada Allah). Sungguh, Kamilah yang menundukkan gunung-guung untuk bertasbih Bersama dia (Dawud) pada waktu petang dan pagi. Al-Qur’an surat Shaad: 38 [17-18]) Selain sarat dengan kebaikan dan pahala, tasbih juga memiliki banyak keutamaan, antara lain; 1. Dapat menghapus dosa meskipun dosanya lebih banyak dari buih di lautan مَا عَلَى الْأَرْضِ رَجُلٌ يَقُولُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ إِلَّا كُفِّرَتْ عَنْهُ ذُنُوبُهُ وَلَوْ كَانَتْ أَكْثَرَ مِنْ زَبَدِ الْبَحْرِ. Tidak ada seorang laki-laki yang mengucapkan laa ilaaha illa Allah wa Allahu Akbar wa Subhaanallahi wal hamdulillah wa laa haulaa wa laa quwwata illaa billaah kecuali dosa-dosanya telah dileburkan darinya meskipun ia lebih banyak dari pada buih lautan. 2. Dapat menggugurkan kesalahan sebagaimana pohon menggugurkan daunnya أَخَذَ غُصْنًا فَنَفَضَهُ فَلَمْ يَنْتَفِضْ ثُمَّ نَفَضَهُ فَلَمْ يَنْتَفِضْ ثُمَّ نَفَضَهُ فَانْتَفَضَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ تَنْفُضُ الْخَطَايَا كَمَا تَنْفُضُ الشَّجَرَةُ وَرَقَهَا. Bahwasannya Rasulullah saw. mengambil ranting, lalu beliau menggugurkannya, namun ranting itu tidak gugur, kemudian beliau menggugurkannya lagi, namun tidak gugur, beliau menggugurkannya lagi, lalu ranting itu gugur. Rasulullah saw. pun bersabda, “Sungguh Subhanallah wal hamdulillah wa laa ilaaha illaa Allah wa Allahu Akbar itu dapat menggugurkan kesalahan-kesalahan sebagaimana pohon menggugurkan daunnya. 3. Ringan di ucapkan tapi berat dalam timbangan kebaikan yaitu Bacaan subhanallah wa bi hamdihi dan subhanallahil ‘Aziim 4. Bacaan yang paling dicintai Allah Subhanallah, Alhamdulillah, Laa Ilaaha Illa Allah, dan Allahu Akbar Wallahu a’lam bi al-shawaab
Share:

Khutbah Jum’at HUT Kemerdekaan RI ke 81 Tahun 2026

Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur Oleh Masykur H. Mansyur (Ketua FKUB Karawang) Mari kita jadikan Peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia tanggal 17 Agustus 2026 bukan hanya sekadar upacara seremonial tahunan belaka. Akan tetapi HUT RI Ke-81 adalah momentum perayaan milik kita semua; dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk Indonesia yang berdaulat. Sebagaimana tema HUT RI tahun ini “Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur” Oleh karena itu, masyarakat secara keseluruhan diharapkan terus berpartisipasi aktif dan mengambil peran untuk mengisi kemerdekaan ini dengan sebaik-baiknya. Peran serta masyarakat dalam mewujudkan “Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur” antara lain dengan; 1. Mensyukuri nikmat kemerdekaan Syukur kemerdekaan seyogyanya tidak diwujudkan lewat pesta pora atau kemewahan, bersenang-senang atau melampiaskan hawa nafsu yang melalaikan nilai agama. Kemerdekaan adalah amanah dan modal besar dari Tuhan yang harus diisi dengan tanggung jawab moral, kesadaran beribadah, serta pengabdian untuk membangun bangsa secara jujur dan berakhlak. Disamping menyadari hak dan kewajiban secara jernih, menggunakan kebebasan untuk berbuat kebajikan tanpa merusak kebebasan orang lain, serta menempatkan diri sebagai hamba Allah yang taat pada kebenaran. Orang yang merdeka tahu haknya, tetapi ia juga sadar kewajibannya terhadap sesama dan masyarakat. Menerima kemerdekaan dengan insaf disertai segala potensi kekuatan dan kelemahan dari bangsa dan Negara kita. Dalam Pembukaan UUD 1945 menegaskan bahwa kemerdekaan Indonesia disamping hasil usaha fisik bangsa, sejatinya pengorbanan para syuhada pahlawan bangsa, akan tetapi juga merupakan atas berkat rahmat anugerah dan kasih sayang Tuhan Yang Maha Kuasa. Hal ini menunjukkan keseimbangan antara ikhtiar manusia dan takdir Sang Pencipta Kewajiban bersyukur atas nikmat Allah sebagaimana firman Allah dalam surat al-Baqarah 2 [152] فَاذْكُرُوْنِيْٓ اَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْا لِيْ وَلَا تَكْفُرُوْنِ ࣖ Maka ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu. Bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu ingkar kepada-Ku". 2. Menjaga kesatuan dan persatuan dan menolak perpecahan Menjaga persatuan dan kesatuan berarti merawat kebersamaan dan kerukunan di tengah perbedaan suku, agama, dan budaya. Prinsip yang dianut oleh bangsa kita adalah Bhineka Tunggal Ika, yang menuntut saling menghormati keragaman suku, agama, ras, dan budaya tanpa memandang rendah kelompok lain demi menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Hal ini dapat dilakukan melalui sikap toleransi yang tinggi, saling menghormati antar warga, serta mengutamakan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi demi keutuhan bangsa. Kita bangsa Indonesia yang menganut Bhineka Tunggal Ika dengan berbagai keragaman yang ada, agar manusia saling mengenal (li ta'arafu), saling belajar, dan memperkuat persatuan dan persaudaraan bukan untuk saling membeda-bedakan atau merendahkan. Al-Qur’an menjelaskan dalam surat al-Hujurat 49 [13] يٰآاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْا ۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْ ۗاِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan. Kemudian, Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Mahateliti. Dan bangsa Indonesia jangan sampai terpecah belah karena perbedaan suku, agama, pilihan politik, maupun provokasi dan berita bohong. Jangan sampai pihak-pihak lain membuat desain agar kita sesama anak bangsa saling bertengkar, bercerei berei, sehingga lupa terhadap tujuan menjadi negeri yang berdaulat, sejahtera, aman, gemah ripah loh jinawi. Allah SWT mengingatkan dalam al-Qur’an surat Ali ‘Imran 3 [103] وَاعْتَصِمُوْا بِحَبْلِ اللّٰهِ جَمِيْعًا وَّلَا تَفَرَّقُوْا ۖ… Dan berpegangteguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai… Kekuatan utama Indonesia terletak pada semangat kebhinekaan dan gotong royong antar warga. 3. Mengisi kemerdekaan dengan karya nyata Mengisi kemerdekaan dengan karya nyata dan amal shaleh merupakan bentuk rasa syukur atas nikmat anugerah kemerdekaan dari Allah SWT. Dalam ajaran Islam, nikmat kebebasan harus diwujudkan melalui perbuatan bermanfaat, kerja keras, serta kontribusi positif bagi kemajuan bangsa dan agama. Al-Qur’an surat al-Taubah 9 [105] وَقُلِ اعْمَلُوْا فَسَيَرَى اللّٰهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُوْلُهٗ وَالْمُؤْمِنُوْنَۗ ... Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaan itu". Ayat ini memotivasi setiap Muslim untuk terus berkarya dan beramal nyata tanpa henti. Mengisi kemerdekaan berarti bekerja dan berkarya secara nyata demi kemajuan bangsa. Mewujudkan rasa syukur tidak lagi dilakukan dengan mengangkat senjata, melainkan melalui tindakan kontribusi positif, inovatif, kreatif di berbagai bidang kehidupan sesuai kapasitas dan profesi masing-masing bagi kemajuan masyarakat. Hal ini dapat diwujudkan melalui peningkatan kualitas diri, kepedulian sosial, serta pemanfaatan teknologi secara bijak sesuai moral dan akhlak untuk membangun negeri. 4. Mendo’akan para pahlawan Mendoakan para pahlawan adalah wujud penghormatan tulus atas jasa dan pengorbanan jiwa raga mereka demi merebut serta mempertahankan kemerdekaan. Kita memohon agar ampunan, rahmat dan kemuliaan derajat bagi mereka di sisi Allah, agar amal bakti dan pengorbanan mereka dalam membela bangsa, Negara dan agama diterima di sisi Tuhan Yang Maha Esa dengan pahala yang berlimpah dan ditempatkan di tempat yang paling mulia اَللّٰهُمَّ يَا اَللّٰهُ يَا مُجِيْبَ السَّائِلِيْنَ، نَسْأَلُكَ بِأَنَّكَ أَنْتَ اَللّٰهُ اَلْأَحَدُ اَلصَّمَدُ، أَنْ تَتَقَبَّلَ شُهَدَاءَنَا الَّذِيْنَ قُتِلُوا فِي سَبِيْلِكَ وَفِي سَبِيْلِ دِفَاعِ الْوَطَنِ اللَّهُمَّ أَدْخِلْهُم فِي جَنَّاتِكَ، وَجَازِهِمْ خَيْرَ الْجَزَاءِ. وَاجْعَلْ جِهَادَهُمْ وَتَفَانِيَهُمْ أُسْوَةً لَنَا فِي سَبِيلِ الْحَقِّ وَالْوَطَنِ Ya Allah, wahai Dzat yang mengabulkan doa para peminta. Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu dengan bersaksi bahwa Engkau adalah Allah, tiada tuhan selain Engkau, Yang Maha Esa, tempat bergantung, yang tidak beranak dan tidak diperanakkan, dan tiada seorang pun yang setara dengan-Nya Ya Allah, masukkanlah mereka ke dalam surga-Mu, dan berilah mereka balasan yang sebaik-baiknya. Jadikanlah jihad dan pengorbanan mereka sebagai teladan bagi kami di jalan kebenaran dan tanah air.
Share:

Khutbah Jum’at Qalbun Salim (Hati Yang Selamat)

