Khutbah Jum’at Hubban Jammaa, Cinta Harta Secara Berlebihan

Khutbah Jum’at Hubban Jammaa, Cinta Harta Secara Berlebihan Oleh Masykur H. Mansyur (Ketua FKUB Karawang) Sudah menjadi sifat manusia, di antaranya adalah sangat mencintai harta. Mereka mengira bahwa harta akan dapat menyelamatkan dirinya. Selain itu, bahwa dengan harta yang melimpah, seseorang akan merasa dipandang hidupnya berhasil, semua keinginannya dapat dipenuhi, dan seterusnya. Di antara sebagaian manusia saat memulai aktivitasnya setelah bangun tidur sampai dia kembali ke rumahnya untuk beristirahat, yang dipikirkannya hanyalah dunia saja. Bahkan, saat tidurnya pun yang diimpikan adalah mencari harta atau dunia. Seakan-akan dirinya diciptakan untuk sekadar mencari dunia. Padahal, dengan perhatian dan keinginan yang berlebihan hingga melalaikan akhirat seperti itu, seseorang tidak akan mendapatkan rezeki kecuali yang telah Allah SWT tetapkan untuk dirinya. Dalam sebuah hadits disebutkan; Sekiranya manusia itu mempunyai satu lembah harta, niscaya ia ingin yang kedua (satu lembah lagi). Kalau ia mempunyai dua lembah, niscaya ia ingin yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut Bani Adam kecuali tanah. Dan Allah mengampuni orang-orang yang bertobat kepada-Nya. Allah SWT mengingatkan bahwa janganlah mencintai harta itu dengan berlebih-lebihan sebagaimana firman-Nya dalam al-Qur’an surat al-Fajr 89 [20] Allah berfirman وَّتُحِبُّوْنَ الْمَالَ حُبًّا جَمًّاۗ Dan kamu mencintai harta benda dengan kecintaan yang berlebihan. Senada dengan ayat tersebut terdapat dalam surat al-‘Adiyat 100 [8] وَاِنَّهٗ لِحُبِّ الْخَيْرِ لَشَدِيْدٌ ۗ Kedua ayat tersebut merupakan teguran halus sekaligus peringatan keras. Cinta harta pada batas wajar adalah fitrah karena ia sarana bertahan hidup. Namun, ketika kecintaan itu berubah menjadi hubban jammâ, kecintaan yang menumpuk-numpuk, rakus, dan tak terkendali, tak kenal batas, dengan segala cara tanpa peduli halal atau haram, sehingga membuatnya materialitis, bakhil, cenderung menggunakannya untuk sesuatu yang tidak benar, tentu ia akan mendatangkan malapetaka bagi iman seseorang. Dalam surat al-Munaafiquun 63 [9] Allah berfirman jangan sampai harta benda dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تُلْهِكُمْ اَمْوَالُكُمْ وَلَآ اَوْلَادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللّٰهِ ۚوَمَنْ يَّفْعَلْ ذٰلِكَ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْخٰسِرُوْنَ Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah harta bendamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Dan barangsiapa berbuat demikian, maka mereka itulah orang-orang yang rugi Pada hal ada dua persoalan mendasar yang dialami manusia yang telah meninggal dunia. Pertama ia meninggalkan semua harta yang selama ini telah dikumpulkannya dengan sekuat tenaga disertai segala suka dan duka. Kedua pada saatnya nati akan mempertanggung jawabkan semua harta yang diperolehnya. Pertanyaannya lalu untuk apa kita mengejar dunia, jika pada akhirnya akan kita tinggalkan semuanya. Kita akan berpisah dengan sesuatu yang telah kita perjuangkan selama hidup yang paling kita cintai, kita jaga, misalnya rumah yang kita bangun, kendaraan yang kita banggakan, tabungan yang kita kumpulkan sedikit demi sedikit, dan semua yang dimiliki. Semua itu akan ditinggalkan. Yang menyertai kita akhirnya hanya kain kafan dan amal sholeh yang pernah kita torehkan. Rasululloh saw bersabda bahwa mayyit itu diikuti dengan 3 (tiga) perkara yaitu; keluarganya, hartanya dan amal perbuatannya. Dua perkara kembali, dan satu perkara tetap ikut bersama mayyit tesrsebut. Yang kembali adalah keluarga dan hartanya, sedangkan amalnya ikut serta bersamanya. Jadi, harta yang ia tinggalkan ternyata akan