• This is default featured slide 1 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

  • This is default featured slide 2 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

  • This is default featured slide 3 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

  • This is default featured slide 4 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

  • This is default featured slide 5 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Hijrah Di Era Modern

Hijrah Di Era Modern Oleh: Masykur H.Mansyur (FKUB Karawang) Alhamdulillah Saat ini kita sudah berada di tahun 1448 Hijriyah.. Sebagian umat Islam menjadikan Tahun Baru Hijrah sebagai momentum untuk melakukan refleksi (perenungan), kontemplasi (muhasabah), bahkan mungkin menetapkan sejumlah resolusi (tuntutan) baru untuk masa depan hidupnya agar lebih baik. Hijrah sendiri merupakan peristiwa historis Rasulullah saw dan para pengikutnya untuk berpindah ke luar Mekkah karena adanya ancaman, resistensi, intimidasi, dan bahkan persekusi yang dilakukan masyarakat Mekkah terhadap Nabi Muhammad saw dan pengikutnya. Hijrah dalam sejarah Islam biasanya dihubungkan dengan kepindahan Nabi Muhammad saw dari Mekah ke Madinah. Dalam hubungan ini, hujrah berarti berkorban karena Allah, yaitu memutuskan hubungan dengan yang paling dekat dan dicintai demi tegaknya kebenaran dengan jalan berpindah dari kampung halaman ke negeri lain. Di era modern ini, makna hijrah bagi umat Muslim memiliki dimensi yang lebih luas dan mendalam. Hijrah tidak hanya diartikan sebagai perpindahan fisik dari satu tempat ke tempat lain, seperti yang dilakukan Nabi Muhammad saw dan para sahabatnya dari Makkah ke Madinah. Namun, hijrah dalam bentuk lain tetap relevan dan diperlukan hingga kini. Hijrah ini mencakup perpindahan dari segala sesuatu yang dilarang Allah menuju yang diridhai-Nya, dari maksiat kepada ketaatan, dan dari kejahatan menuju kebaikan. Atau dengan kata lain hijrah adalah panduan hidup untuk menghadapi dunia modern yang sering kali menjauh dari nilai-nilai agama Hijrah diibaratkan sebagai cahaya yang memadamkan kegelapan, baik kegelapan jiwa, kepercayaan, maupun masyarakat yang penuh kejahatan. Hijrah adalah usaha untuk menjauhkan diri dari lingkungan yang diwarnai kebodohan dan kekejaman, menuju masyarakat yang berlandaskan kebenaran dan keadilan. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam firman Allah, Q.S al-Baqarah ayat 218 اِنَّ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَالَّذِيْنَ هَاجَرُوْا وَجَاهَدُوْا فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ ۙ اُولٰۤىِٕكَ يَرْجُوْنَ رَحْمَتَ اللّٰهِ ۗوَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman, dan orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itulah yang mengharapkan rahmat Allah. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” Pro. Muhammad Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Misbah, Juz 1, halaman 465, menyebutkan bahwa orang-orang yang beriman dengan iman yang benar, serta orang-orang yang berhijrah, yaitu mereka yang meninggalkan satu tempat atau keadaan karena ketidaksenangan dan menuju ke tempat atau keadaan lain demi meraih yang lebih baik, adalah orang-orang yang berjuang di jalan Allah. Berhijrah dalam konteks ini bukan hanya berarti berpindah tempat secara fisik, tetapi juga meninggalkan keadaan yang tidak disukai untuk mendapatkan yang lebih baik. Hijrah era kini lebih menekankan pada transformasi diri dan mental. Hijrah ini lebih menekankan pada perubahan mental dan spiritual untuk menjadi pribadi yang lebih baik, bukan berarti mengasingkan diri dari masyarakat. Seorang Muslim tetap harus bergaul dengan orang lain namun tetap menjaga diri dari perbuatan buruk dan berusaha memperbaiki kerusakan di sekitarnya. Dalam sebuah hadits Rasulullah saw bersabda: الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ Artinya: "Seorang Muslim adalah orang yang sanggup menjamin keselamatan orang-orang Muslim lainnya dari gangguan lisan dan tangannya." (HR. Bukhari dan Muslim). Dalam menghadapi tantangan zaman modern, hijrah dikategorikan menjadi beberapa bentuk utama untuk menjaga nilai-nilai keislaman dan mentalitas di antaranya sebagai berikut; 1. Hijrah Mental (memisahkan diri dari kebiasaan buruk) Dalam Islam, memisahkan diri atau menjauhi kebiasaan buruk adalah bagian dari proses muhasabah (koreksi diri) dan usaha menyempurnakan taubat. Memutus kebiasaan buruk perlu diiringi dengan menggantinya dengan kebiasaan baik agar tidak kembali terulang. Dalam kaitan ini misalnya, menjaga hati dan pikiran agar tidak ikut-ikutan melakukan hal buruk. Kita harus berani berkata "tidak" pada korupsi, gaya hidup pamer, dan kecurangan, meskipun hal-hal itu dianggap biasa oleh orang lain. Dalam al-Qur’an surat Hud [114] وَاَقِمِ الصَّلٰوةَ طَرَفَيِ النَّهَارِ وَزُلَفًا مِّنَ الَّيْلِ ۗاِنَّ الْحَسَنٰتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّاٰتِۗ ذٰلِكَ ذِكْرٰى لِلذّٰكِرِيْنَ Artinya; Dirikanlah salat pada kedua ujung hari (pagi dan petang) dan pada bagian-bagian malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan baik menghapus kesalahan-kesalahan. Itu adalah peringatan bagi orang-orang yang selalu mengingat (Allah). 2. Hijrah Sosial (membangun kelompok hidup yang lebih baik) Adalah proses perpindahan dari kondisi atau tatanan masyarakat yang stagnan, penuh ketidakadilan, atau destruktif menuju tatanan kehidupan yang lebih maju, adil, dan harmonis. Konsep ini memperluas makna hijrah dari sekadar perubahan spiritual pribadi menjadi transformasi perilaku bermasyarakat. Dengan cara mengembangkan keharmonisan antar sesama dengan mengesampingkan ego kelompok. Berperan aktif sebagai agen perubahan (katalis) dalam memecahkan masalah kemiskinan, pendidikan, dan membangun budaya tolong-menolong dalam komunitas. al-Qur’an surat al-Maidah [2] …وَتَعَاوَنُوْا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوٰىۖ وَلَا تَعَاوَنُوْا عَلَى الْاِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۖوَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗ اِنَّ اللّٰهَ شَدِيْدُ الْعِقَابِ Artinya; …..Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Dan takutlah kepada Allah, sesunggauhnya Allah Maha Pedih siksaan-Nya 3. Hijrah Strategis (menggunakan teknologi untuk berda’wah) Saat sekarang, perjuangan dakwah dilakukan lewat dunia digital dan media sosial. Diantaranya menggunakan internet untuk menyebarkan pesan damai dan kebaikan. Membuat konten video, tulisan, atau poster yang menarik tentang Islam. Melawan berita bohong dan sifat saling ejek di media sosial dengan bahasa yang santun, dengan memverifikasi kebenaran sebuah informasi sebelum mempercayai atau menyebarkannya. Hal ini sesuai dengan al-Qur’an surat al-Isra’ 17 [36] وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهٖ عِلْمٌ ۗاِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ اُولٰۤىِٕكَ كَانَ عَنْهُ مَسْـُٔوْلًا Artinya; Janganlah engkau mengikuti sesuatu yang tidak kauketahui. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya. 4. Hijrah Profesional (menjadi teladan dalam pekerjaan) Yang menjadi teladan bukan hanya lewat ucapan, tetapi lewat tindakan nyata. Bekerja secara professional diantaranya menjadi orang yang jujur, disiplin, dan rajin. Apapun profesi kita, apapun yang kita katakana, maka harus terealisasi dalam Tindakan. Allaf berfirman dalam al-Qur’an surat al-Shaff [3] كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللّٰهِ اَنْ تَقُوْلُوْا مَا لَا تَفْعَلُوْنَ Sangat besarlah kemurkaan di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan. Mari kita jadikan momentum hijrah sebagai berpindah secara fisik dan mental serta bertaubat menuju kebaikan secara konsisten dan ikhlas tanpa pamrih. Wallahu a’lam bi al-shawaab (Karawang, 20 Juni 2026/4 Muharram 1448 H
Share:

Khutbah Jum’at Taqwa Vertikal dan Horizontal

Khutbah Jum’at Taqwa Vertikal dan Horizontal Oleh Masykur H Mansyur (Ketua FKUB Kabupaten Karawang) Kata taqwa terambil dari kata وقي – يقي (waqaa-yaqii) yang semula berarti menampik sesuatu dengan sesuatu yang lain, atau dengan kata lain berlindung. Kalimat betaqwa kepada Allah dipahami dalam arti berlindung/melindungi diri dari ancaman siksa Allah dengan mengikuti perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Upaya mengikuti sekaligus menghindari itulah yang berfungsi melindungi. Sehingga taqwa berarti segala macam ancaman dan siksa Allah dapat lahir akibat pelanggaran terhadap ketentuan-ketentuan-Nya berkaitan dengan hukum-hukum yang berlaku di alam raya dan masyarakat dalam kehidupan dunia. Sedangkan pelanggaran terhadap hukum-hukum syari’at-Nya, misalnya mengabaikan shalat, puasa dan lain-lain. Pelanggaran menyangkut hal ini akan dijatuhkan pada hari kemudian. Kalaupun di dunia terasa ada yang dianggap sebagai sanksi, maka itu baru sekedar panjar atau persekot. Dengan demikian bahwa taqwa adalah patuh melaksanakan secara tulus perintah-perintah-Nya baik yang berkaitan dengan kehidupan dunia yang tercermin dalam hukum-hukum-Nya yang berlaku di alam raya di tengah masyarakat, sekaligus patuh juga secara tulus melaksanakan ketetapan dan anjuran-anjuran-Nya yang berkaitan dengan syari’at agama. Kita diperintahkan agar bertaqwa kepada Allah dengan haqqa tuqaatihi, sebenar-benarnya taqwa kepada-Nya. Perhatikan al-Qur’an surat ali ‘Imran 3 [102] يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ Maka wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa, dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim, berserah diri kepada Allah. Para sahabat Nabi saw memahami kalimat ini dalam arti menaati Allah dan tidak sekalipun durhaka, mengingat-Nya dan tidak sesaatpun lupa, serta mensyukuri nikmat-Nya, dan tidak satupun yang diingkari. Kalimat haqqa tuqaatihi memberi kesan bahwa ketaqwaan yang dituntut itu adalah yang sesuai dengan kebesaran, keagungan dan anugerah Allah SWT. Sikap taqwa lahir dari adanya kesadaran moral transendental. Manusia yang bertaqwa adalah manusia yang memiliki kepekaan moral yang teramat tajam untuk mengerjakan atau tidak mengerjakan sesutu perbuatan. Dia memiliki mata batin yang menembus jauh untuk melihat yang baik itu baik dan yang buruk itu buruk. Dengan demikian tingkah lakunya sehari-hari mencerminkan perilaku mulia dan berusaha menghindari hal-hal yang menjadikan Allah marah dan murka. Itulah sebabnya kita diperintahkan untuk bertaqwa kepada Allah di mana saja berada. Hadits dari Imam Tirmidzi Ayat Ali ‘Imran di atas dijelaskan maknanya dalam al-Taghabun 64 [16] فَاتَّقُوا اللّٰهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ … Maka bertaqwalah kepada Allah menurut kesanggupan kamu. Prof Muhammad Quraish Shihab menjelaskan pada ayat Ali ‘Imran menjelaskan puncak ketaqwaan, sedangkan pada ayat al-Taghabun berpesan agar tidak meninggalkan taqwa sedikitpun. Karena pasti setiap orang memiliki kemampuan untuk bertaqwa dan tentu saja kemampuan itu bertingkat-tingkat. Yang penting bertaqwalah sepanjang kemampuan, sehingga jika puncak ketaqwaan dapat diraih, maka itulah yang didambakan. Tetapi jika tidak, maka Allah tidak membebani seseorang melebihi kemampuannya. Artinya ayat Ali ‘Imran semua dianjurkan untuk berjalan pada jalan taqwa. Semua diperintahkan berupaya menuju puncak. Dan masing-masing selama berada di jalan itu akan memperoleh anugerah sesuai hasil usahanya masing-masing. Ayat Ali ‘Imran adalah arah yang dituju, sedangkan ayat al-Taghabun adalah jalan yang ditempuh menuju arah itu. Semua harus mengarah ke sana, dan semua harus menempuh jalan itu. Dengan demikian kedua ayat tersebut tidak bertentangan bahkan saling melengkapi. Ada juga riwayat yang dinisbatkan kepada Nabi saw yang menyatakan ‘apa yang kuperntahkan kepada kamu maka lakukan sesuai kemampuan kamu, tetapi apa yang kularang maka tinggalkanlah (H.R. Bukhari dan Muslim). Sesorang disebut baik taqwanya kepada Allah, tidak hanya dinilai bagus dengan ibadah ritualnya, misalnya shalatnya lima waktu, itu bagus karena bagian dari taqwa, karena shalat dibuka dengan kalimat taqwa, perhatikan surat al-Baqarah 2 [2] ذٰلِكَ الْكِتٰبُ لَا رَيْبَ ۛ فِيْهِ ۛ هُدًى لِّلْمُتَّقِيْنَۙ Kitab (Al-Qur'an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa. Perhatikan oleh kita siapa yang disebut dengan orang yang taqwa disini. Orang taqwa di sini adalah الَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيْمُوْنَ الصَّلٰوةَ ۙ (Yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib, yang mendirikan salat, Rajin puasanya juga bagus karena puasa juga ditutup dengan kalimat taqwa laalakum tataquun Hajinya bagus sempurna itu bagus karena hajipun bagian dari taqwa 2 [197] وَتَزَوَّدُوْا فَاِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوٰىۖ Berbekallah karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa Tapi ternyata kata al-Qur’an, taqwa bukan hanya bagus dalam ibadah riual, tapi taqwa juga baik dalam konteks ibadah sosial. Perhatikan surat Ali-Imran 133-134 وَسَارِعُوْٓا اِلٰى مَغْفِرَةٍ مِّنْ رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمٰوٰتُ وَالْاَرْضُۙ اُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِيْنَۙ Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa, Bersegeralah kalian mengevaluasi diri, muhasabah dan mengharapkan mendapatkan karunia dari Allah ditempatkan di surga yang luasnya seluas langit dan bumi, untuk siapa yaitu untuk orang-orang yang bertaqwa. Siapa mereka yang dimaksudkan dalam ayat ini yaitu dalam ayat 134 الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ فِى السَّرَّۤاءِ وَالضَّرَّۤاءِ وَالْكٰظِمِيْنَ الْغَيْظَ وَالْعَافِيْنَ عَنِ النَّاسِۗ وَاللّٰهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَۚ (yaitu) orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan, Yaitu orang-orang yang mampu berbagi saling perhatian sanggup menahan amarah diprofokasi dia tenang, merespon, dia melihat menyambung silaturahmi alih-alih kemudian menguatkan perpecahan, yang memilih untuk memaafkan mencari solusi yang terbaik alih-alih memperdalam, memperkeruh suasana, sungguh Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik. Wallahu a’lam bi al-shawaab. (Karawang Kamis, 11-6-2026).
Share:

Khutbah Jum’at Memperingati Hari Lingkungan Hidup se-Dunia

Merawat Bumi Tanggung Jawab Bersama Oleh Masykur H. Mansyur (Ketua FKUB Karawang) Adalah kesadaran nyata bagi kita sebagai anak bangsa menjaga dan mengelola kelestarian lingkungan adalah kewajiban kolektif untuk mencegah kerusakan alam. Bahkan menjaga lingkungan adalah wujud nyata ibadah dan spiritualitas. Kesadaran bersama ini sangat penting untuk mitigasi bencana, perubahan iklim, dan memastikan ketersediaan bumi sebagai warisan bagi generasi mendatang. Kesadaran ini diwujudkan dengan mengubah cara pandang dari mengeksploitasi alam menjadi bermitra dengannya. Perlu di ingat bahwa alam dan segala isinya, malaiakat, manusia dan mahluk lainnya seperti; bumi, langit, gunung, hujan, angin, laut, batu, pohon hewan dan sebagainya bukanlah benda mati seperti yang kita saksikan. Melainkan ia hidup dalam kesadaran ke-Tuhan-an, yaitu bertasbih dan berdzikir memulikan Sang Pencipta. Sebagaimana firman Allah dalam al-Qur’an surat al-Isra’ 17 [44] تُسَبِّحُ لَهُ السَّمٰوٰتُ السَّبْعُ وَالْاَرْضُ وَمَنْ فِيْهِنَّۗ وَاِنْ مِّنْ شَيْءٍ اِلَّا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهٖ وَلٰكِنْ لَّا تَفْقَهُوْنَ تَسْبِيْحَهُمْۗ اِنَّهٗ كَانَ حَلِيْمًا غَفُوْرًا Langit yang tujuh, bumi, dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Tidak ada sesuatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu tidak mengerti tasbih mereka. Sungguh, Dia Maha Penyantun lagi Maha Pengampun. Bumi dan siisinya adalah amanah Ilahi yang harus dirawat oleh manusia sebagai khalifah, bukan untuk dieksploitasi dan dirusak. Kerusakan akibat keserakahan manusia pada akhirnya akan berbalik mengancam kelangsungan hidup manusia itu sendiri. Kerusakan lingkungan dan perubahan iklim ekstrem ini menunjukkan krisis ekologis yang tidak hanya berdampak pada alam tapi juga pada manusia. Al Qur’an sebagai sumber utama ajaran Islam tentunya memberikan perhatian besar terhadap persoalan ini dan larangan berbuat kerusakan di muka bumi, perhatikan al-Qur’an surat al-A’raf 7 [56] وَلَا تُفْسِدُوْا فِى الْاَرْضِ بَعْدَ اِصْلَاحِهَا وَادْعُوْهُ خَوْفًا وَّطَمَعًاۗ اِنَّ رَحْمَتَ اللّٰهِ قَرِيْبٌ مِّنَ الْمُحْسِنِيْنَ Janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah diatur dengan baik. Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat dengan orang-orang yang berbuat baik. Dengan demikian, dalam al-Qur’an.Surat. Al-A’raf ayat 56 tidak hanya berfungsi sebagai peringatan moral semata , tetapi juga menekankan pada tanggung jawab ekologis dan sosial agar manusia mempunyai kewajiban merawat bumi agar keberkahan alam dan kehidupan tetap terjaga dan terpelihara dengan baik. Kerusakan alam baik di darat maupun di lautan bukan semata-mata terjadi secara alamiah, tapi bisa juga terjadi akibat perbuatan manusia. Fenomena deforestasi, banjir, tanah longsor, pencemaran sungai, hingga krisis iklim menjadi bukti nyata bahwa eksploitasi alam yang dilakukan manusia telah membawa dampak besar terhadap keseimbangan ekosistem. Al-Qur’an surat al-Rum 30 [41] ظَهَرَ الْفَسَادُ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ اَيْدِى النَّاسِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِيْ عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia. Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). Prof. Muhammad Quraish Shihab memberikan pendekatan yang lebih kontekstual dengan menafsirkan ayat ini dalam kaitannya dengan isu-isu lingkungan. Kerusakan di darat dan laut dipahami sebagai dampak nyata dari eksploitasi sumber daya alam, pencemaran, dan aktivitas manusia yang merusak ekosistem. Penafsiran ini menekankan bahwa al-Qur'an tidak hanya memberikan peringatan moral tetapi juga panduan etis bagi umat manusia dalam menjaga keseimbangan alam, menjadikannya relevan dalam menghadapi krisis ekologis global saat ini. Lebih lanjut Quraish Shihab mengatakan ayat tersebut mengandung makna bahwa Allah telah menciptakan bumi dengan sistem yang stabil dan penuh keseimbangan. Ketika manusia lalai menjaga keharmonisan itu melalui praktik eksploitasi alam seperti penebangan hutan, pembakaran lahan, polusi udara, dan peningkatan emisi karbon maka alam akan bereaksi. Reaksi alam inilah yang tampak dalam bentuk perubahan iklim, pemanasan global, serta meningkatnya intensitas bencana alam yang bersifat ekstrem. Lebih keras lagi Yusuf Qardlawi menjelaskan bahwa kerusakan alam mencerminkan pengkhianatan manusia terhadap amanah kekhalifahan yang diberikan Allah. Peristiwa-peristiwa seperti banjir, kekeringan, dan cuaca ekstrem tidak hanya merupakan gejala ilmiah dari perubahan iklim, melainkan juga teguran spiritual agar manusia kembali menata kehidupannya selaras dengan nilai-nilai ilahiah dan keseimbangan ekosistem. Pertanyaannya buat kita bagaimana aksi nyata sebaagai wujud tanggung jawab untuk merawat bumi ini. Menjaga dan merawat bumi bisa dimulai dari hal kecil yang berdampak masif, misalnya; 1. Kelola sampah dengan baik Islam menekankan bahwa kebersihan adalah sebagian dari iman dan menjaga alam adalah kewajiban manusia sebagai khalifah. Islam melarang keras membuang sampah sembarangan dan sikap mubazir. Mengolah sampah tidak hanya menyelamatkan lingkungan dari kerusakan, tetapi juga bernilai pahala. Sebab kebersihan adalah bagian dari iman. Secara praktis memilih sampah berdasarkan bahan materialnya, yaitu organik, anorganik, serta bahan berbahaya dan beracun agar mudah diolah. 2. Hemat penggunaan energi dan air Umat muslim merupakan kelompok yang paling banyak menggunakan air. Hampir dalam semua hal, aktivitas, maupun ibadah. Namun demikian Rasul mengajarkan kita untuk hemat air. Mengapa? karena hemat air berkaitan dengan kehidupan seluruh makhluk Allah, selain itu, hal ini juga salah satu upaya demi jaga bumi. Dan yang lebih penting lagi bahwa air adalah sumber kehidupan sebagaimana firman Allah dalam surat al-Anbiya’ 30 وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ….. ….. dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup 3. Penghijauan dan konservasi Menanam pohon dan menjaga kelestarian adalah bentuk syukur dan ibadah. Menanam pohon merupakan sedekah jariyah yang mengalir pahalanya sebagaimana hadits yang artinya; Tidaklah seorang Muslim menanam pohon atau menanam tanaman, lalu burung, manusia, atau hewan memakannya, kecuali itu menjadi sedekah baginya." (HR. Bukhari dan Muslim). 4. Partisipasi dalam advokasi lingkungan Partisipasi dan advokasi merupakan dua pilar penting dalam menjaga kelestarian alam. Partisipasi berarti keterlibatan langsung masyarakat dalam menjaga lingkungan, sedangkan advokasi adalah upaya sistematis untuk membela hak atas lingkungan yang sehat dan mendorong perubahan kebijakan public. Wallahu a’lam bi al-shawaab. Karawang, 4 Juni 2026
Share:

Perintah Shalat dan Kurban

Perintah Sholat dan Kurban Oleh Masykur H. Mansyur (FKUB Karawang/FAI Unsika Karawang) Shalat dan kurban (sebagaimana tersirat dalam Surah Al-Kautsar) adalah dua bentuk ibadah yang saling melengkapi. Shalat merupakan bentuk hubungan vertikal untuk menyucikan jiwa. Shalat yang dilakukan dengan benar dan khusyuk akan membentuk karakter moral seseorang. Karakter ini harus diwujudkan dalam sikap saling menolong dan berkorban untuk kepentingan bersama. Sedangkan kurban adalah bukti cinta kasih Allah kepada hamba-Nya, karena ibadah kurban juga merupakan merefleksikan rasa kemanusiaan. Dimana Allah mengganti perintah pengorbanan anak pada zaman Nabi Ibrahim dengan seekor domba sebagai bukti bahwa Allah sangat mencintai dan menghormati manusia, bukan untuk mengorbankan nyawa manusia. Disamping itu juga, kurban adalah sebagai wujud aktualisasi kepedulian sosial, kemanusiaan, dan spiritualitas secara horizontal. Jadi shalat dan kurban adalah satu kesatuan. Ibadah vertikal, dalam hal ini shalat akan melahirkan empati sosial yang sempurna jika disertai dengan ibadah horizontal seperti berkurban. Perhatikan surat al-An’am 6 [162] قُلْ اِنَّ صَلَاتِيْ وَنُسُكِيْ وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِيْ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَۙ Katakanlah sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Menurut Ibnu Katsir (Ringkas) / Fathul Karim Mukhtashar Tafsir al-Qur'an al-'Adzhim, karya Syaikh Prof. Dr. Hikmat bin Basyir bin Yasin, Professor Fakultas al-Qur'an Universitas Islam Madinah. Menjelaskan bahwa Allah SWT memerintahkan untuk memberitahu orang-orang musyrik yang menyembah selain Allah dan menyembelih hewan dengan menyebut nama selain Allah, bahwa dia berbeda dengan mereka dalam hal itu. Sesungguhnya shalat dan ibadahnya hanya untuk Allah saja, dan tidak ada sekutu bagi-Nya. Jadi yang dimaksud dalam ayat tersebut adalah bukan hanya shalat dan sembelihan biasa, tapi keseluruhan hidup harus menjadi wujud syukur atas nikmat itu. Hal ini senada sebagaiamana firman-Nya dalam surat al-Kautsar 108 [2], yaitu: فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْۗ (Maka dirikanlah salat karena Tuhanmu, dan berkorbanlah yaitu ikhlaskanlah shalat dan kurbanmu hanya untuk-Nya. Sesungguhnya orang-orang musyrik itu menyembah berhala dan menyembelih untuk berhala. Jadi Allah memerintahkan kepada beliau untuk berbeda dengan mereka dan menyimpang dari apa yang mereka lakukan, serta menghadapkan diri dengan maksud dan niat yang tulus ikhlas kepada Allah SWT. Maka laksanakanlah sholat karena Tuhanmu dan berkurbanlah Ada yang berpendapat bahwa yang dimaksud dengan shalat adalah perintah melaksanakan shalat lima waktu. Sementara pendapat lain dari beberapa murid Ibn Abbas memahami perintah shalat, tapi shalat Idul Adha. Menurut tafsir Jalalain yang dimaksud dengan shalat adalah shalat hari raya kurban. Wanhar dalam ayat tersebut dan berkurbanlah untuk manasik hajimu. Ada pula yang mengartikan nusuk pada ayat tersebut dengan sembelihanku. Disebutkan shalat dan kurban adalah karena keutamaan kedua ibadah ini, di mana hal itu menunjukkan cinta kepada Allah SWT, mengikhlaskan ibadah kepada-Nya, dan menunjukkan pendekatan diri kepada Allah baik dengan hati, lisan, anggota badan maupun dengan harta. Sholat merupakan tiang agama yang berfungsi sebagai sarana komunikasi langsung dengan Allah SWT. Ibadah ini membawa dampak luar biasa, mulai dari memberikan ketenangan batin, menjadi benteng dari perbuatan keji dan mungkar, hingga meningkatkan kesehatan fisik melalui setiap gerakannya Setiap orang yang melaksanakan shalat, maka ia akan menjadikan shalat sebagai momentum relaksasi untuk mengadukan segala masalah dan menenangkan pikiran dari tekanan hidup. Orang yang tekun melaksanakan shalat, akan senantiasa menjaga moral dan perilaku agar tetap berada di jalan yang benar sesuai tuntunan agama. Dan dengan shalat dapat menjadi penggugur dosa-dosa kecil, asalkan pelakunya menjauhi dosa-dosa besar dan hasilnya akan mendatangkan limpahan pahala yang besar. Sebagaimana sabda Rasulullah saw الصَّلَاةُ الْخَمْسُ وَالْجُمْعَةُ إِلَى الْجُمْعَةِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُنَّ مَا لَمْ تُغْشَ الْكَبَائِرُ Shalat lima waktu dan shalat Jumat ke Jumat berikutnya adalah penghapus untuk dosa di antaranya selama tidak melakukan dosa besar. Mengingat shalat sebagai kewajiban yang harus dijalankan dengan penuh kesadaran dan khusyu’. Maka setiap kali melaksanakan shalat, kita seharusnya merasakan betapa besar karunia Allah yang telah memberikan kita sarana untuk menghapus dosa-dosa kita. Sedangkan perintah kurban, bahwa setiap umat telah disyari’atkan penyembilihan hewan kurban sebagaimana firman Allah dalam surat al-Hajj 22 [34] وَلِكُلِّ اُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنْسَكًا لِّيَذْكُرُوا اسْمَ اللّٰهِ عَلٰى مَا رَزَقَهُمْ مِّنْۢ بَهِيْمَةِ الْاَنْعَامِۗ فَاِلٰهُكُمْ اِلٰهٌ وَّاحِدٌ فَلَهٗٓ اَسْلِمُوْاۗ وَبَشِّرِ الْمُخْبِتِيْنَ ۙ Bagi setiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (kurban) agar mereka menyebut nama Allah atas binatang ternak yang dianugerahkan-Nya kepada mereka. Tuhanmu ialah Tuhan Yang Maha Esa. Maka, berserahdirilah kepada-Nya. Sampaikanlah (Nabi Muhammad) kabar gembira kepada orang-orang yang rendah hati lagi taat (kepada Allah). Motif utama pekurban seyogianya bukan perkara duniawi seperti menarik pujian atau simpati. Melainkan, sudah semestinya kurban yang ditunaikan murni ditujukan untuk-Nya. Sebab, hakikat dan esensi berkurban ialah tercapainya ketakwaan dalam diri seseorang. “Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya.” (QS. al-Hajj [22]: 37). Relevansi ibadah sholat dan kurban sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits dari Abu Hurairah yang diriwayatkan Imam Ahmad dan Ibnu Majjah مَنْ كَانَ لهُ سَعَة وَلمْ يَضَحْ فَلا يَقْربَنَّ مُصَلَّانَا Barangsiapa yang mempunyai kemampuan, tetapi ia tidak berkurban maka janganlah ia mendekati (menghampiri) tempat shalat kami, Berkurban memiliki pahala dan keutamaan yang besar. Karena itu, tuntunan berkurban disandingkan dengan perintah shalat seperti tertuang di surah al-Kautsar ayat 2. Sebuah hadis menyebut pula, berkurban sangat dicintai Allah SWT. Dan, hewan yang dikurbankan kelak akan menjadi saksi dan bukti ketulusan di hadapan-Nya. Sholat dan kurban memiliki relevansi yang sangat kuat dalam Islam, di mana keduanya diposisikan sebagai cerminan kesalehan spiritual (vertikal) dan kesalehan sosial (horizontal). Ibadah kurban selalu dikaitkan dengan pelaksanaan sholat, baik dari segi waktu pelaksanaannya maupun sebagai bentuk rasa syukur atas nikmat Allah. Penggandengan perintah sholat dan kurban, keduanya disandingkan sebagai wujud rasa syukur (terima kasih) hamba atas limpahan nikmat dari Allah SWT. Namun ada semacam ancaman tegas bagi kaum muslimin yang sudah mampu secara finansial tetapi enggan berbagi melalui kurban. Ulama menilai, orang yang meremehkan kepedulian sosial (kurban) dianggap tidak layak mengikuti syiar ibadah berjamaah seperti sholat bersama kaum muslimin lainnya Pada akhirnya antara ibadah shalat dan kurban mengandung dua poros kesalehan: Kesalehan spiritual yang diwujudkan dalam bentuk shalat: hubungan dengan Allah yang memperkuat hati dan membentuk akhlak. Kesalehan sosial yang diwujudkan dalam kurban: pengorbanan untuk memberi manfaat kepada sesama. Wallahu a’lam bi al-shawaab
Share:

Keteguhan dan Kepasrahan Nabi Ibrahim dan Ismail

Keteguhan dan Kepasrahan Nabi Ibrahim dan Ismail Oleh Masykur H. Mansyur (FKUB Kabupaten Karawang) Kita semua pernah mencintai suatu dengan sangat dalam, mungkin anak kita, mungkin pasangan kita, mungkin harta dan kekayaan kita, mungkin juga kekuasaan dan jabatan kita, mungkin impian kita, mungkin harapan kita, yang sudah kita kejar bertahun-tahun lamanya. Dan justru disanalah pertanyaan itu muncul diam-diam seberapa jauh kita rela untuk melepasknannya, kalaulah Allah memintanya untuk melepaskannya. Itulah yang Allah minta dari nabiyullah Ibrahim as. Padahal beliau puluhan tahun belum punya anak. Berdo’a dan berusaha dengan air mata yang panjang, lalu do’a dan usahanya terkabul ketika beliau berusia sudah senja. Allah karuniakan seorang anak yang diberi nama Ismail. Dan hebatnya lagi anak tersayang buah hati satu-satunya, Allah minta untuk menyembelihnya. Tapi dengan kesabarannya Nabi Ibrahim tidak pernah lari, mencari alasan, ataupun takut dalam mengghadapi ini semua, bahkan beliau berinteraksi dengan intens bersama Ismail dengan penuh kelembutan, kebijaksaan. Dan Ismail tanpa ragu menjawab dengan tenang penuh keikhlasan “Wahai ayahku lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu”. Satu kalimat yang penuh haru yang tidak hadir dalam semalam, tapi lahir dari pendidikan bertahun-tahun lamanya karena Ibrahim dan Ismail lebih memilih Allah di atas segalanya. Ini adalah ujian nyata yang berat, sulit dan sangat besar bagi keduanya sebgaimana firman-Nya dalam surat as-Shoffat 37 106 اِنَّ هٰذَا لَهُوَ الْبَلٰۤؤُا الْمُبِيْنُ Sesungguhnya perintah ini benar-benar suatu ujian yang nyata dari Allah untuk menguji keimanan dan ketaatan hamba terhadap perintah-Nya. Tidak ada cobaan yang lebih sulit dari itu. Allah SWT menguji Ibrahim dengan perintah menyembelih puteranya untuk membuktikan kebesaran ketakwaannya, belaiupun menjalankan dengan sabar dan mengharap pahala di sisi-Nya. Dan ketika sampai pada waktunya maka beliaupun melaksanakannya dan perhatikan dialog antara nabi Ibrahim dengan Ismail, as-Shoffat 37 [102]. فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يٰبُنَيَّ اِنِّيْٓ اَرٰى فِى الْمَنَامِ اَنِّيْٓ اَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرٰىۗ قَالَ يٰٓاَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُۖ سَتَجِدُنِيْٓ اِنْ شَاۤءَ اللّٰهُ مِنَ الصّٰبِرِيْنَ Maka ketika anak itu sampai pada usia sanggup berusaha bersamanya, Nabi Ibrahim berkata, “Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku dalam mimpiku itu diperintah oleh Allah untuk menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!” Dengan penuh kepasrahan kepada Allah dan ketaatan pada ayahnya, dia menjawab, “Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan oleh Allah kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar dalam melaksanakan perintah-Nya.” Kita sering berkata bahwa kita mencintai anak-anak kita, tapi cinta semacam apa yang sedang kita perjuangkan dan kita wariskan kepada mereka?. Rupanya kita sering sibuk dengan menyiapkan masa depan mereka dengan baik, menabung untuk biaya Pendidikan mereka, mencarikan pekerjaan untuk mereka, mencarikan jodoh terbaik buat mereka, bahkan kita berjuang semaksimal mungkin agar anak-anak kita tidak kekurangan apapun dari segi materi dan finasial. Tapi pertanyaannya apakah mereka pernah melihat kita orangtuanya menangis dalam sujud kita ?. apakah mereka tahu bahwa semua kesibukkan kita sebagai orang tua masih punya Allah sebagai tempat Kembali ?. Maka, tatkala sampai pada waktunnya, surat as-Shoffat 37 [103-104] فَلَمَّآ اَسْلَمَا وَتَلَّهٗ لِلْجَبِيْنِۚ وَنَادَيْنٰهُ اَنْ يّٰٓاِبْرٰهِيْمُ ۙ Maka ketika keduanya telah berserah diri dan dia (Ibrahim) membaringkan anaknya atas pelipisnya (untuk melaksanakan perintah Allah). Lalu Kami panggil dia wahai Ibrahim. Ketaatan Ismail bukanlah tiba-tiba, tapi dia adalah buah dari pendidikan orang tua yang tidak pernah mengajarkan dunia sebagai tujuan hidup. Dan hari ini kita mendapatkan pelajaran tentang cinta yang sesungguhnya, yaitu mengajarkan anak kita untuk cinta kepada Allah SWT, bukan sekedar cinta kepada dunia yang fana ini. Kalaulah hari ini Allah meminta kepada kita untuk melepaskan hal yang kita cintai, tentu kita sudah siap untuk menyerahkan kepada pemilik sesungguhnya yaitu Alllah SWT. Belajar dari kisah para nabi, umat Islam diharapkan mampu menjadikan qurban sebagai momentum untuk meningkatkan kualitas keimanan, keikhlas dalam berqurban bukan hanya berarti menyembelih hewan, tetapi juga rela mengorbankan waktu, tenaga, dan harta demi kemaslahatan bersama. Sikap ikhlas ini dapat diterapkan dalam berbagai aspek kehidupan, seperti membantu sesama, bersedekah, dan menjalankan tugas dengan penuh tanggung jawab. Perhatikan surat al-Hajj 22 [37] لَنْ يَّنَالَ اللّٰهَ لُحُوْمُهَا وَلَا دِمَاۤؤُهَا وَلٰكِنْ يَّنَالُهُ التَّقْوٰى مِنْكُمْۗ كَذٰلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللّٰهَ عَلٰى مَا هَدٰىكُمْ ۗ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِيْنَ Daging (hewan kurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaanmu. Demikianlah Dia menundukkannya untukmu agar kamu mengagungkan Allah atas petunjuk yang Dia berikan kepadamu. Berilah kabar gembira kepada orang-orang yang muhsin. Pada akhirnya, makna qurban dalam Islam adalah tentang perjalanan spiritual menuju ketakwaan yang lebih tinggi. Kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail mengajarkan bahwa keikhlasan dan ketaatan tanpa ragu dan kepasrahan secarra total terhadap perntah Allah akan selalu berbuah kebaikan, meskipun perintah tersebut sangat berat secara logika dan perasaan. Dengan memahami makna ini, ibadah qurban tidak hanya menjadi ritual tahunan, tetapi juga sarana untuk membentuk pribadi yang lebih sabar, peduli, dan penuh rasa syukur. Melalui semangat qurban, umat Islam diajak untuk terus menebarkan kebaikan dan menjadikan nilai pengorbanan sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Wallahu a’lam bi al-showaab
Share:

Malaikat Berganti Shift pada Waktu Ashar dan Subuh Oleh Masykur H. Mansyur (FKUB Karawang)