Khutbah Jum’at Qalbun Salim (Hati Yang Selamat) Oleh Masykur H. Mansyur (Ketua FKUB Karawang) Perhatian Islam terhadap hati sangatlah besar. Al-Qur’an dan Sunnah berkali-kali menekankan bahwa baik-buruknya seorang manusia sangat ditentukan oleh kondisi hatinya. Karena hati merupakan tempat jatuhnya niat, keyakinan, serta ukuran baik atau buruknya suatu amal perbuatan seseorang. Dalam sebuah hadits Rasulullah bersabda أَلاَ وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً، إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، أَلاَ وَهِيَ الْقَلْبُ. رواه البخاري ومسلم. Ketahuilah, sesungguhnya di dalam tubuh terdapat segumpal daging. Jika segumpal daging itu baik, maka baiklah seluruh tubuhnya, dan jika segumpal daging tersebut buruk, maka buruklah seluruh tubuhnya. Ketahuilah, segumpal daging itu adalah hati.” (HR Bukhari dan Muslim) Kemudian kata salim diartikan sebagai selamat, sehat atau bersih, sehingga kata Qalbun Salim diartikan sebagai hati yang selamat. Qalbun Salim adalah hati yang bersih dari kesyirikan, keraguan, dan penyakit batin. Hati ini menjadi satu-satunya penentu keselamatan manusia di akhirat kelak saat harta dan anak tidak lagi berguna, sebagaimana firman Allah dalam al-Qur’an surat al-Syu’ara’ 26 [88-89] يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَّلَا بَنُوْنَ ۙ Yaitu pada hari ketika harta dan anak-anak tidak lagi berguna, untuk menebus semua dosa-dosa yang ada,” demikian Nabi Ibrahim menutup doanya. Allah tidak membutuhkan semua itu, karena Allah Mahakaya. اِلَّا مَنْ اَتَى اللّٰهَ بِقَلْبٍ سَلِيْمٍ ۗ Kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih, yang selamat dari noda dan dosa. Prof. Wahbah al-Zuhaili menafsirkan ayat يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَّلَا بَنُوْنَ adalah di hari itu tidaklah seseorang terselamtkan dari siksa Allah dengan hartanya, walaupun ditebus dengan emas sebesar bumi. Tidak pula dengan anak keturunannya walaupun ditebus dengan seluruh manusia yang ada di bumi. Sesungguhnya yang bisa menyelamatkan di hari itu adalah imannya kepada Allah SWT, keikhlasannya dalam beragama, dan yang terbebas dari perbuatan-perbuatan syirik dan orang-orang musyrik. Yang dimaksud dengan hati yang bersih adalah hati yang bersih dari keyakinan-keyakinan yang sesat dan akhlak yang tercela yang cenderung ke arah kemaksiatan, yang ujungnya adalah sikap kafir, syirik dan nifaq. Sa’id bin al-Musib mengatakan Qalbun Salim (hati yang selamat) adalah hati yang benar, yaitu hati orang mukmin, karena hati orang kafir adalah Qalbun Maridh (hati yang sakit) sebagaimana firman Allah dalam surat al-Baqarah 2 [10] فِيْ قُلُوْبِهِمْ مَّرَضٌۙ فَزَادَهُمُ اللّٰهُ مَرَضًاۚ وَلَهُمْ عَذَابٌ اَلِيْمٌ ۢ ەۙ بِمَا كَانُوْا يَكْذِبُوْنَ Dalam hati mereka ada penyakit, lalu Allah menambah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih disebabkan mereka berdusta. Dalam ayat lain yang terdapat pada surat al Shaafaat 37 [83-84] وَاِنَّ مِنْ شِيْعَتِهٖ لَاِبْرٰهِيْمَ ۘ اِذْ جَاۤءَ رَبَّهٗ بِقَلْبٍ سَلِيْمٍۙ Di antara para rasul yang Kami utus kepada umat terdahulu adalah Nabi Ibrahim. Dan sungguh, Nabi Ibrahim adalah termasuk golongannya, yaitu penerus ajaran dan agama Nabi Nuh. Nabi Ibrahim adalah kekasih Allah. Ingatlah ketika dia datang kepada Tuhannya dengan hati yang suci bersih dari keyakinan batil dan akhlak tercela sehingga dalam hatinya hanya ada ketaatan dan kecintaan kepada Allah. Qalbun Salīm adalah hati yang terbebas dari syirik (menyekutukan Allah), serta hati yang bersih dari berbagai penyakit batin seperti iri hati, sombong, riya’ (pamer), dengki, dan kemunafikan. Mereka memahami bahwa hanya orang yang memiliki hati yang bersih inilah yang akan selamat dan diterima oleh Allah di hari kiamat Hati yang bersih adalah hati yang mampu mengenali kebenaran dan tidak dikendalikan oleh hawa nafsu. Nabi Ibrahim as, telah menghadap Rabbnya dengan hati yang selamat, Allah menjadikan beliau teladan bagi manusia. Kemudian Allah wahyukan kepadamu (Muhammad), ikut agama Ibrahim yang lurus termaktub dalam surat al-Nahl [123] ثُمَّ اَوْحَيْنَآ اِلَيْكَ اَنِ اتَّبِعْ مِلَّةَ اِبْرٰهِيْمَ حَنِيْفًا ۗوَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ 123. Kemudian Kami wahyukan kepadamu, wahai Nabi Muhammad, “Ikutilah agama, yaitu sikap hidup dan akhlak Nabi Ibrahim yang lurus dan selalu dalam kebenaran, dan dia bukanlah termasuk orang musyrik.” Nabi Ibrahim menghadap Tuhannya dengan Qalbun Salim. Demikian pula Nabi Muhammad saw, menghadap kepada Rabbnya dengan Qalbun Salim. Termasuk dari kalangan para Nabi dan rasul, dan para sahabat Nabi kita Muhammad, semoga sholawat yang paling suci dan salam yang paling sempurna tercurah untuk beliau, begitu juga juga para syuhada’ dan orang-orang sholeh setelah mereka menghadap kepada Tuhannya dengan Qalbun Salim. Lalu bagaimana kita menghadap Tuhan denga Qalbun Salim. Maka jadikanlah pertanyaan ini judul besar dalam hidup kita. Inilah tujuan yang seharusnya dijadikan perioritas mulai saat ini, bukan bermaksud meniadakan dunia, akan tetapi menempatkan dunia pada tempatnya, dalam arti nomor satu jadikan Qalbun Salim yang paling banyak menyibukkan akal, pikiran dan hati. Syekh Shalih al-Sindi mengatakan. Hati yang selamat terhimpun dalam lima sifat أنَّ اْلَقْلبَ السَّلِيمَ هُوَ جَمَعَ خَمْسَةَ أَوْصَافٍ : الوَصفُ الأوََّلُ هو القلْبُ الذي أَسْلَمَ . الوَصفُ الثاني هو القَلْبُ الذي سَلَّمَ . الوصف الثالث هو القلْبُ الذي اسْتَسْلَمَ . الوَصفُ الربع هو القَلْبُ الذي سَلِمَ . الوصف الخامس هو القلْبُ الذي سَالَمَ Hati yang selamat terhimpun dalam lima sifat 1. Berserah diri kepada Allah yaitu sikap batin yang memadukan ikhtiar maksimal dengan keyakinan penuh bahwa hasil akhir ada di tangan-Nya. Tindakan ini bukan berarti diam tanpa usaha, melainkan wujud iman bahwa ketetapan Allah adalah yang terbaik. 2. Tunduk menerima sepenuhnya tuntunan Rasulullah Merupakan sifat as-salamah pada hati, yaitu kepasrahan mutlak, ketundukan batin, dan pengamalan tanpa ragu terhadap seluruh ajaran Nabi Muhammad ﷺ. Hal ini merupakan inti dari keimanan yang benar dan tanda qalbun salim (hati yang selamat) saat menghadap Allah SWT. 3. Pasrah menerima ketetapan qadha’ dan takdir Allah Merupakan sikap ikhlas , sabar, dan tenang dalam menghadapi segala ketentuan yang terjadi. Sikap ini mencakup keyakinan bahwa semua ketetapan datang dari Allah demi kebaikan hamba-Nya. 4. Bersih dan selamat dari penyakit-penyakit hati, ia bersih dan selamat dari segala sesuatu yang memutuskannya dari Allah dan dari mengingatnya 5. Berwala dan berpihak kepada wali-wali Allah dan memusuhi musuh-musuh Allah Siapa saja yang menghadap Rabbnya dengan hati yang memiliki sifat-sifat ini, hendaklah ia bergembira dengan kebaikan yang agung ini. Qalbun Salīm bukan hanya penting untuk akhirat, tetapi sangat penting untuk kehidupan sosial yang sehat dan damai di dunia. Hati yang selamat adalah hati yang tulus, tidak merasa lebih baik dari orang lain, tidak suka menyakiti, dan tidak penuh kebencian. Orang yang memiliki Qalbun Salīm akan mudah menerima nasihat, senang mendengar kebenaran, dan selalu terbuka untuk memperbaiki diri. Ia tidak hanya menyembunyikan perasaan negatif, tapi benar-benar menyingkirkan perasaan itu dari dalam hati. Inilah hati yang akan membawa kedamaian dalam keluarga, masyarakat, bahkan dalam hubungan antarbangsa Makna utama yang bisa dipetik dari uraian ini adalah bahwa Qalbun Salīm bukan hanya tentang kesucian hati untuk akhirat, tetapi juga menjadi dasar penting untuk membangun pribadi Muslim yang utuh serta sehat secara spiritual dan harmonis dalam kehidupan sosial. Jadi, Qalbun Salīm bukan hanya tujuan akhir, tapi juga proses berkelanjutan dalam membentuk akhlak, cara berpikir, dan cara berinteraksi dengan orang lain, agar selamat di dunia dan di akhirat. Wallahu a’lam bi al-shawaab
Share:

Khutbah Jum’at Iblis Menipu Manusia Secara Total

Khutbah Jum’at Iblis Menipu Manusia Secara Total Oleh Masykur H. Mansyur (FKUB Karawang) Berdasarkan literatur Islam, Iblis berarti; dihukum, diam, dan menyesal, di antara pakar ada yang mengatakan bahwa kata iblis إبليس terambil dari kata Bahasa Arab ) أبلس ablasa( yang berarti putus asa, atau dari kata ) بلسbalasa) yang berarti tiada kebaikan. Iblis mempunyai sifat sebagai pembangkang atas perntah Tuhan. Iblis sudah ada sebelum Nabi Adam as diciptakan dan hidup dalam alam Malaikat. Sejak awal dalam kisah penciptaan Adam yang disebut adalah Iblis. Iblis tidak saja mengingkari perintah Allah SWT, dan tidak mau menghormati Adam , tetapi kemudian terlibat perdebatan panjang dengan Allah SWT Iblis adalah makhluk dari golongan jin yang awalnya sangat taat dan shaleh. Namun, ia menjadi pembangkang dan dilaknat karena menolak perintah Tuhan untuk sujud kepada Nabi Adam a.s. karena merasa lebih mulia. Pertanyaannya kepada siapa saja Iblis menjalankan tipu daya ? Sesuai dengan sumpahnya, yaitu kepada semua manusia dengan cara menjadikan mereka manusia memandang baik (perbuatan maksiat) dan memandang jelek perbuatan baik seperti tercantum dalam al-Qur’an surat al-Hijr 15 [39-40] قَالَ رَبِّ بِمَآ اَغْوَيْتَنِيْ لَاُزَيِّنَنَّ لَهُمْ فِى الْاَرْضِ وَلَاُغْوِيَنَّهُمْ اَجْمَعِيْنَۙ اِلَّا عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِيْن Iblis berkata, ‘Ya Tuhanku, oleh karena Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, aku pastik akan menjadikan (kejahatan) tampak indah bagi mereka di bumi dan aku akan menyesatkan mereka semuanya’. Kecuali hamba-hamba-Mu yang terpilih (tulus dan ikhlas (di antara mereka) Jadi semua orang akan menjadi objek penyesatan Iblis, kecuali orang yang ikhlas. Sapakah orang yang ikhlas itu . orang yang ikhlas adalah orang yang terpilih dan dijaga oleh Allah arena ketulusan dan kemurnian keimanan mereka, hamba-hamba yang mendapatkan taufik untuk taat kepada-Nya, termasuk yang berada di jalan yang lurus menuju ridha Allah. Dari arah mana saja Iblis dapat menggoda manusia Iblis menggoda manusia dari seagala arah, sesuai dengan firman Allah dalam surat al-al-A”raf 7 [17] ثُمَّ لَاٰتِيَنَّهُمْ مِّنْۢ بَيْنِ اَيْدِيْهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ اَيْمَانِهِمْ وَعَنْ شَمَاۤىِٕلِهِمْۗ وَلَا تَجِدُ اَكْثَرَهُمْ شٰكِرِيْنَ Kemudian, pasti aku akan mendatangi mereka dari depan, dari belakang, dari kanan, dan dari kiri mereka. Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur.” godaan dari depan maksudnya, yaitu Iblis akan menyesatkan manusia dari perkara-perkara akhirat. Sehingga ia ragu akan kehidupan akhirat. Ia ragu akan adanya balasan atas segala perbuatan yang dilakukan, ia ragu akan adanya siksaan yang teramat pedih dan kenikmatan yang tiada duanya di surga, dan lain sebagainya. Godaan Iblis dari belakang maksudnya adalah ia akan menjadikan manusia cinta akan dunia. Sehingga ia selalu mengejar dunia dan melupakan akhiratnya. Yang meliputi segala aktivitas, kebutuhan, dan perhiasan hidup manusia di bumi, serta sarana kehidupan sehari-hari dengan berbagai cara tanpa memperhatikan syariat, ia memuaskan dirinya dengan segala kenikmatan walaupun melanggar syariat, dan lain sebagainya. Godaan Iblis dari sisi kanan maksudnya, ia akan mencegah manusia dari kebaikan-kebaikan. Setiap perbuatan baik yang bermanfaat bagi diri sendiri atau orang lain dan dilakukan sesuai dengan ajaran Islam. Sehingga, manusia ragu-ragu dan waswas dalam melakukan kebaikan, ia tidak ikhlas dalam melaksanakan ketaatan dan lain sebagainya. Godaan Iblis dari sisi kiri maksudnya, yaitu Iblis akan menghiasi keburukan dan kemaksiatan. Sehingga, manusia terjerumus ke dalam kemaksiatan dan keburukan, ia memutar balikkan fakta, dengan membuat keburukan seakan-akan kebaikan serta kenikmatan yang perlu dilakukan. Pada hal itu hanya tipu daya Iblis semata guna menjerumuskan manusia ke jurang kehancuran. Pada ujung ayat disebutkan wa laa tajidu aktsara hum syaakiriin (“Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur [taat],”) Ali bin Abi Thalhah mengatakan dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata: “(Bersyukur) maksudnya, mengesakan-Nya. Sebenarnya awal dari pernyataan Iblis tersebut hanya merupakan prasangka dan dugaan belaka, tapi kemudian sesuai dengan kenyataan, sebagaimana firman Allah dalam surat Saba’ 34 [20-21] وَلَقَدْ صَدَّقَ عَلَيْهِمْ اِبْلِيْسُ ظَنَّهٗ فَاتَّبَعُوْهُ اِلَّا فَرِيْقًا مِّنَ الْمُؤْمِنِيْنَ ۝٢٠ Sungguh, Iblis benar-benar telah meyakinkan mereka terhadap kebenaran sangkaannya. Lalu, mereka mengikutinya, kecuali sebagian dari orang-orang mukmin. وَمَا كَانَ لَهٗ عَلَيْهِمْ مِّنْ سُلْطَانٍ اِلَّا لِنَعْلَمَ مَنْ يُّؤْمِنُ بِالْاٰخِرَةِ مِمَّنْ هُوَ مِنْهَا فِيْ شَكٍّۗ وَرَبُّكَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ حَفِيْظٌࣖ Tidak ada kekuasaan (Iblis) terhadap mereka, kecuali agar Kami dapat membedakan siapa yang beriman pada akhirat dan siapa yang ragu-ragu tentang (akhirat) itu. Tuhanmu Maha Memelihara segala sesuatu. Ketika Iblis menyampaikan misinya memperdaya manusia dari segala arah, maka Malaikat menjadi kasihan kepada manusia, lalu Malaikat berkata; “Ya Allah, bagaimana mungkin manusia dapat terhindar dari jebakan Iblis?” Allah menjawab masih tersisa dua arah: atas dan bawah, “Jika manusia mengangkat kedua tangannnya dalam doa dengan penuh rendah hati atau bersujud dengan dahinya di atas tanah dengan penuh kekhusyukan, Aku akan mengampuni dosa-dosa mereka.(Hadits Riwayat Imam Thabrani) Apa saja bentuk tipu daya Iblis Di antara tipu daya Iblis misalnya 1. Menunda taubat; Membisikkan ilusi bahwa ajal masih jauh, sehingga manusia terus menunda waktu untuk bertaubat dan memperbaiki diri 2. Dosa besar dengan menjerumuskan ke dalam zina, sihir, riba, atau pembunuhan 3. Dosa kecil dengan cara membuat manusia menyepelekan dosa kecil hingga menumpuk dan membinasakan hati. 4. Kepada ulama dan ahli ilmu dengan membisikkan rasa sombong atas ilmunya, merasa lebih mulia dari orang lain, serta memicu hasad (iri dengki) sesama pemegang ilmu. 5. Terhadap Ahli Ibadah: Membuat mereka fokus pada kuantitas ibadah tanpa memperhatikan syarat dan rukun yang sah, serta menjerumuskan mereka ke dalam sifat riya (pamer) 6. Terhadap Orang Kaya dengan memunculkan sifat kikir untuk bersedekah dengan menakut-nakuti mereka dengan kemiskinan, atau sebaliknya, menghamburkan harta demi pujian 7. Terhadap Orang Awam: dengan menyibukkan mereka dengan urusan duniawi secara berlebihan hingga melupakan kewajiban dasar agama seperti salat tepat waktu. 8. Dan lain sebagainya Bagaimana agar terhindar dari tipu daya Iblis Iblis merupakan makhluk Allah, yang diberi kemampuan untuk menyesatkan manusia sampai akhir zaman. Keberadaannya pun akan terus menggoda dan menjerumuskan setiap orang ke dalam perbuatan dosa. Oleh karena itu kita berupaya agar terhindar dari tipu daya Iblis. Cara agar terhindar dari tipu daya Iblis adalah dengan selalu mengingat Allah, memohon perlindungan-Nya, dan berpegang teguh pada ajaran agama. Trik agar terhindar dari godaan Iblis diantaranya; 1. Perkuat Iman dan Tawakal: Menyadari bahwa Iblis tidak punya kekuatan atas hamba yang tulus beriman serta berserah diri sepenuhnya kepada Allah. اِنَّ كَيْدَ الشَّيْطٰنِ كَانَ ضَعِيْفًا ۚ ࣖ sesungguhnya tipu daya setan dan juga kawan-kawan setan itu lemah dan rapuh. 2. Mengingat Allah (Zikir): Segera ingat kepada Allah saat rasa was-was atau bisikan jahat muncul di dalam hati. 3. Mewaspadai Setan dari Golongan Manusia: Menyadari bahwa setan tidak hanya dari bangsa jin, tetapi juga ada dari manusia yang mengajak kepada perbuatan durhaka. 4. Mengendalikan Amarah: Segera berwudhu atau merubah posisi tubuh saat emosi memuncak. 5. Melawan Sifat Malas: Segera bangkit untuk beribadah tanpa menunda-nunda waktu. 6. Menjaga Pandangan: Batasi diri dari hal-hal yang memicu syahwat dan maksiat. 7. Berdo’a memohon perlindungan Allah Wallahu ‘a’lam bi al-shawaab
Share:

Do’a pada Acara Hari Koperasi ke 79 (12-7-2026)

Do’a pada Acara Hari Koperasi ke 79 (12-7-2026) Dibacaakan pada Hari Ahad 19-7-2026 di Lapangan Karangpawitan Oleh Masykur H. Mansyur (Ketua FKUB Karawang) Ya Allah Yang Maha Esa Pada hari ini kami berkumpul dalam rangka Peringatan Hari Koperasi yang ke 79 seraya memanjatkan puji dan syukur ke hadirat-Mu atas segala rahmat dan karunia-Mu yang telah Engkau limpahkan kepada kami semua, hanya kepada-Mu kami berserah diri memohon pertolongan dengan harapan agar acara ini berlangsung hidmat, lancar dan sukses Ya Allah Tuhan Yang Maha mengetahui Kami memohon kehadhirot-Mu. Jadikanlah Peringatan Hari Koperasi yang ke 79 ini sebagai momentum kebangkitan koperasi dikelola secara profesional, dan adaptif terhadap perkembangan zaman serta menjadi penguat agar peran koperasi Indonesia dapat menjadi pilar ekonomi kerakyatan yang lnklusif dan berkelanjutan sehingga terwujud kemakmuran rakyat berdasarkan asas kekeluargaan dan tolong-menolong menuju Koperasi Berdaya, Indonesia Berjaya. Ya Allah, Ya Rahman Ya Rahim, Sesuai dengan tema hari koperasi tahun 2026 Koperasi Berdaya, Indonesia Berjaya" adalah komitmen agar koperasi dapat bertransformasi menjadi pilar ekonomi rakyat yang tangguh, modern, dan mandiri. Dengan harapan agar koperasi di berbagai daerah tumbuh kuat dan sejahtera, sehiungga menjadi fondasi kokoh yang mendorong kemajuan dan kemakmuran secara menyeluruh Ya Allah, Tuhan Yang Maha Perkasa Anugerahkanlah kepada kami semua sehat lahir batin, selamat dunia akhirat, dan bimbingan kepada para pemimpin dan para penggerak koperasi kami. Satukanlah langkah dan hati kami dalam semangat gotong royong dan kekeluargaan, agar kami mampu menghadapi tantangan zaman dalam mewujudkan keadilan dan kesejahteraan sosial bagi seluruh rakyat kami Ya Allah Tuhan Yang maha Pengampun Ampunilah dosa-dosa kami, dosa ibu bapak kami, dosa para pemimpin dan pejuang kami, terimalah amal sholeh mereka, karena Engkau Dzat Yang Maha Pengampun lagi maha Penyayang. Kabulkanlah do’a dan permohonan kami, agar kamu semua termasuk dalam golongan yang beruntung. Rabbana ….
Share:

Rahasia Iblis Terbongkar Oleh Nabi Musa

Rahasia Iblis Terbongkar Oleh Nabi Musa Oleh Masykur H. Mansyur (FKUB Kabupaten Karawang) Dalam banyak riwayat terungkap bahwa pada zaman dulu, Iblis sering kali datang menemui orang-orang shaleh, terutama para Nabi, untuk berdialog dengan mereka. Dari dialog tersebut ternyata sering terlontar kalimat-kalimat bijak dari Iblis terkait dengan strateginya dalam menggoda dan menjerumuskan manusia. Salah satu peristiwa mengenai hal ini, ketika Iblis pernah bertemu dengan Nabi Musa. Diceritakan dari Abdurrahman bin Ziyad bin An’am. Pada suatu kesempatan, di saat Nabi Musa sedang duduk di majlisnya, Iblis datang sambil mengenakan pakaian yang memiki tudung kepala yang berwarna warni. Ketika sudah dekat, Iblis melepas tudungnya dan meletakkannya. Kemudian, ia menghampiri Musa. “Assalamu’alaika, wahai Musa.” kata Iblis menyapa, “ Siapa kamu?” tanya Musa. “Aku Iblis.” Jawabnya. “Ternyata engkau, maka tidak ada ucapan salam buatmu, ada apa engkau datang ke sini?” kata Musa “Saya datang untuk mengucapkan salam kepadamu, karena posisi dan kedudukanmu di sisi Allah”, jawab Iblis. “Apa yang engkau kenakan tadi?” tanya Musa Ítu adalah sesuatu yang saya gunakan untuk menawan hati anak-anak cucu Adam” jawab Iblis. Musa bertanya “apa sesuatu yang jika dilakukan oleh manusia maka engkau akan bisa menguasainya?”. Iblis menjawab “Ketika manusia merasa ujub, merasa amalnya sudah banyak dan lupa akan dosa-dosanya.” Maka saya menguasainya. Saya ingin memperingatkan engkau tentang tiga hal. 1. Jangan engkau berduaan dengan perempuan yang tidak halal bagimu. Karena tidak ada seorang laki-laki berduaan dengan seorang perempuan yang tidak halal baginya, melainkan saya sendiri yang menemaninya dan menggodanya, bukan anak buah saya. 2. Janganlah engkau mengikrarkan suatu janji kepada Allah, melainkan engkau harus penuhi, melainkan saya sendiri yang langsung menemaninya dan menggodanya, supaya dia tidak memenuhi janji itu. 3. Janganlah engkau berniat mengluarkan sedekah, melainkan engkau harus benar-benar segera meluluskan dan melaksanakannya karena tidak ada seseorang yang berniat mengeluarkan sedekah, lalu dia tidak segera melaksanakannya, melainkan saya sendiri yang langsung menemaninya dan menggodanya supaya dia tidak jadi melaksanakannya, bukan anak buah saya. Lalu Iblis pergi sambil berkata, “Duh celaka, duh celaka, duh celaka, Musa telah mengetahui apa yang mesti dia peringatkan kepada anak cucu Adam (Kisah di atas bersumber dari Imam Ibnul Jauzi, Uyun al-Hikayat min Qashash al-Shalihin wa Nawadir al-Zahidin /500 Kisah Orang Saleh Penuh Hikmah, p 203-204) Berdasarkan dialog di atas betapa besarnya bahaya ujub. Ujub diartikan sebagai mengagumi kehebatan, kecerdasan, atau amal ibadah diri sendiri, serta lupa menisbatkan semua nikmat dan keberhasilan tersebut semata-mata sebagai anugerah dari Allah SWT Ujub (merasa kagum atau bangga pada diri sendiri) adalah salah satu pintu masuk godaan Iblis yang paling halus dan berbahaya. Menurut para ulama, ketika Iblis gagal menjerumuskan seseorang ke dalam dosa besar (seperti zina atau minuman keras), ia akan menggunakan jebakan ini, membisikkan rasa bangga atas amal kebaikan yang telah dilakukan. SWT. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam al-Baihaq Rasulullah bersabda وْ لَمْ تَكُوْنُوا تُذْنِبُوْنَ خَشِيْتُ عَلَيْكُمْ مَا هُوَ أَكْبَرُ مِنْ ذَلِكَ الْعُجْبَ الْعُجْبَ “Jika kalian tidak berdosa maka aku takut kalian ditimpa dengan perkara yang lebih besar darinya (yaitu) ujub ! ujub !” Peringatan Iblis tersebut membuat kita kaum muslimin perlu mengambil sikap agar terhindaar dari tipu daya iblis la’natullah Pertama, berduaan dengan lawan jenis Dalam Islam, larangan berduaan dengan lawan jenis yang bukan mahram disebut dengan khalwat. Hal ini diharamkan karena berpotensi menjadi jalan (pembuka) menuju perbuatan zina atau maksiat. Hal ini diingatkan oleh Allah dalam firman-Nya surat al-Isra’17 [32] وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنٰىٓ اِنَّهٗ كَانَ فَاحِشَةً ۗوَسَاۤءَ سَبِيْلًا Janganlah kamu mendekati zina. Sesungguhnya (zina) itu adalah perbuatan keji dan jalan terburuk. Merupakan larangan preventif: Allah tidak hanya melarang melakukan zina, tetapi juga melarang mendekati zina. Ini berarti segala pintu, sarana, atau perilaku yang dapat memicu perbuatan zina (seperti berdua-duaan dengan yang bukan mahram, melihat pornografi, atau berinteraksi bebas tanpa batas) juga diharamkan Dalam hadits yang diriwayatkan Imam Tirmidzi لَا يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إِلَّا كَانَ ثَالِثَهُمَا الشَّيْطَانُ Tidaklah seorang laki-laki berkhalwat dengan seorang perempuan kecuali yang ketiganya adalah setan.”. Kedua, menunaikan janji Menunaikan janji adalah tindakan memenuhi komitmen atau kesepakatan yang telah diucapkan kepada diri sendiri, orang lain, atau Tuhan. Dalam Islam, hal ini merupakan kewajiban moral dan spiritual yang menjadi cermin integritas, sebagaimana ditegaskan dalam Surah Al-Isra 17 [34] bahwa setiap janji akan dimintai pertanggungjawaban. …. اِنَّ الْعَهْدَ كَانَ مَسْـُٔوْلًا Sesungguhnya janji itu pasti diminta pertanggungjawabannya, Dalam perspektif teologis (khususnya Islam), setan menggunakan berbagai tipu daya psikologis dan spiritual untuk membuat manusia mengingkari janji mereka. Misalnya Setan membisikkan pikiran untuk menunda menepati janji hingga akhirnya waktu habis atau terlupa. Taswif sebagai sifat suka menunda-nunda amal kebaikan atau ibadah merupakan salah satu strategi atau senjata ampuh yang digunakan oleh Iblis untuk menyesatkan manusia. Anas bin Malik, mengatakan: التَّسْوِيفُ جُنْدٌ مِنْ جُنُودِ إِبْلِيسَ عَظِيمٌ ، طَالَمَا خَدَعَ بِهِ At-Taswif (sikap menunda-nunda) adalah salah satu tentara Iblis yang besar, sering kali Iblis mengelabui manusia menggunakannya. (Qashru Al-Amal karya Ibnu Abid Dunya: 201 Ketiga, jangan menunda sedekah Menyegerakan sedekah sangat dianjurkan karena menunda-nunda kebaikan dapat menghilangkan niat, padahal hari esok belum tentu menjadi milik kita. Menurut para ulama, bersegera bersedekah akan melipatgandakan manfaat sosial, menjaga nilai keimanan, serta melindungi diri dari berbagai malapetaka. Niat yang ditunda berpotensi digagalkan oleh godaan setan yang enggan melihat manusia beramal. Dan sedekah atau bantuan yang disalurkan segera akan lebih cepat dirasakan dan menyelamatkan mereka yang sangat membutuhkan, sebagaimana hadits Rasulullah يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ الصَّدَقَةِ أَعْظَمُ فَقَالَ أَنْ تَصَدَّقَ وَأَنْتَ صَحِيحٌ شَحِيحٌ تَخْشَى الْفَقْرَ وَتَأْمُلُ الْغِنَى وَلَا تُمْهِلَ حَتَّى إِذَا بَلَغَتْ الْحُلْقُومَ قُلْتَ لِفُلَانٍ كَذَا وَلِفُلَانٍ كَذَا أَلَا وَقَدْ كَانَ لِفُلَانٍ Wahai Rasulullah, sedekah apakah yang paling besar pahalanya?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kamu bersedekah pada saat dirimu sehat, kikir, takut fakir, sedangkan kamu berangan-angan menjadi orang kaya. Oleh karena itu, janganlah kamu menunda-nunda untuk bersedekah sehingga ruh sampai di tenggorokan. Maka, kamu baru berkata, “Ini untuk si fulan dan ini untuk si fulan sekalian.” Padahal harta itu memang sudah ditetapkan menjadi milik si fulan. Wallahu a’lam bi al-shawaab (Karawang Senin Sore, 29 Juni 2026)
Share:

Khutbah Jum’at Penghuni Surga Saling Berkomunikasi dengan Penghuni Neraka

Khutbah Jum’at Penghuni Surga Saling Berkomunikasi dengan Penghuni Neraka Oleh Masykur H. Mansyur (FKUB Kabupaten Karawang) Sebagai pemilik surga dan neraka, Allah mengabarkan kepada kita melalui Al-Qur’an, bahwa suatu saat nanti terjadi dialog antara penghuni surga dengan penghuni neraka. Kabar ini dimaksudkan agar kita sebagai hamba-Nya mengetahui beberapa penyebab seseorang masuk neraka. Ternyata pnghuni surga dan penghuni neraka bisa saling berhadapan dan berkomunikasi: Penghuni surga dapat memanggil penghuni neraka untuk bertanya apakah mereka telah mendapatkan azab yang dijanjikan. Dalam al-Qur’an surat al-A’raf 7 [44] وَنَادٰٓى اَصْحٰبُ الْجَنَّةِ اَصْحٰبَ النَّارِ اَنْ قَدْ وَجَدْنَا مَا وَعَدَنَا رَبُّنَا حَقًّا فَهَلْ وَجَدْتُّمْ مَّا وَعَدَ رَبُّكُمْ حَقًّا ۗقَالُوْا نَعَمْۚ فَاَذَّنَ مُؤَذِّنٌۢ بَيْنَهُمْ اَنْ لَّعْنَةُ اللّٰهِ عَلَى الظّٰلِمِيْنَ Para penghuni surga menyeru para penghuni neraka, “Sungguh, kami telah mendapati sesuatu (surga) yang dijanjikan Tuhan kepada kami itu benar. Apakah kamu telah mendapati (pula) sesuatu (azab) yang dijanjikan Tuhan kepadamu itu benar?” Mereka menjawab, “Benar.” Kemudian penyeru (malaikat) mengumumkan di antara mereka, “Laknat Allah bagi orang-orang yang zalim. Ayat ini menggambarkan dialog di akhirat antara penghuni surga dan neraka. Penghuni surga bersaksi bahwa janji Allah adalah kebenaran mutlak, sementara penghuni neraka mengakuinya dengan penuh penyesalan saat menerima azab atas kezaliman mereka. Sedangkan penghuni neraka mengajukan permintaan kepada penghuni surga agar diberikan sedikit air atau rezeki yang mereka miliki.. Mereka berseru meminta belas kasihan dalam kondisi haus dan lapar yang sangat menyiksa. Mereka memohon agar dituangkan sedikit air atau diberikan rezeki apa saja yang ada di dalam surga. Peristiwa ini menggambarkan keputusasaan dan siksaan berat yang dialami oleh orang-orang yang ingkar. Namun permintaan ini ditolak oleh penghuni surga karena Allah telah mengharamkannya bagi orang-orang kafir sebagaimana peringatan Allah dalam al-Qur’an surat al-A’raf 7 [50]. وَنَادٰٓى اَصْحٰبُ النَّارِ اَصْحٰبَ الْجَنَّةِ اَنْ اَفِيْضُوْا عَلَيْنَا مِنَ الْمَاۤءِ اَوْ مِمَّا رَزَقَكُمُ اللّٰهُ ۗقَالُوْٓا اِنَّ اللّٰهَ حَرَّمَهُمَا عَلَى الْكٰفِرِيْنَۙ Dan penghuni neraka menyeru penghuni surga: 'Limpahkanlah kepada kami sedikit air atau makanan yang telah direzekikan Allah kepadamu.' Mereka menjawab: 'Sesungguhnya Allah telah mengharamkan keduanya itu atas orang-orang kafir. Penghuni surga (golongan kanan) secara spesifik bertanya kepada para pendosa yang boleh jadi ketika di dunia mereka saling mengenal, mengenai alasan mereka terlempar ke dalam neraka Saqar dengan pertanyaan; مَا سَلَكَكُمْ فِيْ سَقَرَ "Apakah yang memasukkan kamu ke dalam (neraka) Saqar?" Ternyata karakter neraka Saqar Saqar digambarkan sebagai api yang membakar dan menghanguskan kulit manusia. Siksaan ini menghancurkan tubuh tanpa menyisakan daging atau tulang, namun kemudian tubuh tersebut dikembalikan utuh seperti semula untuk dibakar kembali secara terus-menerus. Yang menyebab kami masuk neraka saqar; 1. Karena dahulu ketika di dunia kami tidak termasuk orang yang melaksanakan sholat قَالُوْا لَمْ نَكُ مِنَ الْمُصَلِّيْنَۙ Shalat bukan sekadar kewajiban rutinitas. Lebih dalam, shalat adalah kebutuhan jiwa dan akal, Dikatakan sebagai kebutuhan jiwa, karena sebagai manusia, kita pasti memiliki rasa cemas dan harapan. Shalat menjadi sarana komunikasi di mana jiwa kita bersandar kepada Sang Pencipta, memohon ketenangan hidup. Sedangkan sebagai kebutuhan akal, bahwa pemahaman akan shalat memberikan ketenangan dan kemantapan. Ibadah ini mengajarkan manusia untuk tunduk pada hukum alam yang digariskan oleh satu Pengendali, yakni Allah SWT. Shalat juga sebagai wujud penghormatan mendalam kepada Allah, serta sarana pembentuk karakter yang mencegah pelakunya dari perbuatan keji dan mungkar. 2. Kami tidak memberi makan orang miskin وَلَمْ نَكُ نُطْعِمُ الْمِسْكِيْنَۙ Al-Qur'an sering mengaitkan kecaman terhadap pendusta agama dengan keengganan memberi makan orang miskin. Menyantuni orang yang kekurangan juga menjadi fondasi penting dalam kemanusiaan sebelum beranjak pada program pemberdayaan jangka Panjang. amalan ini juga dapat dikategorikan sebagai sedekah jariyah apabila dilakukan dengan cara mewakafkan harta tertentu yang keuntungannya digunakan secara rutin untuk memberi makan fakir miskin. Keutamaan memberi makan fakir miskin diantaranya; menjadi sebab utama masuk surga dan menjadi sifat para penghuni surga, kemudian dapat memadamkan dosa seperti air memadamkan api. Selanjutnya mendapat naungan di hari kiamat dan terhindar dari siksa, dan mendapatkan cinta dari Allah karena menyayangi makhluk di bumi membuat Allah juga menyayangi hamba-Nya 3. Kami biasa berbicara bohong bersama orang-orang yang mendustakan وَكُنَّا نَخُوْضُ مَعَ الْخَاۤىِٕضِيْنَۙ Berbohong adalah perbuatan dosa yang dilarang keras. Berbicara atau mendukung kebohongan bersama orang yang mendustakan kebenaran hanya akan menyeret seseorang pada kesesatan. Dalam Islam, hal ini termasuk perbuatan yang dapat mengeraskan hati dan merusak integritas moral. 4. Kami mendustakan hari pembalasan hingga kematian datang وَكُنَّا نُكَذِّبُ بِيَوْمِ الدِّيْنِۙ Mendustakan hari pembalasan (Yaum al-diin ) hingga datang kematian merujuk pada sikap menolak atau mengingkari adanya kehidupan setelah mati. ini adalah ciri orang yang melampau batas dan meremehkan syariat Allah. mendustakan hari pembalasan adalah bentuk pembangkangan manusia terhadap kebenaran. Hal ini menunjukkan penolakan terhadap keadilan mutlak Allah, sehingga setiap perbuatan di dunia tidak lagi dipertimbangkan memiliki konsekuensi. Prof. Quraish sangat menekankan urgensi mengimani Hari Pembalasan, yaitu meyakini bahwa pada fase tersebut manusia akan menerima ganjaran seadil-adilnya atas apa yang mereka lakukan di dunia. Wallahu a’lam bi al-shawaab (Karawang, Ahad 28 Juni 2026)
Share:

Hijrah Di Era Modern

Hijrah Di Era Modern Oleh: Masykur H.Mansyur (FKUB Karawang) Alhamdulillah Saat ini kita sudah berada di tahun 1448 Hijriyah.. Sebagian umat Islam menjadikan Tahun Baru Hijrah sebagai momentum untuk melakukan refleksi (perenungan), kontemplasi (muhasabah), bahkan mungkin menetapkan sejumlah resolusi (tuntutan) baru untuk masa depan hidupnya agar lebih baik. Hijrah sendiri merupakan peristiwa historis Rasulullah saw dan para pengikutnya untuk berpindah ke luar Mekkah karena adanya ancaman, resistensi, intimidasi, dan bahkan persekusi yang dilakukan masyarakat Mekkah terhadap Nabi Muhammad saw dan pengikutnya. Hijrah dalam sejarah Islam biasanya dihubungkan dengan kepindahan Nabi Muhammad saw dari Mekah ke Madinah. Dalam hubungan ini, hujrah berarti berkorban karena Allah, yaitu memutuskan hubungan dengan yang paling dekat dan dicintai demi tegaknya kebenaran dengan jalan berpindah dari kampung halaman ke negeri lain. Di era modern ini, makna hijrah bagi umat Muslim memiliki dimensi yang lebih luas dan mendalam. Hijrah tidak hanya diartikan sebagai perpindahan fisik dari satu tempat ke tempat lain, seperti yang dilakukan Nabi Muhammad saw dan para sahabatnya dari Makkah ke Madinah. Namun, hijrah dalam bentuk lain tetap relevan dan diperlukan hingga kini. Hijrah ini mencakup perpindahan dari segala sesuatu yang dilarang Allah menuju yang diridhai-Nya, dari maksiat kepada ketaatan, dan dari kejahatan menuju kebaikan. Atau dengan kata lain hijrah adalah panduan hidup untuk menghadapi dunia modern yang sering kali menjauh dari nilai-nilai agama Hijrah diibaratkan sebagai cahaya yang memadamkan kegelapan, baik kegelapan jiwa, kepercayaan, maupun masyarakat yang penuh kejahatan. Hijrah adalah usaha untuk menjauhkan diri dari lingkungan yang diwarnai kebodohan dan kekejaman, menuju masyarakat yang berlandaskan kebenaran dan keadilan. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam firman Allah, Q.S al-Baqarah ayat 218 اِنَّ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَالَّذِيْنَ هَاجَرُوْا وَجَاهَدُوْا فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ ۙ اُولٰۤىِٕكَ يَرْجُوْنَ رَحْمَتَ اللّٰهِ ۗوَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman, dan orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itulah yang mengharapkan rahmat Allah. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” Pro. Muhammad Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Misbah, Juz 1, halaman 465, menyebutkan bahwa orang-orang yang beriman dengan iman yang benar, serta orang-orang yang berhijrah, yaitu mereka yang meninggalkan satu tempat atau keadaan karena ketidaksenangan dan menuju ke tempat atau keadaan lain demi meraih yang lebih baik, adalah orang-orang yang berjuang di jalan Allah. Berhijrah dalam konteks ini bukan hanya berarti berpindah tempat secara fisik, tetapi juga meninggalkan keadaan yang tidak disukai untuk mendapatkan yang lebih baik. Hijrah era kini lebih menekankan pada transformasi diri dan mental. Hijrah ini lebih menekankan pada perubahan mental dan spiritual untuk menjadi pribadi yang lebih baik, bukan berarti mengasingkan diri dari masyarakat. Seorang Muslim tetap harus bergaul dengan orang lain namun tetap menjaga diri dari perbuatan buruk dan berusaha memperbaiki kerusakan di sekitarnya. Dalam sebuah hadits Rasulullah saw bersabda: الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ Artinya: "Seorang Muslim adalah orang yang sanggup menjamin keselamatan orang-orang Muslim lainnya dari gangguan lisan dan tangannya." (HR. Bukhari dan Muslim). Dalam menghadapi tantangan zaman modern, hijrah dikategorikan menjadi beberapa bentuk utama untuk menjaga nilai-nilai keislaman dan mentalitas di antaranya sebagai berikut; 1. Hijrah Mental (memisahkan diri dari kebiasaan buruk) Dalam Islam, memisahkan diri atau menjauhi kebiasaan buruk adalah bagian dari proses muhasabah (koreksi diri) dan usaha menyempurnakan taubat. Memutus kebiasaan buruk perlu diiringi dengan menggantinya dengan kebiasaan baik agar tidak kembali terulang. Dalam kaitan ini misalnya, menjaga hati dan pikiran agar tidak ikut-ikutan melakukan hal buruk. Kita harus berani berkata "tidak" pada korupsi, gaya hidup pamer, dan kecurangan, meskipun hal-hal itu dianggap biasa oleh orang lain. Dalam al-Qur’an surat Hud [114] وَاَقِمِ الصَّلٰوةَ طَرَفَيِ النَّهَارِ وَزُلَفًا مِّنَ الَّيْلِ ۗاِنَّ الْحَسَنٰتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّاٰتِۗ ذٰلِكَ ذِكْرٰى لِلذّٰكِرِيْنَ Artinya; Dirikanlah salat pada kedua ujung hari (pagi dan petang) dan pada bagian-bagian malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan baik menghapus kesalahan-kesalahan. Itu adalah peringatan bagi orang-orang yang selalu mengingat (Allah). 2. Hijrah Sosial (membangun kelompok hidup yang lebih baik) Adalah proses perpindahan dari kondisi atau tatanan masyarakat yang stagnan, penuh ketidakadilan, atau destruktif menuju tatanan kehidupan yang lebih maju, adil, dan harmonis. Konsep ini memperluas makna hijrah dari sekadar perubahan spiritual pribadi menjadi transformasi perilaku bermasyarakat. Dengan cara mengembangkan keharmonisan antar sesama dengan mengesampingkan ego kelompok. Berperan aktif sebagai agen perubahan (katalis) dalam memecahkan masalah kemiskinan, pendidikan, dan membangun budaya tolong-menolong dalam komunitas. al-Qur’an surat al-Maidah [2] …وَتَعَاوَنُوْا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوٰىۖ وَلَا تَعَاوَنُوْا عَلَى الْاِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۖوَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗ اِنَّ اللّٰهَ شَدِيْدُ الْعِقَابِ Artinya; …..Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Dan takutlah kepada Allah, sesunggauhnya Allah Maha Pedih siksaan-Nya 3. Hijrah Strategis (menggunakan teknologi untuk berda’wah) Saat sekarang, perjuangan dakwah dilakukan lewat dunia digital dan media sosial. Diantaranya menggunakan internet untuk menyebarkan pesan damai dan kebaikan. Membuat konten video, tulisan, atau poster yang menarik tentang Islam. Melawan berita bohong dan sifat saling ejek di media sosial dengan bahasa yang santun, dengan memverifikasi kebenaran sebuah informasi sebelum mempercayai atau menyebarkannya. Hal ini sesuai dengan al-Qur’an surat al-Isra’ 17 [36] وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهٖ عِلْمٌ ۗاِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ اُولٰۤىِٕكَ كَانَ عَنْهُ مَسْـُٔوْلًا Artinya; Janganlah engkau mengikuti sesuatu yang tidak kauketahui. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya. 4. Hijrah Profesional (menjadi teladan dalam pekerjaan) Yang menjadi teladan bukan hanya lewat ucapan, tetapi lewat tindakan nyata. Bekerja secara professional diantaranya menjadi orang yang jujur, disiplin, dan rajin. Apapun profesi kita, apapun yang kita katakana, maka harus terealisasi dalam Tindakan. Allaf berfirman dalam al-Qur’an surat al-Shaff [3] كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللّٰهِ اَنْ تَقُوْلُوْا مَا لَا تَفْعَلُوْنَ Sangat besarlah kemurkaan di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan. Mari kita jadikan momentum hijrah sebagai berpindah secara fisik dan mental serta bertaubat menuju kebaikan secara konsisten dan ikhlas tanpa pamrih. Wallahu a’lam bi al-shawaab (Karawang, 20 Juni 2026/4 Muharram 1448 H
Share:

Khutbah Jum’at Taqwa Vertikal dan Horizontal

Khutbah Jum’at Taqwa Vertikal dan Horizontal Oleh Masykur H Mansyur (Ketua FKUB Kabupaten Karawang) Kata taqwa terambil dari kata وقي – يقي (waqaa-yaqii) yang semula berarti menampik sesuatu dengan sesuatu yang lain, atau dengan kata lain berlindung. Kalimat betaqwa kepada Allah dipahami dalam arti berlindung/melindungi diri dari ancaman siksa Allah dengan mengikuti perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Upaya mengikuti sekaligus menghindari itulah yang berfungsi melindungi. Sehingga taqwa berarti segala macam ancaman dan siksa Allah dapat lahir akibat pelanggaran terhadap ketentuan-ketentuan-Nya berkaitan dengan hukum-hukum yang berlaku di alam raya dan masyarakat dalam kehidupan dunia. Sedangkan pelanggaran terhadap hukum-hukum syari’at-Nya, misalnya mengabaikan shalat, puasa dan lain-lain. Pelanggaran menyangkut hal ini akan dijatuhkan pada hari kemudian. Kalaupun di dunia terasa ada yang dianggap sebagai sanksi, maka itu baru sekedar panjar atau persekot. Dengan demikian bahwa taqwa adalah patuh melaksanakan secara tulus perintah-perintah-Nya baik yang berkaitan dengan kehidupan dunia yang tercermin dalam hukum-hukum-Nya yang berlaku di alam raya di tengah masyarakat, sekaligus patuh juga secara tulus melaksanakan ketetapan dan anjuran-anjuran-Nya yang berkaitan dengan syari’at agama. Kita diperintahkan agar bertaqwa kepada Allah dengan haqqa tuqaatihi, sebenar-benarnya taqwa kepada-Nya. Perhatikan al-Qur’an surat ali ‘Imran 3 [102] يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ Maka wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa, dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim, berserah diri kepada Allah. Para sahabat Nabi saw memahami kalimat ini dalam arti menaati Allah dan tidak sekalipun durhaka, mengingat-Nya dan tidak sesaatpun lupa, serta mensyukuri nikmat-Nya, dan tidak satupun yang diingkari. Kalimat haqqa tuqaatihi memberi kesan bahwa ketaqwaan yang dituntut itu adalah yang sesuai dengan kebesaran, keagungan dan anugerah Allah SWT. Sikap taqwa lahir dari adanya kesadaran moral transendental. Manusia yang bertaqwa adalah manusia yang memiliki kepekaan moral yang teramat tajam untuk mengerjakan atau tidak mengerjakan sesutu perbuatan. Dia memiliki mata batin yang menembus jauh untuk melihat yang baik itu baik dan yang buruk itu buruk. Dengan demikian tingkah lakunya sehari-hari mencerminkan perilaku mulia dan berusaha menghindari hal-hal yang menjadikan Allah marah dan murka. Itulah sebabnya kita diperintahkan untuk bertaqwa kepada Allah di mana saja berada. Hadits dari Imam Tirmidzi Ayat Ali ‘Imran di atas dijelaskan maknanya dalam al-Taghabun 64 [16] فَاتَّقُوا اللّٰهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ … Maka bertaqwalah kepada Allah menurut kesanggupan kamu. Prof Muhammad Quraish Shihab menjelaskan pada ayat Ali ‘Imran menjelaskan puncak ketaqwaan, sedangkan pada ayat al-Taghabun berpesan agar tidak meninggalkan taqwa sedikitpun. Karena pasti setiap orang memiliki kemampuan untuk bertaqwa dan tentu saja kemampuan itu bertingkat-tingkat. Yang penting bertaqwalah sepanjang kemampuan, sehingga jika puncak ketaqwaan dapat diraih, maka itulah yang didambakan. Tetapi jika tidak, maka Allah tidak membebani seseorang melebihi kemampuannya. Artinya ayat Ali ‘Imran semua dianjurkan untuk berjalan pada jalan taqwa. Semua diperintahkan berupaya menuju puncak. Dan masing-masing selama berada di jalan itu akan memperoleh anugerah sesuai hasil usahanya masing-masing. Ayat Ali ‘Imran adalah arah yang dituju, sedangkan ayat al-Taghabun adalah jalan yang ditempuh menuju arah itu. Semua harus mengarah ke sana, dan semua harus menempuh jalan itu. Dengan demikian kedua ayat tersebut tidak bertentangan bahkan saling melengkapi. Ada juga riwayat yang dinisbatkan kepada Nabi saw yang menyatakan ‘apa yang kuperntahkan kepada kamu maka lakukan sesuai kemampuan kamu, tetapi apa yang kularang maka tinggalkanlah (H.R. Bukhari dan Muslim). Sesorang disebut baik taqwanya kepada Allah, tidak hanya dinilai bagus dengan ibadah ritualnya, misalnya shalatnya lima waktu, itu bagus karena bagian dari taqwa, karena shalat dibuka dengan kalimat taqwa, perhatikan surat al-Baqarah 2 [2] ذٰلِكَ الْكِتٰبُ لَا رَيْبَ ۛ فِيْهِ ۛ هُدًى لِّلْمُتَّقِيْنَۙ Kitab (Al-Qur'an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa. Perhatikan oleh kita siapa yang disebut dengan orang yang taqwa disini. Orang taqwa di sini adalah الَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيْمُوْنَ الصَّلٰوةَ ۙ (Yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib, yang mendirikan salat, Rajin puasanya juga bagus karena puasa juga ditutup dengan kalimat taqwa laalakum tataquun Hajinya bagus sempurna itu bagus karena hajipun bagian dari taqwa 2 [197] وَتَزَوَّدُوْا فَاِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوٰىۖ Berbekallah karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa Tapi ternyata kata al-Qur’an, taqwa bukan hanya bagus dalam ibadah riual, tapi taqwa juga baik dalam konteks ibadah sosial. Perhatikan surat Ali-Imran 133-134 وَسَارِعُوْٓا اِلٰى مَغْفِرَةٍ مِّنْ رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمٰوٰتُ وَالْاَرْضُۙ اُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِيْنَۙ Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa, Bersegeralah kalian mengevaluasi diri, muhasabah dan mengharapkan mendapatkan karunia dari Allah ditempatkan di surga yang luasnya seluas langit dan bumi, untuk siapa yaitu untuk orang-orang yang bertaqwa. Siapa mereka yang dimaksudkan dalam ayat ini yaitu dalam ayat 134 الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ فِى السَّرَّۤاءِ وَالضَّرَّۤاءِ وَالْكٰظِمِيْنَ الْغَيْظَ وَالْعَافِيْنَ عَنِ النَّاسِۗ وَاللّٰهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَۚ (yaitu) orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan, Yaitu orang-orang yang mampu berbagi saling perhatian sanggup menahan amarah diprofokasi dia tenang, merespon, dia melihat menyambung silaturahmi alih-alih kemudian menguatkan perpecahan, yang memilih untuk memaafkan mencari solusi yang terbaik alih-alih memperdalam, memperkeruh suasana, sungguh Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik. Wallahu a’lam bi al-shawaab. (Karawang Kamis, 11-6-2026).
Share:

Khutbah Jum’at Memperingati Hari Lingkungan Hidup se-Dunia

Merawat Bumi Tanggung Jawab Bersama Oleh Masykur H. Mansyur (Ketua FKUB Karawang) Adalah kesadaran nyata bagi kita sebagai anak bangsa menjaga dan mengelola kelestarian lingkungan adalah kewajiban kolektif untuk mencegah kerusakan alam. Bahkan menjaga lingkungan adalah wujud nyata ibadah dan spiritualitas. Kesadaran bersama ini sangat penting untuk mitigasi bencana, perubahan iklim, dan memastikan ketersediaan bumi sebagai warisan bagi generasi mendatang. Kesadaran ini diwujudkan dengan mengubah cara pandang dari mengeksploitasi alam menjadi bermitra dengannya. Perlu di ingat bahwa alam dan segala isinya, malaiakat, manusia dan mahluk lainnya seperti; bumi, langit, gunung, hujan, angin, laut, batu, pohon hewan dan sebagainya bukanlah benda mati seperti yang kita saksikan. Melainkan ia hidup dalam kesadaran ke-Tuhan-an, yaitu bertasbih dan berdzikir memulikan Sang Pencipta. Sebagaimana firman Allah dalam al-Qur’an surat al-Isra’ 17 [44] تُسَبِّحُ لَهُ السَّمٰوٰتُ السَّبْعُ وَالْاَرْضُ وَمَنْ فِيْهِنَّۗ وَاِنْ مِّنْ شَيْءٍ اِلَّا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهٖ وَلٰكِنْ لَّا تَفْقَهُوْنَ تَسْبِيْحَهُمْۗ اِنَّهٗ كَانَ حَلِيْمًا غَفُوْرًا Langit yang tujuh, bumi, dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Tidak ada sesuatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu tidak mengerti tasbih mereka. Sungguh, Dia Maha Penyantun lagi Maha Pengampun. Bumi dan siisinya adalah amanah Ilahi yang harus dirawat oleh manusia sebagai khalifah, bukan untuk dieksploitasi dan dirusak. Kerusakan akibat keserakahan manusia pada akhirnya akan berbalik mengancam kelangsungan hidup manusia itu sendiri. Kerusakan lingkungan dan perubahan iklim ekstrem ini menunjukkan krisis ekologis yang tidak hanya berdampak pada alam tapi juga pada manusia. Al Qur’an sebagai sumber utama ajaran Islam tentunya memberikan perhatian besar terhadap persoalan ini dan larangan berbuat kerusakan di muka bumi, perhatikan al-Qur’an surat al-A’raf 7 [56] وَلَا تُفْسِدُوْا فِى الْاَرْضِ بَعْدَ اِصْلَاحِهَا وَادْعُوْهُ خَوْفًا وَّطَمَعًاۗ اِنَّ رَحْمَتَ اللّٰهِ قَرِيْبٌ مِّنَ الْمُحْسِنِيْنَ Janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah diatur dengan baik. Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat dengan orang-orang yang berbuat baik. Dengan demikian, dalam al-Qur’an.Surat. Al-A’raf ayat 56 tidak hanya berfungsi sebagai peringatan moral semata , tetapi juga menekankan pada tanggung jawab ekologis dan sosial agar manusia mempunyai kewajiban merawat bumi agar keberkahan alam dan kehidupan tetap terjaga dan terpelihara dengan baik. Kerusakan alam baik di darat maupun di lautan bukan semata-mata terjadi secara alamiah, tapi bisa juga terjadi akibat perbuatan manusia. Fenomena deforestasi, banjir, tanah longsor, pencemaran sungai, hingga krisis iklim menjadi bukti nyata bahwa eksploitasi alam yang dilakukan manusia telah membawa dampak besar terhadap keseimbangan ekosistem. Al-Qur’an surat al-Rum 30 [41] ظَهَرَ الْفَسَادُ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ اَيْدِى النَّاسِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِيْ عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia. Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). Prof. Muhammad Quraish Shihab memberikan pendekatan yang lebih kontekstual dengan menafsirkan ayat ini dalam kaitannya dengan isu-isu lingkungan. Kerusakan di darat dan laut dipahami sebagai dampak nyata dari eksploitasi sumber daya alam, pencemaran, dan aktivitas manusia yang merusak ekosistem. Penafsiran ini menekankan bahwa al-Qur'an tidak hanya memberikan peringatan moral tetapi juga panduan etis bagi umat manusia dalam menjaga keseimbangan alam, menjadikannya relevan dalam menghadapi krisis ekologis global saat ini. Lebih lanjut Quraish Shihab mengatakan ayat tersebut mengandung makna bahwa Allah telah menciptakan bumi dengan sistem yang stabil dan penuh keseimbangan. Ketika manusia lalai menjaga keharmonisan itu melalui praktik eksploitasi alam seperti penebangan hutan, pembakaran lahan, polusi udara, dan peningkatan emisi karbon maka alam akan bereaksi. Reaksi alam inilah yang tampak dalam bentuk perubahan iklim, pemanasan global, serta meningkatnya intensitas bencana alam yang bersifat ekstrem. Lebih keras lagi Yusuf Qardlawi menjelaskan bahwa kerusakan alam mencerminkan pengkhianatan manusia terhadap amanah kekhalifahan yang diberikan Allah. Peristiwa-peristiwa seperti banjir, kekeringan, dan cuaca ekstrem tidak hanya merupakan gejala ilmiah dari perubahan iklim, melainkan juga teguran spiritual agar manusia kembali menata kehidupannya selaras dengan nilai-nilai ilahiah dan keseimbangan ekosistem. Pertanyaannya buat kita bagaimana aksi nyata sebaagai wujud tanggung jawab untuk merawat bumi ini. Menjaga dan merawat bumi bisa dimulai dari hal kecil yang berdampak masif, misalnya; 1. Kelola sampah dengan baik Islam menekankan bahwa kebersihan adalah sebagian dari iman dan menjaga alam adalah kewajiban manusia sebagai khalifah. Islam melarang keras membuang sampah sembarangan dan sikap mubazir. Mengolah sampah tidak hanya menyelamatkan lingkungan dari kerusakan, tetapi juga bernilai pahala. Sebab kebersihan adalah bagian dari iman. Secara praktis memilih sampah berdasarkan bahan materialnya, yaitu organik, anorganik, serta bahan berbahaya dan beracun agar mudah diolah. 2. Hemat penggunaan energi dan air Umat muslim merupakan kelompok yang paling banyak menggunakan air. Hampir dalam semua hal, aktivitas, maupun ibadah. Namun demikian Rasul mengajarkan kita untuk hemat air. Mengapa? karena hemat air berkaitan dengan kehidupan seluruh makhluk Allah, selain itu, hal ini juga salah satu upaya demi jaga bumi. Dan yang lebih penting lagi bahwa air adalah sumber kehidupan sebagaimana firman Allah dalam surat al-Anbiya’ 30 وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ….. ….. dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup 3. Penghijauan dan konservasi Menanam pohon dan menjaga kelestarian adalah bentuk syukur dan ibadah. Menanam pohon merupakan sedekah jariyah yang mengalir pahalanya sebagaimana hadits yang artinya; Tidaklah seorang Muslim menanam pohon atau menanam tanaman, lalu burung, manusia, atau hewan memakannya, kecuali itu menjadi sedekah baginya." (HR. Bukhari dan Muslim). 4. Partisipasi dalam advokasi lingkungan Partisipasi dan advokasi merupakan dua pilar penting dalam menjaga kelestarian alam. Partisipasi berarti keterlibatan langsung masyarakat dalam menjaga lingkungan, sedangkan advokasi adalah upaya sistematis untuk membela hak atas lingkungan yang sehat dan mendorong perubahan kebijakan public. Wallahu a’lam bi al-shawaab. Karawang, 4 Juni 2026
Share:

Perintah Shalat dan Kurban

Perintah Sholat dan Kurban Oleh Masykur H. Mansyur (FKUB Karawang/FAI Unsika Karawang) Shalat dan kurban (sebagaimana tersirat dalam Surah Al-Kautsar) adalah dua bentuk ibadah yang saling melengkapi. Shalat merupakan bentuk hubungan vertikal untuk menyucikan jiwa. Shalat yang dilakukan dengan benar dan khusyuk akan membentuk karakter moral seseorang. Karakter ini harus diwujudkan dalam sikap saling menolong dan berkorban untuk kepentingan bersama. Sedangkan kurban adalah bukti cinta kasih Allah kepada hamba-Nya, karena ibadah kurban juga merupakan merefleksikan rasa kemanusiaan. Dimana Allah mengganti perintah pengorbanan anak pada zaman Nabi Ibrahim dengan seekor domba sebagai bukti bahwa Allah sangat mencintai dan menghormati manusia, bukan untuk mengorbankan nyawa manusia. Disamping itu juga, kurban adalah sebagai wujud aktualisasi kepedulian sosial, kemanusiaan, dan spiritualitas secara horizontal. Jadi shalat dan kurban adalah satu kesatuan. Ibadah vertikal, dalam hal ini shalat akan melahirkan empati sosial yang sempurna jika disertai dengan ibadah horizontal seperti berkurban. Perhatikan surat al-An’am 6 [162] قُلْ اِنَّ صَلَاتِيْ وَنُسُكِيْ وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِيْ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَۙ Katakanlah sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Menurut Ibnu Katsir (Ringkas) / Fathul Karim Mukhtashar Tafsir al-Qur'an al-'Adzhim, karya Syaikh Prof. Dr. Hikmat bin Basyir bin Yasin, Professor Fakultas al-Qur'an Universitas Islam Madinah. Menjelaskan bahwa Allah SWT memerintahkan untuk memberitahu orang-orang musyrik yang menyembah selain Allah dan menyembelih hewan dengan menyebut nama selain Allah, bahwa dia berbeda dengan mereka dalam hal itu. Sesungguhnya shalat dan ibadahnya hanya untuk Allah saja, dan tidak ada sekutu bagi-Nya. Jadi yang dimaksud dalam ayat tersebut adalah bukan hanya shalat dan sembelihan biasa, tapi keseluruhan hidup harus menjadi wujud syukur atas nikmat itu. Hal ini senada sebagaiamana firman-Nya dalam surat al-Kautsar 108 [2], yaitu: فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْۗ (Maka dirikanlah salat karena Tuhanmu, dan berkorbanlah yaitu ikhlaskanlah shalat dan kurbanmu hanya untuk-Nya. Sesungguhnya orang-orang musyrik itu menyembah berhala dan menyembelih untuk berhala. Jadi Allah memerintahkan kepada beliau untuk berbeda dengan mereka dan menyimpang dari apa yang mereka lakukan, serta menghadapkan diri dengan maksud dan niat yang tulus ikhlas kepada Allah SWT. Maka laksanakanlah sholat karena Tuhanmu dan berkurbanlah Ada yang berpendapat bahwa yang dimaksud dengan shalat adalah perintah melaksanakan shalat lima waktu. Sementara pendapat lain dari beberapa murid Ibn Abbas memahami perintah shalat, tapi shalat Idul Adha. Menurut tafsir Jalalain yang dimaksud dengan shalat adalah shalat hari raya kurban. Wanhar dalam ayat tersebut dan berkurbanlah untuk manasik hajimu. Ada pula yang mengartikan nusuk pada ayat tersebut dengan sembelihanku. Disebutkan shalat dan kurban adalah karena keutamaan kedua ibadah ini, di mana hal itu menunjukkan cinta kepada Allah SWT, mengikhlaskan ibadah kepada-Nya, dan menunjukkan pendekatan diri kepada Allah baik dengan hati, lisan, anggota badan maupun dengan harta. Sholat merupakan tiang agama yang berfungsi sebagai sarana komunikasi langsung dengan Allah SWT. Ibadah ini membawa dampak luar biasa, mulai dari memberikan ketenangan batin, menjadi benteng dari perbuatan keji dan mungkar, hingga meningkatkan kesehatan fisik melalui setiap gerakannya Setiap orang yang melaksanakan shalat, maka ia akan menjadikan shalat sebagai momentum relaksasi untuk mengadukan segala masalah dan menenangkan pikiran dari tekanan hidup. Orang yang tekun melaksanakan shalat, akan senantiasa menjaga moral dan perilaku agar tetap berada di jalan yang benar sesuai tuntunan agama. Dan dengan shalat dapat menjadi penggugur dosa-dosa kecil, asalkan pelakunya menjauhi dosa-dosa besar dan hasilnya akan mendatangkan limpahan pahala yang besar. Sebagaimana sabda Rasulullah saw الصَّلَاةُ الْخَمْسُ وَالْجُمْعَةُ إِلَى الْجُمْعَةِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُنَّ مَا لَمْ تُغْشَ الْكَبَائِرُ Shalat lima waktu dan shalat Jumat ke Jumat berikutnya adalah penghapus untuk dosa di antaranya selama tidak melakukan dosa besar. Mengingat shalat sebagai kewajiban yang harus dijalankan dengan penuh kesadaran dan khusyu’. Maka setiap kali melaksanakan shalat, kita seharusnya merasakan betapa besar karunia Allah yang telah memberikan kita sarana untuk menghapus dosa-dosa kita. Sedangkan perintah kurban, bahwa setiap umat telah disyari’atkan penyembilihan hewan kurban sebagaimana firman Allah dalam surat al-Hajj 22 [34] وَلِكُلِّ اُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنْسَكًا لِّيَذْكُرُوا اسْمَ اللّٰهِ عَلٰى مَا رَزَقَهُمْ مِّنْۢ بَهِيْمَةِ الْاَنْعَامِۗ فَاِلٰهُكُمْ اِلٰهٌ وَّاحِدٌ فَلَهٗٓ اَسْلِمُوْاۗ وَبَشِّرِ الْمُخْبِتِيْنَ ۙ Bagi setiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (kurban) agar mereka menyebut nama Allah atas binatang ternak yang dianugerahkan-Nya kepada mereka. Tuhanmu ialah Tuhan Yang Maha Esa. Maka, berserahdirilah kepada-Nya. Sampaikanlah (Nabi Muhammad) kabar gembira kepada orang-orang yang rendah hati lagi taat (kepada Allah). Motif utama pekurban seyogianya bukan perkara duniawi seperti menarik pujian atau simpati. Melainkan, sudah semestinya kurban yang ditunaikan murni ditujukan untuk-Nya. Sebab, hakikat dan esensi berkurban ialah tercapainya ketakwaan dalam diri seseorang. “Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya.” (QS. al-Hajj [22]: 37). Relevansi ibadah sholat dan kurban sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits dari Abu Hurairah yang diriwayatkan Imam Ahmad dan Ibnu Majjah مَنْ كَانَ لهُ سَعَة وَلمْ يَضَحْ فَلا يَقْربَنَّ مُصَلَّانَا Barangsiapa yang mempunyai kemampuan, tetapi ia tidak berkurban maka janganlah ia mendekati (menghampiri) tempat shalat kami, Berkurban memiliki pahala dan keutamaan yang besar. Karena itu, tuntunan berkurban disandingkan dengan perintah shalat seperti tertuang di surah al-Kautsar ayat 2. Sebuah hadis menyebut pula, berkurban sangat dicintai Allah SWT. Dan, hewan yang dikurbankan kelak akan menjadi saksi dan bukti ketulusan di hadapan-Nya. Sholat dan kurban memiliki relevansi yang sangat kuat dalam Islam, di mana keduanya diposisikan sebagai cerminan kesalehan spiritual (vertikal) dan kesalehan sosial (horizontal). Ibadah kurban selalu dikaitkan dengan pelaksanaan sholat, baik dari segi waktu pelaksanaannya maupun sebagai bentuk rasa syukur atas nikmat Allah. Penggandengan perintah sholat dan kurban, keduanya disandingkan sebagai wujud rasa syukur (terima kasih) hamba atas limpahan nikmat dari Allah SWT. Namun ada semacam ancaman tegas bagi kaum muslimin yang sudah mampu secara finansial tetapi enggan berbagi melalui kurban. Ulama menilai, orang yang meremehkan kepedulian sosial (kurban) dianggap tidak layak mengikuti syiar ibadah berjamaah seperti sholat bersama kaum muslimin lainnya Pada akhirnya antara ibadah shalat dan kurban mengandung dua poros kesalehan: Kesalehan spiritual yang diwujudkan dalam bentuk shalat: hubungan dengan Allah yang memperkuat hati dan membentuk akhlak. Kesalehan sosial yang diwujudkan dalam kurban: pengorbanan untuk memberi manfaat kepada sesama. Wallahu a’lam bi al-shawaab
Share:

Keteguhan dan Kepasrahan Nabi Ibrahim dan Ismail

Keteguhan dan Kepasrahan Nabi Ibrahim dan Ismail Oleh Masykur H. Mansyur (FKUB Kabupaten Karawang) Kita semua pernah mencintai suatu dengan sangat dalam, mungkin anak kita, mungkin pasangan kita, mungkin harta dan kekayaan kita, mungkin juga kekuasaan dan jabatan kita, mungkin impian kita, mungkin harapan kita, yang sudah kita kejar bertahun-tahun lamanya. Dan justru disanalah pertanyaan itu muncul diam-diam seberapa jauh kita rela untuk melepasknannya, kalaulah Allah memintanya untuk melepaskannya. Itulah yang Allah minta dari nabiyullah Ibrahim as. Padahal beliau puluhan tahun belum punya anak. Berdo’a dan berusaha dengan air mata yang panjang, lalu do’a dan usahanya terkabul ketika beliau berusia sudah senja. Allah karuniakan seorang anak yang diberi nama Ismail. Dan hebatnya lagi anak tersayang buah hati satu-satunya, Allah minta untuk menyembelihnya. Tapi dengan kesabarannya Nabi Ibrahim tidak pernah lari, mencari alasan, ataupun takut dalam mengghadapi ini semua, bahkan beliau berinteraksi dengan intens bersama Ismail dengan penuh kelembutan, kebijaksaan. Dan Ismail tanpa ragu menjawab dengan tenang penuh keikhlasan “Wahai ayahku lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu”. Satu kalimat yang penuh haru yang tidak hadir dalam semalam, tapi lahir dari pendidikan bertahun-tahun lamanya karena Ibrahim dan Ismail lebih memilih Allah di atas segalanya. Ini adalah ujian nyata yang berat, sulit dan sangat besar bagi keduanya sebgaimana firman-Nya dalam surat as-Shoffat 37 106 اِنَّ هٰذَا لَهُوَ الْبَلٰۤؤُا الْمُبِيْنُ Sesungguhnya perintah ini benar-benar suatu ujian yang nyata dari Allah untuk menguji keimanan dan ketaatan hamba terhadap perintah-Nya. Tidak ada cobaan yang lebih sulit dari itu. Allah SWT menguji Ibrahim dengan perintah menyembelih puteranya untuk membuktikan kebesaran ketakwaannya, belaiupun menjalankan dengan sabar dan mengharap pahala di sisi-Nya. Dan ketika sampai pada waktunya maka beliaupun melaksanakannya dan perhatikan dialog antara nabi Ibrahim dengan Ismail, as-Shoffat 37 [102]. فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يٰبُنَيَّ اِنِّيْٓ اَرٰى فِى الْمَنَامِ اَنِّيْٓ اَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرٰىۗ قَالَ يٰٓاَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُۖ سَتَجِدُنِيْٓ اِنْ شَاۤءَ اللّٰهُ مِنَ الصّٰبِرِيْنَ Maka ketika anak itu sampai pada usia sanggup berusaha bersamanya, Nabi Ibrahim berkata, “Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku dalam mimpiku itu diperintah oleh Allah untuk menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!” Dengan penuh kepasrahan kepada Allah dan ketaatan pada ayahnya, dia menjawab, “Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan oleh Allah kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar dalam melaksanakan perintah-Nya.” Kita sering berkata bahwa kita mencintai anak-anak kita, tapi cinta semacam apa yang sedang kita perjuangkan dan kita wariskan kepada mereka?. Rupanya kita sering sibuk dengan menyiapkan masa depan mereka dengan baik, menabung untuk biaya Pendidikan mereka, mencarikan pekerjaan untuk mereka, mencarikan jodoh terbaik buat mereka, bahkan kita berjuang semaksimal mungkin agar anak-anak kita tidak kekurangan apapun dari segi materi dan finasial. Tapi pertanyaannya apakah mereka pernah melihat kita orangtuanya menangis dalam sujud kita ?. apakah mereka tahu bahwa semua kesibukkan kita sebagai orang tua masih punya Allah sebagai tempat Kembali ?. Maka, tatkala sampai pada waktunnya, surat as-Shoffat 37 [103-104] فَلَمَّآ اَسْلَمَا وَتَلَّهٗ لِلْجَبِيْنِۚ وَنَادَيْنٰهُ اَنْ يّٰٓاِبْرٰهِيْمُ ۙ Maka ketika keduanya telah berserah diri dan dia (Ibrahim) membaringkan anaknya atas pelipisnya (untuk melaksanakan perintah Allah). Lalu Kami panggil dia wahai Ibrahim. Ketaatan Ismail bukanlah tiba-tiba, tapi dia adalah buah dari pendidikan orang tua yang tidak pernah mengajarkan dunia sebagai tujuan hidup. Dan hari ini kita mendapatkan pelajaran tentang cinta yang sesungguhnya, yaitu mengajarkan anak kita untuk cinta kepada Allah SWT, bukan sekedar cinta kepada dunia yang fana ini. Kalaulah hari ini Allah meminta kepada kita untuk melepaskan hal yang kita cintai, tentu kita sudah siap untuk menyerahkan kepada pemilik sesungguhnya yaitu Alllah SWT. Belajar dari kisah para nabi, umat Islam diharapkan mampu menjadikan qurban sebagai momentum untuk meningkatkan kualitas keimanan, keikhlas dalam berqurban bukan hanya berarti menyembelih hewan, tetapi juga rela mengorbankan waktu, tenaga, dan harta demi kemaslahatan bersama. Sikap ikhlas ini dapat diterapkan dalam berbagai aspek kehidupan, seperti membantu sesama, bersedekah, dan menjalankan tugas dengan penuh tanggung jawab. Perhatikan surat al-Hajj 22 [37] لَنْ يَّنَالَ اللّٰهَ لُحُوْمُهَا وَلَا دِمَاۤؤُهَا وَلٰكِنْ يَّنَالُهُ التَّقْوٰى مِنْكُمْۗ كَذٰلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللّٰهَ عَلٰى مَا هَدٰىكُمْ ۗ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِيْنَ Daging (hewan kurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaanmu. Demikianlah Dia menundukkannya untukmu agar kamu mengagungkan Allah atas petunjuk yang Dia berikan kepadamu. Berilah kabar gembira kepada orang-orang yang muhsin. Pada akhirnya, makna qurban dalam Islam adalah tentang perjalanan spiritual menuju ketakwaan yang lebih tinggi. Kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail mengajarkan bahwa keikhlasan dan ketaatan tanpa ragu dan kepasrahan secarra total terhadap perntah Allah akan selalu berbuah kebaikan, meskipun perintah tersebut sangat berat secara logika dan perasaan. Dengan memahami makna ini, ibadah qurban tidak hanya menjadi ritual tahunan, tetapi juga sarana untuk membentuk pribadi yang lebih sabar, peduli, dan penuh rasa syukur. Melalui semangat qurban, umat Islam diajak untuk terus menebarkan kebaikan dan menjadikan nilai pengorbanan sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Wallahu a’lam bi al-showaab
Share:

Malaikat Berganti Shift pada Waktu Ashar dan Subuh Oleh Masykur H. Mansyur (FKUB Karawang)