menjadi pertanyaan yang berat oleh Allah, di mana ia mendapatkannya, dan untuk apa ia menggunakannya, sebagaimana sabda Rasululloh saw. لَا تَزُوْلُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ أَرْبَعٍ عَنْ عُمُرِهِ فِيْمَا أَفْنَاهُ وَعَنْ جَسَدِهِ فِيْمَا أَبْلَاهُ وَعَنْ عِلْمِهِ مَاذَا عَمِلَ فِيْهِ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيْمَا أَنْفَقَهُ (رَوَاهُ ابْنُ حِبَّانَ وَالتِّرْمِذِيُّ) Kedua kaki seorang hamba tidaklah beranjak dari tempat hisabnya pada hari kiamat hingga ia ditanya mengenai empat hal: (1) umurnya, untuk apakah ia habiskan, (2) jasadnya, untuk apakah ia gunakan, (3) ilmunya, apakah telah ia amalkan, (4) hartanya, dari mana ia peroleh dan dalam hal apa ia belanjakan” (HR Ibnu Hibban dan at-Tirmidzi) Sebetulnya masalahnya bukan memiliki harta. Islam sama sekali tidak melarang seseorang muslim menjadi kaya, tetapi janganlah sampai kita hanya sibuk mengumpulkan sesuatu yang akan kita tinggalkan, sementara kita lupa menyiapkan sesuatu yang akan kita bawa menghadap kepada Allah SWT. Carilah dunia dengan usaha yang baik dan benar, tapi jangan biarkan dunia mengusai hati dan pikiran kita, karena suatu hari nanti kita akan meninggalkan semuanya. Dan yang tersisa hanyalah amal sholeh. Islam tidak melarang kita untuk menjadi kaya, bahkan menganjurkan untuk menjadi kuat secara ekonomi, tapi juga Islam mengajarkan agar kekayaan itu diperoleh dengan cara halal, jujur, dan bermanfaat bagi sesama. Karena di setiap usaha yang jujur, tersimpan keberkahan dan kemuliaan di sisi Allah. Dampak buruk terhadap cinta yang berlebihan terhadap harta menurut Prof. Muhammad Quraish Shihab adalah kecintaan seseorang terhadapnya dengan berlebih, sehingga mampu mengantarnya pada sifat bakhil, kikir, pelit dan membuat dia enggan untuk memberikan sebagian hartanya untuk orang-orang yang membutuhkan. Di antara dampak buruk tersebut antara lain; 1. Adanya sifat ghoflah dalam diri seseorang. Yang menyebabkan seseorang lalai dari ibadah dan akhirat, diantaranya sifat ghaflah . sifat ghaflah adalah kondisi ketika hati manusia tertipu oleh keindahan dunia, sehingga lupa pada tujuan utama hidup yaitu mengabdi kepada Allah dan mengumpulkan bekal kematian. Hal ini membuat seseorang rugi karena menganggap dunia kekal padahal sementara 2. Menghalalkan segala cara. Menghalakan segala cara adalah tindakan seseorang yang gila harta dengan cara menipu, rela melanggar aturan, norma, atau nilai moral demi mewujudkan ambisi pribadinya. Prinsip ini mengabaikan batasan benar atau salah asalkan tujuan yang diinginkan tercapai. 3. Menjadikan seseorang bersifat kikir. Menumpuk harta secara berlebihan dan enggan berbagi sering kali menumbuhkan sifat kikir atau bakhil, yang lahir dari rasa cinta dunia yang terlalu mendalam. Sikap ini membuat seseorang merasa harta adalah milik mutlak dan kekal, sehingga muncul ketakutan besar harta akan berkurang jika dikeluarkan 4. Melahirkan sifat anti sosial Menumpuk harta secara berlebihan dapat memicu sifat anti sosial karena fokus hidup seseorang bergeser dari hubungan kemanusiaan menjadi obsesi materi dan ketakutan kehilangan kekayaan, sehingga menimbulkan hilangnya rasa empati. Dengan hilngnya rasa empati ini ditandai dengan mengabaikan kebutuhan dan penderitaan orang lain di sekitarnya. wallahu a’lam bi al-shawaab
Share:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Postingan Populer

Diberdayakan oleh Blogger.

Recent Posts

Unordered List

  • Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit.
  • Aliquam tincidunt mauris eu risus.
  • Vestibulum auctor dapibus neque.

Pages

Theme Support

Need our help to upload or customize this blogger template? Contact me with details about the theme customization you need.