Rasulullah SAW menginformasikan bahwa para Malaikat berkumpul di waktu sholat Subuh dan waktu sholat Ashar. Karena di waktu Shubuh dan Ashar, para Malaikat berkumpul untuk berganti tugas, berganti shift di bumi. Lantas malaikat yang bermalam naik dan Tuhan mereka menanyai mereka (meskipun Allah paling tahu terhadap mereka), bagaimana kalian tinggalkan hamba-hamba-Ku?. Jawab para malaikat, "Kami tinggalkan mereka dalam keadaan sholat, dan kami datangi mereka juga dalam keadaan sholat." (HR Muslim) Waktu ashar merupakan waktu bertemunya malaikat yang bertugas di siang hari dengan malaikat yang akan bertugas di malam hari, maka lakukan shalat ashar karena ketika malaikat ditanya oleh Allah "sedang apa hamba-Ku?" Malaikat akan menjawab "sedang shalat". Waktu subuh merupakan waktu bertemunya malaikat yang bertugas di malam hari dengan malaikat yang akan bertugas di siang hari, maka lakukan shalat subuh karena ketika malaikat ditanya oleh Allah "sedang apa hamba-Ku?" Malaikat akan menjawab "sedang shalat". Dalam hadits dijelaskan عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ يَتَعَاقَبُونَ فِيكُمْ مَلَائِكَةٌ بِاللَّيْلِ وَمَلَائِكَةٌ بِالنَّهَار،ِ وَيَجْتَمِعُونَ فِي صَلَاةِ الْعَصْرِ وَصَلَاةِ الْفَجْرِ، ثُمَّ فَيَعْرُجُ الَّذِينَ بَاتُوا فِيكُمْ فَيَسْأَلُهُمْ رَبُّهُم وَهُوَ أَعْلَمُ بِهِمْ ُ كَيْفَ تَرَكْتُمْ عِبَادِي ؟ فَيَقُولُونَ أأَتَيْنَاهُمْ وَهُمْ يُصَلُّونَ وَتَرَكْنَاهُمْ وَهُمْ يُصَلُّون. Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: "momen terbaik untuk dipersaksikan para Malaikat malam hari dan para malikat siang hari silih berganti mendatangi kalian. Mereka berkumpul ketika sholat Subuh dak ketika sholat Ashar. Lalu. Malaikat yang mengawasi kalian di malam hari naik ke langit, lantas Allah bertanya kepada mereka (walau sesungguhnya Allah lebih tahu), 'bagaimana kalian tinggalkan hamba-hamba-Ku? Para Malaikat menjawab, 'kami datangi mereka, ketika mereka sedang melaksanakan sholat, dan kami meninggalkan mereka ketika mereka juga sedang mendirikan shalat’. (HR Bukhari & Muslim ) Pertanyaannya kenapa dua waktu itu yang dipilih Malaikat melapor pada waktu Ashar dan Subuh karena dua waktu tersebut merupakan momen pergantian tugas malaikat penjaga siang dan malam. Mereka berkumpul, naik ke langit, dan menyampaikan laporan amal manusia kepada Allah SWT. Kedua waktu ini dipilih karena merupakan titik krusial pergantian waktu, di mana shalat berjamaah sangat dianjurkan. Kenapa sholat subuh, karena pada waktu sholat subuh disaksikan oleh Malaikat, sebagaimana Firmn Allah dalam surat al-Isra’ 17 [78] أَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ لِدُلُوكِ ٱلشَّمۡسِ إِلَىٰ غَسَقِ ٱلَّيۡلِ وَقُرۡءَانَ ٱلۡفَجۡرِۖ إِنَّ قُرۡءَانَ ٱلۡفَجۡرِ كَانَ مَشۡهُودٗا ٧٨ Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap’ malam dan (dirikanlah pula shalat) subuh. Sesungguhnya shalat subuh itu disaksikan (oleh malaikat) Keutamaan sholat subuh Subuh menandai awal perencanaan aktivitas produktif, sementara ashar adalah waktu krusial laporan amal harian. Barang siapa yang bangun untuk shalat Subuh, maka ia telah membuka peluang besar mendapatkan perlindungan Allah. sholat subuh juga disaksikan oleh Malaikat, yaitu Malaikat siang dan Malaikat malam. Ustadz Adi Hidayat menekankan bahwa shalat Subuh yang dijaga akan menjadi pelindung dari berbagai kesulitan yang tak terlihat. 1. Disaksikan Langsung oleh malaikat Sholat Subuh menjadi ibadah yang secara khusus disaksikan oleh malaikat, sebagaimana disebutkan dalam HR Al-Bukhari No. 137 dan HR Muslim No. 632. Pada waktu ini, malaikat diperintahkan Allah untuk mencatat siapa saja yang memohon ampun dan berdoa kepada-Nya. Karena itu, waktu Subuh sangat dianjurkan untuk meningkatkan ketakwaan dan memperbanyak dzikir. 2. Bernilai pahala seperti sholat semalam penuh Dalam HR Muslim No. 656 dijelaskan bahwa seseorang yang melaksanakan sholat Isya berjamaah memperoleh pahala setengah malam, sedangkan mereka yang menunaikan sholat Subuh berjamaah mendapatkan pahala seperti sholat semalam suntuk. Keutamaan ini menunjukkan betapa besar nilai ibadah Subuh jika dikerjakan dengan istiqamah dan berjamaah. 