Rasulullah SAW menginformasikan bahwa para Malaikat berkumpul di waktu sholat Subuh dan waktu sholat Ashar. Karena di waktu Shubuh dan Ashar, para Malaikat berkumpul untuk berganti tugas, berganti shift di bumi. Lantas malaikat yang bermalam naik dan Tuhan mereka menanyai mereka (meskipun Allah paling tahu terhadap mereka), bagaimana kalian tinggalkan hamba-hamba-Ku?. Jawab para malaikat, "Kami tinggalkan mereka dalam keadaan sholat, dan kami datangi mereka juga dalam keadaan sholat." (HR Muslim) Waktu ashar merupakan waktu bertemunya malaikat yang bertugas di siang hari dengan malaikat yang akan bertugas di malam hari, maka lakukan shalat ashar karena ketika malaikat ditanya oleh Allah "sedang apa hamba-Ku?" Malaikat akan menjawab "sedang shalat". Waktu subuh merupakan waktu bertemunya malaikat yang bertugas di malam hari dengan malaikat yang akan bertugas di siang hari, maka lakukan shalat subuh karena ketika malaikat ditanya oleh Allah "sedang apa hamba-Ku?" Malaikat akan menjawab "sedang shalat". Dalam hadits dijelaskan عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ يَتَعَاقَبُونَ فِيكُمْ مَلَائِكَةٌ بِاللَّيْلِ وَمَلَائِكَةٌ بِالنَّهَار،ِ وَيَجْتَمِعُونَ فِي صَلَاةِ الْعَصْرِ وَصَلَاةِ الْفَجْرِ، ثُمَّ فَيَعْرُجُ الَّذِينَ بَاتُوا فِيكُمْ فَيَسْأَلُهُمْ رَبُّهُم وَهُوَ أَعْلَمُ بِهِمْ ُ كَيْفَ تَرَكْتُمْ عِبَادِي ؟ فَيَقُولُونَ أأَتَيْنَاهُمْ وَهُمْ يُصَلُّونَ وَتَرَكْنَاهُمْ وَهُمْ يُصَلُّون. Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: "momen terbaik untuk dipersaksikan para Malaikat malam hari dan para malikat siang hari silih berganti mendatangi kalian. Mereka berkumpul ketika sholat Subuh dak ketika sholat Ashar. Lalu. Malaikat yang mengawasi kalian di malam hari naik ke langit, lantas Allah bertanya kepada mereka (walau sesungguhnya Allah lebih tahu), 'bagaimana kalian tinggalkan hamba-hamba-Ku? Para Malaikat menjawab, 'kami datangi mereka, ketika mereka sedang melaksanakan sholat, dan kami meninggalkan mereka ketika mereka juga sedang mendirikan shalat’. (HR Bukhari & Muslim ) Pertanyaannya kenapa dua waktu itu yang dipilih Malaikat melapor pada waktu Ashar dan Subuh karena dua waktu tersebut merupakan momen pergantian tugas malaikat penjaga siang dan malam. Mereka berkumpul, naik ke langit, dan menyampaikan laporan amal manusia kepada Allah SWT. Kedua waktu ini dipilih karena merupakan titik krusial pergantian waktu, di mana shalat berjamaah sangat dianjurkan. Kenapa sholat subuh, karena pada waktu sholat subuh disaksikan oleh Malaikat, sebagaimana Firmn Allah dalam surat al-Isra’ 17 [78] أَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ لِدُلُوكِ ٱلشَّمۡسِ إِلَىٰ غَسَقِ ٱلَّيۡلِ وَقُرۡءَانَ ٱلۡفَجۡرِۖ إِنَّ قُرۡءَانَ ٱلۡفَجۡرِ كَانَ مَشۡهُودٗا ٧٨ Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap’ malam dan (dirikanlah pula shalat) subuh. Sesungguhnya shalat subuh itu disaksikan (oleh malaikat) Keutamaan sholat subuh Subuh menandai awal perencanaan aktivitas produktif, sementara ashar adalah waktu krusial laporan amal harian. Barang siapa yang bangun untuk shalat Subuh, maka ia telah membuka peluang besar mendapatkan perlindungan Allah. sholat subuh juga disaksikan oleh Malaikat, yaitu Malaikat siang dan Malaikat malam. Ustadz Adi Hidayat menekankan bahwa shalat Subuh yang dijaga akan menjadi pelindung dari berbagai kesulitan yang tak terlihat. 1. Disaksikan Langsung oleh malaikat Sholat Subuh menjadi ibadah yang secara khusus disaksikan oleh malaikat, sebagaimana disebutkan dalam HR Al-Bukhari No. 137 dan HR Muslim No. 632. Pada waktu ini, malaikat diperintahkan Allah untuk mencatat siapa saja yang memohon ampun dan berdoa kepada-Nya. Karena itu, waktu Subuh sangat dianjurkan untuk meningkatkan ketakwaan dan memperbanyak dzikir. 2. Bernilai pahala seperti sholat semalam penuh Dalam HR Muslim No. 656 dijelaskan bahwa seseorang yang melaksanakan sholat Isya berjamaah memperoleh pahala setengah malam, sedangkan mereka yang menunaikan sholat Subuh berjamaah mendapatkan pahala seperti sholat semalam suntuk. Keutamaan ini menunjukkan betapa besar nilai ibadah Subuh jika dikerjakan dengan istiqamah dan berjamaah. 3. Amalan yang mengantarkan ke surga Rasulullah SAW menyebutkan bahwa sholat Subuh dan Ashar merupakan dua sholat yang menjadi sebab langsung seseorang dijamin masuk surga (HR Al-Bukhari No. 574 dan HR Muslim No. 635). Konsistensi dalam menjaga dua sholat ini menjadi tanda kuatnya iman dan kedekatan seorang hamba dengan Allah SWT. 4. Dijamin mendapatkan kebaikan dan kemudahan hidup Dalam HR Muslim No. 163 dijelaskan bahwa siapa saja yang menjaga sholat Subuh akan berada dalam jaminan Allah. Artinya, Allah akan memberikan perlindungan, kemudahan urusan, serta membuka pintu rezeki. Kesulitan hidup pun akan dimudahkan dengan izin-Nya. Sementara itu, sholat ashar berada di penghujung siang dan menjelang malam, waktu di mana banyak orang mulai lengah. Sehingga sholat ashar sering ditinggalkan karena kesibukan sore hari. Justru karena sulit dijaga pahala sholat ini sangatlah besar. Dalam al-Qur’an surat al-Baqarah 2 [238] Allah berfirman حَٰفِظُواْ عَلَى ٱلصَّلَوَٰتِ وَٱلصَّلَوٰةِ ٱلۡوُسۡطَىٰ وَقُومُواْ لِلَّهِ قَٰنِتِينَ ٢٣٨ Peliharalah semua shalat(mu), dan (peliharalah) shalat wusthaa. Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu´ Maksud ayat tersebut kerjakanlah sholat lima waktu dengan rutin dan tepat waktunya, lengkap semua rukun dan syaratnya, dengan hati yang khusyu’ tanpa tergesa-gesa maupun menunda-nunda. Dan sholat wustha’ dari kata al- washath artinya adil dan yang terbaik. Al-wustha artinya yang paling utama. Bisa jadi pula makna yang diaksud sholat yang tengah-pertengahan dari segi jumlah, sebab ia terletak di tengah antra dua sholat sebelumnya dan dua sholat setelahnya. Syekh Mutawalli asy-Sya’rawi memaparkan bahwa ternyata ulama berbeda pendapat tentang makna salat wustha pada ayat tersebut. Apakah ia adalah sholat ashar, maghrib, isya, subuh ataukah dzuhur? Pembahasan mengenai hal tersebut, menurut Syekh asy-Sya’rawi, merupakan pembahasan yang mendalam, dimana makna dari salat wustha dapat dimungkinkan pada seluruh sholat yang lima waktu itu. Hal tersebut -menurut beliau- terjadi karena sesuatu apapun tidak dapat disebut sebagai wustha (di tengah), kecuali bila ia berada pada dua posisi yang berseberangan. Sedangkan pendapat yang memahami sholat wustha adalah shalat ashar, mereka berlandaskan pada hadis Nabi Muhammad Saw. saat Perang Khondaq, yang berbunyi: حَبَسُوْنَا عَنْ صَلاَةِ الوُسْطَى حَتَّى غَابَتِ الشَّمْشُ، مَلَأَ اللّهُ قُبُوْرَهُمْ وَبُيُوْتَهُمْ -أَوْ أَجْوَافَهُمْ- نَارًا “Mereka telah memblokir kita hingga kita tidak dapat melaksanakan sholat wustha hingga matahari tenggelam. Kita do’akan semoga Allah Swt. memenuhi kuburan atau rumah, atau perut mereka dengan api”. (HR. Bukhari: 4169). Wahbah az-Zuhaili mengatakan bahwa sholat wustha’ menurut pendapat yang kuat adalah wustha’ artinya sholat Ashar. Bersadar hadits marfu’ riwayat Muslim dan Abu Dawud dari Ali waktu perang Ahzab. شَغَلُوْنَ عَنِ الصّلاَة الوُسْطَى – صلاةِ العَصْرِ Mereka orang-orang kafir itu menyibukan kita sehingga tidak sempat mengerjakan sholat wustha – shalat Ashar. Pada hadits lain disebutkan فَإِنْ اسْتَطَعْتُمْ أَنْ لَا تُغْلَبُوا عَلَى صَلَاةٍ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ غُرُوبِهَا فَافْعَلُوا Jika kalian tidak lemah untuk melakukan sholat sebelum matahari terbit dan sebelum matahari terbenam, maka lakukanlah. HR Bukhari Dengan menjaga shalat Ashar, seseorang memperlihatkan keteguhan dalam ibadah meskipun dalam kondisi lelah. Itulah sebabnya, menjaga waktu ashar juga menjadi tanda keimanan dan keistiqamahan seorang hamba. Waktu sore hari, khususnya setelah sholat ashar hingga menjelang maghrib, adalah salah satu waktu dimana do’a - do’a lebih mudah dikabulkan oleh Allah. Dido’akan oleh malaikat secara khusus, sebagaimana hadits riwayat imam Tirmidzi,dan Ahmad. semoga Allah merahmati seseorang yang sholat sebelum terbenamnya mata hari dan sebelum terbitnya. Dalam al-Qur’an surat Qaf 50 [39] فَٱصۡبِرۡ عَلَىٰ مَا يَقُولُونَ وَسَبِّحۡ بِحَمۡدِ رَبِّكَ قَبۡلَ طُلُوعِ ٱلشَّمۡسِ وَقَبۡلَ ٱلۡغُرُوبِ ٣٩ 39. Maka bersabarlah kamu terhadap apa yang mereka katakan dan bertasbihlah sambil memuji Tuhanmu sebelum terbit matahari dan sebelum terbenam(nya). Dalam sebuah hadits dinyatakan ‘"Kami pernah duduk bersama Rasulullah SAW pada malam bulan purnama, lalu beliau mengarahkan pandangannya ke bulan dan bersabda: 'Sungguh, kelak di akhirat kalian a’kan melihat Rabb kalian sebagaimana kalian melihat bulan pada malam ini. Masing-masing dari kalian akan dapat dengan mudah melihat-Nya. Oleh karena itu, sekiranya kalian mampu untuk tidak ketinggalan mengerjakan sholat sebelum terbit matahari dan sebelum terbenamnya (secara berjamaah), hendaklah kalian mengerjakannya. Sebagai penutup mari kita mempersiapkan diri dan istiqamah untuk mulai membiasakan diri menjaga sholat kita dengan tepat waktu.Tidak hanya sebagai kewajiban, tetapi juga sebagai bentuk cinta dan taqwa kepada Allah. Dengan menjaga sholat tepat waktu ini, berarti kita sedang memohon perlindungan-Nya dalam setiap langkah kehidupan.
Share:

Istiqomah Salah Satu Ibadah Terberat Di Zaman Modern

Istiqamah Salah Satu Ibadah Terberat Di Zaman Modern Oleh: Masykur H. Mansyur (Ketua FKUB Karawang, dosen FAI Unsika Karawang) Istiqamah (konsistensi) dalam beribadah adalah salah satu ibadah terberat karena melawan hawa nafsu dan godaan duniawi yang dinamis. Ibadah ini menuntut keteguhan hati, bukan sekadar kuantitas, tapi juga untuk tetap taat kepada Allah SWT, menjadikannya kunci kemuliaan dan ketakwaan, serta amalan yang paling dicintai Allah. Secara bahasa istqamah diartikan sebagai lurus, teguh dan tetap. Sedangkan menurut istilah diartikan sebagai keadaan atau upaya seseorang untuk tetap teguh mengikuti jalan lurus (agama Islam) yang ditunjuk oleh Allah SWT. Siapa yang disebut dengan orang yang istiqamah itu, orang yang istiqamah adalah orang yang serasi antara hati, lisan (ucapan) dan tindakan berdasarkan keimanan, sebagaimana hadits Rasulullah yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal dari Anas bin Malik. لَايَسْتَقِيْمُُ إيْمَانُ عَبْدٍ حتي يَسْتَقِيْمَ قَلْبُهُ, وَلآ يَسْتَقِيْمُُ قَلْبُهُ حتي يَسْتَقِيْمَ لِسَانِهِ Tidaklah dapat dikatakan istiqamah iman seorang hamba, sehingga hatinya istiqamah, hatinya tidak dapat dikatakan istiqamah sehingga lisannya istiqamah Di samping itu orang yang istiqamah adalah orang yang berlaku lurus, sopan dan berbudi pekerti yang baik sebagaimana al-Qur’an surat al-Taubah 9 [7] …..فَمَا ٱسۡتَقَٰمُواْ لَكُمۡ فَٱسۡتَقِيمُواْ لَهُمۡۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلۡمُتَّقِينَ ٧ maka selama mereka berlaku lurus terhadapmu, hendaklah kamu berlaku lurus (pula) terhadap mereka. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertakwa. Kenapa istiqamah dikatakan sebagai ibadah terberat antara lain Tantangan istiqamah di zaman modern diantaranya; 1. Distraksi digital dan kecepatan. Dimana budaya instan dan media sosial menciptakan distraksi yang membuat konsistensi dalam ibadah cenderung menjadi sulit. 2. Belum lagi gaya hidup hedonis menjadi godaan materialism seringkali menggeser prioritas ibadah. 3. Termasuk kita harus hati-hati dengan kemaksiatan digital memungkinkan akses mudah terhadap hal-hal negative, menuntut keteguhan hati yang lebih kuat. meskipun penuh godaan Istiqamah bukanlah hal mustahil dan menjadi solusi utama untuk menjaga kualitas iman di tengah perkembangan IPTEK serta kemaksiatan yang semakin kompleks. Apa saja bentuk istiqamah di zaman modern Istiqamah saat ini tidak harus membatasi diri dari kemajuan teknologi, melainkan bagaimana mempertahankan agar tetap survive di tengah arus modernisasi. Dengan memperhatikan; 1. Ibadah secara konsisten ((bukan sekedar kuantitas), misalnya memulai dengan amalan kecil yang rutin, seperti sholat tepat waktu di sela kesibukan 2. Etika digital; yakni menggunakan media sosial untuk kebaikan dan menghindari penyebaran hoaks atau konten negative 3. Integritas (amanah); yakni jujur dalam bekerja dan bertanggung jawab di tengah lingkungan yang serba cepat, serta komitmen dalam setiap peran dan profesi yang kita jalani. Bagaimana caranya agar kita tetap istiqamah dalam beribadah 1. Managemen waktu ibadah Yaitu menjadwalkan ibadah sama pentingnya dengan pekerjaan 2. Memperhatikan lingkungan yang mendukung Yakni mencari komunitas atau teman yang mengingatkan pada kebaikan 3. Niat yang tulus Dengan memperbaharui niat ikhlas untuk meningkatkan ketakwaan, bukan sekedar rutinitas. Istiqamah di zaman modern, meski terlihat sulit, menuntun kita untuk tetap memiliki pedoman di dunia yang terus berubah secara dinamis. Oleh karena itu bagaimanapun modernnya zaman, istiqamah (teguh pendirian) selalu dipakai dalam arti yang positif. Pertama. Istiqamah dapat berfungsi sebagai pencegah setiap pribadi agar tidak tergoda oleh prilaku maksiat dan lebih-lebih ingkar kepada Allah setelah ia beriman. Perhatikan al-Qur’an surat Fushshilat 41 [6] قُلۡ إِنَّمَآ أَنَا۠ بَشَرٞ مِّثۡلُكُمۡ يُوحَىٰٓ إِلَيَّ أَنَّمَآ إِلَٰهُكُمۡ إِلَٰهٞ وَٰحِدٞ فَٱسۡتَقِيمُوٓاْ إِلَيۡهِ وَٱسۡتَغۡفِرُوهُۗ وَوَيۡلٞ لِّلۡمُشۡرِكِينَ ٦ Artinya; Katakanlah: "Bahwasanya aku hanyalah seorang manusia seperti kamu, diwahyukan kepadaku bahwasanya Tuhan kamu adalah Tuhan yang Maha Esa, maka tetaplah pada jalan yang lurus menuju kepada-Nya dan mohonlah ampun kepada-Nya. Dan kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang mempersekutukan-Nya Kedua. Orang yang istiqamah akan mendapatkan rezki yang banyak, sebagaimana firman Allah dalam surat al-Jin 72 [16] وَأَلَّوِ ٱسۡتَقَٰمُواْ عَلَى ٱلطَّرِيقَةِ لَأَسۡقَيۡنَٰهُم مَّآءً غَدَقٗا ١٦ Dan bahwasanya: jikalau mereka tetap berjalan lurus di atas jalan itu (agama Islam), benar-benar Kami akan memberi minum kepada mereka air yang segar (rezeki yang banyak) Ketiga orang yang istiqamah memperoleh surga, al-Qur’an surat Fushshilat 41 [30] إِنَّ ٱلَّذِينَ قَالُواْ رَبُّنَا ٱللَّهُ ثُمَّ ٱسۡتَقَٰمُواْ تَتَنَزَّلُ عَلَيۡهِمُ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ أَلَّا تَخَافُواْ وَلَا تَحۡزَنُواْ وَأَبۡشِرُواْ بِٱلۡجَنَّةِ ٱلَّتِي كُنتُمۡ تُوعَدُونَ ٣٠ Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka Malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: "Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu" Keempat, Do’a orang yang istiqamah akan diterima Dalam hadits riwayat Imam Ahmad dari Abu Zar yang artinya sungguh beruntunglah orang yang lkhlas hatinya, menjadikan hatinya selamat, lisannya benar, jiwanya tenang, budi pekertinya teguh, telinganya mau mendengar, matanya mau melihat. Maka telinga cukup teliti (dalam menyaring berita), dan mata mengakui pada apa yang disadari hatinya, dan berbahagialah orang yang menjadikan hatinya sadar. Wallahu a’lam bi al-shawwab
Share:

Postingan Populer

Diberdayakan oleh Blogger.

Recent Posts

Unordered List

  • Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit.
  • Aliquam tincidunt mauris eu risus.
  • Vestibulum auctor dapibus neque.

Pages

Theme Support

Need our help to upload or customize this blogger template? Contact me with details about the theme customization you need.