Khutbah Jum’at Alam Semesta-pun Bertasbih

Khutbah Jum’at Alam Semesta-pun Bertasbih Oleh Masykur H. Mansyur (Ketua FKUB Karawang) Kalimat tasbih yaitu mengikrarkan kesucian terhadap Allah SWT dari segala sifat kekurangan, kesalahan, keburukan, aib atau segala sesuatu yang tidak layak bagi-Nya, baik yang terlintas dalam hati dan pikiran pengucap maupun pihak lain. Kalimat tasbih dikenal dengan ucapan subhanallah. Subhanallah (Maha Suci Allah). Kata tasbih berasal dari kata kerja sabbaha dan yusabbihu yang artinya mensucikan. Tasbih termasuk amalan yang sangat mudah, tapi sarat pahala. Sebagai bagian dari dzikir, tasbih bisa dilakukan kapan pun dan di manapun; tidak mesti di masjid dan tidak harus dalam keadaan suci. Karena kalimat suci, maka lebih baik dalam keadaan suci.Tasbih bisa dilafalkan dalam perjalanan pergi atau pulang kerja, di kantor, sekolah, rumah, pasar, tempat olah raga, mall dan lain sebagainya. Bahkan Allah SWT memerintahkan bertasbih baik di dalam shalat maupun di luar shalat bahkan sepanjang waktu, sebagaimana firman-Nya dalam al-Qur’an surat al-Ahzab 33 [42] وَّسَبِّحُوْهُ بُكْرَةً وَّاَصِيْلًا Dan bertasbihlah kepada-Nya pada waktu pagi dan petang (dengan menyucikan Allah dari sifat-sifat kekurangan). Dan dikuatkan lagi dalam surat Thoha 20 [130] فَاصْبِرْ عَلٰى مَا يَقُوْلُوْنَ وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ قَبْلَ طُلُوْعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ غُرُوْبِهَاۚ وَمِنْ اٰنَاۤئِ الَّيْلِ فَسَبِّحْ وَاَطْرَافَ النَّهَارِ لَعَلَّكَ تَرْضٰى Maka, bersabarlah engkau (Nabi Muhammad) atas apa yang mereka katakan dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu sebelum matahari terbit dan sebelum terbenam. Bertasbihlah (pula) pada waktu tengah malam dan di ujung siang hari agar engkau merasa tenang. Tasbih adalah amalan para Nabi dan orang-orang beriman. Bahkan, seluruh alam semesta, yang di langit, bumi, dan di antara keduanya, semua yang berada di bawah Arsy Allah sejatinya mereka semua bertasbih kepada Allah tanpa henti untuk mendapatkan jalan (washilah) menuju kepada-Nya. Seluruh makhluk, langit, dan bumi bertasbih memuji Allah, menjadikan kalimat ini selaras dengan ritme alam raya. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam al-Qur’an surat al-Isra’ 17 [44], تُسَبِّحُ لَهُ السَّمٰوٰتُ السَّبْعُ وَالْاَرْضُ وَمَنْ فِيْهِنَّۗ وَاِنْ مِّنْ شَيْءٍ اِلَّا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهٖ وَلٰكِنْ لَّا تَفْقَهُوْنَ تَسْبِيْحَهُمْۗ اِنَّهٗ كَانَ حَلِيْمًا غَفُوْرًا Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun. Sayyid Quthb dalam Tafsir fi Zhilalil Qur’an menafsirkan ayat ini,….sungguh indah pemandangan semesta alam yang unik ini ketika menggambarkan hati dan jiwa. juga ketika bercerita tentang kerikil dan bebatuan, biji-bijian dan dedaunan, bunga-bunga dan buah-buahan, tumbuhan dan pepohonan, semut dan binatang melata lainnya, hewan dan manusia, mahluk yang berjalan di daratan dan yang berenang di lautan serta yang melayang di angkasa. Semuanya bersama-sama dengan penghuni langit bertasbih dan menghadapkan wajah nuraninya kepada Allah yang berada kepada ketinggian-Nya. Hati Nurani ini benar-benar bergetar mana kala merasakan adanya kehidupan bergerak di sekitar diri ini, yang terlihat maupun yang tak terlihat. Setiap kali tangan ini hendak menyentuh sesuatu, dan setiap kali kaki ini hendak menginjak sesuatu, terngiang darinya suara tasbih kepada Allah, seraya ia ikut berdenyut bersama nadi kehidupan. Semuanya bertasbih dengan cara dan bahasanya masing-masing, tetapi manusia tidak mengerti tasbih mereka, Sayyid Quthb lebih lanjut menjelaskan dalam tafsirnya, kamu tidak mengerti cara bertasbih mereka karena kamu terhalang oleh lempengan duniawimu. Juga karena kamu tidak bisa mendengarkannya dengan hatimu, dan kamu tidak mau membawa hatimu ke dalam rahasia-rahasia wujud yang tersembunyi. Kamu tidak berkenan membawanya