Home »
» Khutbah Jum’at Taqwa Vertikal dan Horizontal
Khutbah Jum’at Taqwa Vertikal dan Horizontal
Khutbah Jum’at Taqwa Vertikal dan Horizontal
Oleh Masykur H Mansyur (Ketua FKUB Kabupaten Karawang)
Kata taqwa terambil dari kata وقي – يقي (waqaa-yaqii) yang semula berarti menampik sesuatu dengan sesuatu yang lain, atau dengan kata lain berlindung. Kalimat betaqwa kepada Allah dipahami dalam arti berlindung/melindungi diri dari ancaman siksa Allah dengan mengikuti perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Upaya mengikuti sekaligus menghindari itulah yang berfungsi melindungi.
Sehingga taqwa berarti segala macam ancaman dan siksa Allah dapat lahir akibat pelanggaran terhadap ketentuan-ketentuan-Nya berkaitan dengan hukum-hukum yang berlaku di alam raya dan masyarakat dalam kehidupan dunia. Sedangkan pelanggaran terhadap hukum-hukum syari’at-Nya, misalnya mengabaikan shalat, puasa dan lain-lain. Pelanggaran menyangkut hal ini akan dijatuhkan pada hari kemudian. Kalaupun di dunia terasa ada yang dianggap sebagai sanksi, maka itu baru sekedar panjar atau persekot.
Dengan demikian bahwa taqwa adalah patuh melaksanakan secara tulus perintah-perintah-Nya baik yang berkaitan dengan kehidupan dunia yang tercermin dalam hukum-hukum-Nya yang berlaku di alam raya di tengah masyarakat, sekaligus patuh juga secara tulus melaksanakan ketetapan dan anjuran-anjuran-Nya yang berkaitan dengan syari’at agama.
Kita diperintahkan agar bertaqwa kepada Allah dengan haqqa tuqaatihi, sebenar-benarnya taqwa kepada-Nya. Perhatikan al-Qur’an surat ali ‘Imran 3 [102]
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ
Maka wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa, dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim, berserah diri kepada Allah.
Para sahabat Nabi saw memahami kalimat ini dalam arti menaati Allah dan tidak sekalipun durhaka, mengingat-Nya dan tidak sesaatpun lupa, serta mensyukuri nikmat-Nya, dan tidak satupun yang diingkari. Kalimat haqqa tuqaatihi memberi kesan bahwa ketaqwaan yang dituntut itu adalah yang sesuai dengan kebesaran, keagungan dan anugerah Allah SWT.
Sikap taqwa lahir dari adanya kesadaran moral transendental. Manusia yang bertaqwa adalah manusia yang memiliki kepekaan moral yang teramat tajam untuk mengerjakan atau tidak mengerjakan sesutu perbuatan. Dia memiliki mata batin yang menembus jauh untuk melihat yang baik itu baik dan yang buruk itu buruk. Dengan demikian tingkah lakunya sehari-hari mencerminkan perilaku mulia dan berusaha menghindari hal-hal yang menjadikan Allah marah dan murka. Itulah sebabnya kita diperintahkan untuk bertaqwa kepada Allah di mana saja berada. Hadits dari Imam Tirmidzi
Ayat Ali ‘Imran di atas dijelaskan maknanya dalam al-Taghabun 64 [16]
فَاتَّقُوا اللّٰهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ …
Maka bertaqwalah kepada Allah menurut kesanggupan kamu.
Prof Muhammad Quraish Shihab menjelaskan pada ayat Ali ‘Imran menjelaskan puncak ketaqwaan, sedangkan pada ayat al-Taghabun berpesan agar tidak meninggalkan taqwa sedikitpun. Karena pasti setiap orang memiliki kemampuan untuk bertaqwa dan tentu saja kemampuan itu bertingkat-tingkat. Yang penting bertaqwalah sepanjang kemampuan, sehingga jika puncak ketaqwaan dapat diraih, maka itulah yang didambakan. Tetapi jika tidak, maka Allah tidak membebani seseorang melebihi kemampuannya. Artinya ayat Ali ‘Imran semua dianjurkan untuk berjalan pada jalan taqwa. Semua diperintahkan berupaya menuju puncak. Dan masing-masing selama berada di jalan itu akan memperoleh anugerah sesuai hasil usahanya masing-masing. Ayat Ali ‘Imran adalah arah yang dituju, sedangkan ayat al-Taghabun adalah jalan yang ditempuh menuju arah itu. Semua harus mengarah ke sana, dan semua harus menempuh jalan itu. Dengan demikian kedua ayat tersebut tidak bertentangan bahkan saling melengkapi. Ada juga riwayat yang dinisbatkan kepada Nabi saw yang menyatakan ‘apa yang kuperntahkan kepada kamu maka lakukan sesuai kemampuan kamu, tetapi apa yang kularang maka tinggalkanlah (H.R. Bukhari dan Muslim).
Sesorang disebut baik taqwanya kepada Allah, tidak hanya dinilai bagus dengan ibadah ritualnya, misalnya shalatnya lima waktu, itu bagus karena bagian dari taqwa, karena shalat dibuka dengan kalimat taqwa, perhatikan surat al-Baqarah 2 [2]
ذٰلِكَ الْكِتٰبُ لَا رَيْبَ ۛ فِيْهِ ۛ هُدًى لِّلْمُتَّقِيْنَۙ
Kitab (Al-Qur'an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa.
Perhatikan oleh kita siapa yang disebut dengan orang yang taqwa disini. Orang taqwa di sini adalah
الَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيْمُوْنَ الصَّلٰوةَ ۙ
(Yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib, yang mendirikan salat,
Rajin puasanya juga bagus karena puasa juga ditutup dengan kalimat taqwa laalakum tataquun
Hajinya bagus sempurna itu bagus karena hajipun bagian dari taqwa 2 [197]
وَتَزَوَّدُوْا فَاِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوٰىۖ
Berbekallah karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa
Tapi ternyata kata al-Qur’an, taqwa bukan hanya bagus dalam ibadah riual, tapi taqwa juga baik dalam konteks ibadah sosial. Perhatikan surat Ali-Imran 133-134
وَسَارِعُوْٓا اِلٰى مَغْفِرَةٍ مِّنْ رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمٰوٰتُ وَالْاَرْضُۙ اُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِيْنَۙ
Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa,
Bersegeralah kalian mengevaluasi diri, muhasabah dan mengharapkan mendapatkan karunia dari Allah ditempatkan di surga yang luasnya seluas langit dan bumi, untuk siapa yaitu untuk orang-orang yang bertaqwa. Siapa mereka yang dimaksudkan dalam ayat ini yaitu dalam ayat 134
الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ فِى السَّرَّۤاءِ وَالضَّرَّۤاءِ وَالْكٰظِمِيْنَ الْغَيْظَ وَالْعَافِيْنَ عَنِ النَّاسِۗ وَاللّٰهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَۚ
(yaitu) orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan,
Yaitu orang-orang yang mampu berbagi saling perhatian sanggup menahan amarah diprofokasi dia tenang, merespon, dia melihat menyambung silaturahmi alih-alih kemudian menguatkan perpecahan, yang memilih untuk memaafkan mencari solusi yang terbaik alih-alih memperdalam, memperkeruh suasana, sungguh Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik.
Wallahu a’lam bi al-shawaab. (Karawang Kamis, 11-6-2026).







Tidak ada komentar:
Posting Komentar