kepada hukum alam yang menarik setiap benda atom yang ada di semesta alam raya ini agar semuanya menghadap kepada Sang Pencipta hukum alam dan yang mengatur alam semesta raya ini. Dikala hati ini menerawang dengan kebeningan jiwa sehingga mampu mendengar denyut nadi kehidupan dari segala mahluk yang bergerak maupun yang diam, sedangkan mereka melantunkan tasbih kepada Sang Pencipta, maka hati ini siap utuk berkomunikasi dengan Yang Maha Tinggi. Juga siap memahami rahasia-rahasia wujud yang sesungguhnya tak dapat dipahami oleh jiwa-jiwa yang lalai. Yakni jiwa yang terhalang oleh lempengan duniawi sehingga hatinya tak mampu berinteraksi dengan rahasia yang tersembunyi di dalam wujud semesta raya ini, yang sedang berdenyut bersama segala mahluk yang bergerak maupun yang diam. Al-Razi dan sejumlah ulama lainnya berpendapat bahwa tasbihnya manusia dan mahluk-mahluk berakal adalah tasbih yang sesungguhnya, artinya mereka mengucapkan “subhanallah”, untuk mencucikan dan mengagungkan Allah. Sedangkan tasbihnya selain manusia bersifat majasi, atau tasbih dilaalah (bukti). Artinya, keberadaan mahluk-mahluk tersebut menjadi bukti adanya Tuhan Sang Pencipta. Karena semua mahluk menjadi saksi bagi dirinya sendiri bahwa Allah Azza wa Jalla adalah Sang Pencipta Yang maha Kuasa. Sedangkan menurut al-Qurthubi dan sejumlah ulama lainnya berpendapat bahwa pendapat yang benar ialah segala sesuatu yang ada di alam ini benar-benar bertasbih, berdasarkan dalil-dalil yang menunjukkan hal tersebut. Seandainya tasbih tersebut sekedar tasbih dilaalah, tiada gunanya pengkhususan Nabi Dawud a.s. yang disebutkan dalam firman Allah yang artinya “bersabarlah atas apa yang mereka katakan. Dan ingatlah akan hamba Kami, Dawud yang mempunyai kekauatan; sungguh dia sangat taat (kepada Allah). Sungguh, Kamilah yang menundukkan gunung-guung untuk bertasbih Bersama dia (Dawud) pada waktu petang dan pagi. Al-Qur’an surat Shaad: 38 [17-18]) Selain sarat dengan kebaikan dan pahala, tasbih juga memiliki banyak keutamaan, antara lain; 1. Dapat menghapus dosa meskipun dosanya lebih banyak dari buih di lautan مَا عَلَى الْأَرْضِ رَجُلٌ يَقُولُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ إِلَّا كُفِّرَتْ عَنْهُ ذُنُوبُهُ وَلَوْ كَانَتْ أَكْثَرَ مِنْ زَبَدِ الْبَحْرِ. Tidak ada seorang laki-laki yang mengucapkan laa ilaaha illa Allah wa Allahu Akbar wa Subhaanallahi wal hamdulillah wa laa haulaa wa laa quwwata illaa billaah kecuali dosa-dosanya telah dileburkan darinya meskipun ia lebih banyak dari pada buih lautan. 2. Dapat menggugurkan kesalahan sebagaimana pohon menggugurkan daunnya أَخَذَ غُصْنًا فَنَفَضَهُ فَلَمْ يَنْتَفِضْ ثُمَّ نَفَضَهُ فَلَمْ يَنْتَفِضْ ثُمَّ نَفَضَهُ فَانْتَفَضَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ تَنْفُضُ الْخَطَايَا كَمَا تَنْفُضُ الشَّجَرَةُ وَرَقَهَا. Bahwasannya Rasulullah saw. mengambil ranting, lalu beliau menggugurkannya, namun ranting itu tidak gugur, kemudian beliau menggugurkannya lagi, namun tidak gugur, beliau menggugurkannya lagi, lalu ranting itu gugur. Rasulullah saw. pun bersabda, “Sungguh Subhanallah wal hamdulillah wa laa ilaaha illaa Allah wa Allahu Akbar itu dapat menggugurkan kesalahan-kesalahan sebagaimana pohon menggugurkan daunnya. 3. Ringan di ucapkan tapi berat dalam timbangan kebaikan yaitu Bacaan subhanallah wa bi hamdihi dan subhanallahil ‘Aziim 4. Bacaan yang paling dicintai Allah Subhanallah, Alhamdulillah, Laa Ilaaha Illa Allah, dan Allahu Akbar Wallahu a’lam bi al-shawaab
Share:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Postingan Populer

Diberdayakan oleh Blogger.

Recent Posts

Unordered List

  • Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit.
  • Aliquam tincidunt mauris eu risus.
  • Vestibulum auctor dapibus neque.

Pages

Theme Support

Need our help to upload or customize this blogger template? Contact me with details about the theme customization you need.