3. Amalan yang mengantarkan ke surga Rasulullah SAW menyebutkan bahwa sholat Subuh dan Ashar merupakan dua sholat yang menjadi sebab langsung seseorang dijamin masuk surga (HR Al-Bukhari No. 574 dan HR Muslim No. 635). Konsistensi dalam menjaga dua sholat ini menjadi tanda kuatnya iman dan kedekatan seorang hamba dengan Allah SWT. 4. Dijamin mendapatkan kebaikan dan kemudahan hidup Dalam HR Muslim No. 163 dijelaskan bahwa siapa saja yang menjaga sholat Subuh akan berada dalam jaminan Allah. Artinya, Allah akan memberikan perlindungan, kemudahan urusan, serta membuka pintu rezeki. Kesulitan hidup pun akan dimudahkan dengan izin-Nya. Sementara itu, sholat ashar berada di penghujung siang dan menjelang malam, waktu di mana banyak orang mulai lengah. Sehingga sholat ashar sering ditinggalkan karena kesibukan sore hari. Justru karena sulit dijaga pahala sholat ini sangatlah besar. Dalam al-Qur’an surat al-Baqarah 2 [238] Allah berfirman حَٰفِظُواْ عَلَى ٱلصَّلَوَٰتِ وَٱلصَّلَوٰةِ ٱلۡوُسۡطَىٰ وَقُومُواْ لِلَّهِ قَٰنِتِينَ ٢٣٨ Peliharalah semua shalat(mu), dan (peliharalah) shalat wusthaa. Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu´ Maksud ayat tersebut kerjakanlah sholat lima waktu dengan rutin dan tepat waktunya, lengkap semua rukun dan syaratnya, dengan hati yang khusyu’ tanpa tergesa-gesa maupun menunda-nunda. Dan sholat wustha’ dari kata al- washath artinya adil dan yang terbaik. Al-wustha artinya yang paling utama. Bisa jadi pula makna yang diaksud sholat yang tengah-pertengahan dari segi jumlah, sebab ia terletak di tengah antra dua sholat sebelumnya dan dua sholat setelahnya. Syekh Mutawalli asy-Sya’rawi memaparkan bahwa ternyata ulama berbeda pendapat tentang makna salat wustha pada ayat tersebut. Apakah ia adalah sholat ashar, maghrib, isya, subuh ataukah dzuhur? Pembahasan mengenai hal tersebut, menurut Syekh asy-Sya’rawi, merupakan pembahasan yang mendalam, dimana makna dari salat wustha dapat dimungkinkan pada seluruh sholat yang lima waktu itu. Hal tersebut -menurut beliau- terjadi karena sesuatu apapun tidak dapat disebut sebagai wustha (di tengah), kecuali bila ia berada pada dua posisi yang berseberangan. Sedangkan pendapat yang memahami sholat wustha adalah shalat ashar, mereka berlandaskan pada hadis Nabi Muhammad Saw. saat Perang Khondaq, yang berbunyi: حَبَسُوْنَا عَنْ صَلاَةِ الوُسْطَى حَتَّى غَابَتِ الشَّمْشُ، مَلَأَ اللّهُ قُبُوْرَهُمْ وَبُيُوْتَهُمْ -أَوْ أَجْوَافَهُمْ- نَارًا “Mereka telah memblokir kita hingga kita tidak dapat melaksanakan sholat wustha hingga matahari tenggelam. Kita do’akan semoga Allah Swt. memenuhi kuburan atau rumah, atau perut mereka dengan api”. (HR. Bukhari: 4169). Wahbah az-Zuhaili mengatakan bahwa sholat wustha’ menurut pendapat yang kuat adalah wustha’ artinya sholat Ashar. Bersadar hadits marfu’ riwayat Muslim dan Abu Dawud dari Ali waktu perang Ahzab. شَغَلُوْنَ عَنِ الصّلاَة الوُسْطَى – صلاةِ العَصْرِ Mereka orang-orang kafir itu menyibukan kita sehingga tidak sempat mengerjakan sholat wustha – shalat Ashar. Pada hadits lain disebutkan فَإِنْ اسْتَطَعْتُمْ أَنْ لَا تُغْلَبُوا عَلَى صَلَاةٍ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ غُرُوبِهَا فَافْعَلُوا Jika kalian tidak lemah untuk melakukan sholat sebelum matahari terbit dan sebelum matahari terbenam, maka lakukanlah. HR Bukhari Dengan menjaga shalat Ashar, seseorang memperlihatkan keteguhan dalam ibadah meskipun dalam kondisi lelah. Itulah sebabnya, menjaga waktu ashar juga menjadi tanda keimanan dan keistiqamahan seorang hamba. Waktu sore hari, khususnya setelah sholat ashar hingga menjelang maghrib, adalah salah satu waktu dimana do’a - do’a lebih mudah dikabulkan oleh Allah. Dido’akan oleh malaikat secara khusus, sebagaimana hadits riwayat imam Tirmidzi,dan Ahmad. semoga Allah merahmati seseorang yang sholat sebelum terbenamnya mata hari dan sebelum terbitnya. Dalam al-Qur’an surat Qaf 50 [39] فَٱصۡبِرۡ عَلَىٰ مَا يَقُولُونَ وَسَبِّحۡ بِحَمۡدِ رَبِّكَ قَبۡلَ طُلُوعِ ٱلشَّمۡسِ وَقَبۡلَ ٱلۡغُرُوبِ ٣٩ 39. Maka bersabarlah kamu terhadap apa yang mereka katakan dan bertasbihlah sambil memuji Tuhanmu sebelum terbit matahari dan sebelum terbenam(nya). Dalam sebuah hadits dinyatakan ‘"Kami pernah duduk bersama Rasulullah SAW pada malam bulan purnama, lalu beliau mengarahkan pandangannya ke bulan dan bersabda: 'Sungguh, kelak di akhirat kalian a’kan melihat Rabb kalian sebagaimana kalian melihat bulan pada malam ini. Masing-masing dari kalian akan dapat dengan mudah melihat-Nya. Oleh karena itu, sekiranya kalian mampu untuk tidak ketinggalan mengerjakan sholat sebelum terbit matahari dan sebelum terbenamnya (secara berjamaah), hendaklah kalian mengerjakannya. Sebagai penutup mari kita mempersiapkan diri dan istiqamah untuk mulai membiasakan diri menjaga sholat kita dengan tepat waktu.Tidak hanya sebagai kewajiban, tetapi juga sebagai bentuk cinta dan taqwa kepada Allah. Dengan menjaga sholat tepat waktu ini, berarti kita sedang memohon perlindungan-Nya dalam setiap langkah kehidupan.
Share:

Istiqomah Salah Satu Ibadah Terberat Di Zaman Modern

Istiqamah Salah Satu Ibadah Terberat Di Zaman Modern Oleh: Masykur H. Mansyur (Ketua FKUB Karawang, dosen FAI Unsika Karawang) Istiqamah (konsistensi) dalam beribadah adalah salah satu ibadah terberat karena melawan hawa nafsu dan godaan duniawi yang dinamis. Ibadah ini menuntut keteguhan hati, bukan sekadar kuantitas, tapi juga untuk tetap taat kepada Allah SWT, menjadikannya kunci kemuliaan dan ketakwaan, serta amalan yang paling dicintai Allah. Secara bahasa istqamah diartikan sebagai lurus, teguh dan tetap. Sedangkan menurut istilah diartikan sebagai keadaan atau upaya seseorang untuk tetap teguh mengikuti jalan lurus (agama Islam) yang ditunjuk oleh Allah SWT. Siapa yang disebut dengan orang yang istiqamah itu, orang yang istiqamah adalah orang yang serasi antara hati, lisan (ucapan) dan tindakan berdasarkan keimanan, sebagaimana hadits Rasulullah yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal dari Anas bin Malik. لَايَسْتَقِيْمُُ إيْمَانُ عَبْدٍ حتي يَسْتَقِيْمَ قَلْبُهُ, وَلآ يَسْتَقِيْمُُ قَلْبُهُ حتي يَسْتَقِيْمَ لِسَانِهِ Tidaklah dapat dikatakan istiqamah iman seorang hamba, sehingga hatinya istiqamah, hatinya tidak dapat dikatakan istiqamah sehingga lisannya istiqamah Di samping itu orang yang istiqamah adalah orang yang berlaku lurus, sopan dan berbudi pekerti yang baik sebagaimana al-Qur’an surat al-Taubah 9 [7] …..فَمَا ٱسۡتَقَٰمُواْ لَكُمۡ فَٱسۡتَقِيمُواْ لَهُمۡۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلۡمُتَّقِينَ ٧ maka selama mereka berlaku lurus terhadapmu, hendaklah kamu berlaku lurus (pula) terhadap mereka. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertakwa. Kenapa istiqamah dikatakan sebagai ibadah terberat antara lain Tantangan istiqamah di zaman modern diantaranya; 1. Distraksi digital dan kecepatan. Dimana budaya instan dan media sosial menciptakan distraksi yang membuat konsistensi dalam ibadah cenderung menjadi sulit. 2. Belum lagi gaya hidup hedonis menjadi godaan materialism seringkali menggeser prioritas ibadah. 3. Termasuk kita harus hati-hati dengan kemaksiatan digital memungkinkan akses mudah terhadap hal-hal negative, menuntut keteguhan hati yang lebih kuat. meskipun penuh godaan Istiqamah bukanlah hal mustahil dan menjadi solusi utama untuk menjaga kualitas iman di tengah perkembangan IPTEK serta kemaksiatan yang semakin kompleks. Apa saja bentuk istiqamah di zaman modern Istiqamah saat ini tidak harus membatasi diri dari kemajuan teknologi, melainkan bagaimana mempertahankan agar tetap survive di tengah arus modernisasi. Dengan memperhatikan; 1. Ibadah secara konsisten ((bukan sekedar kuantitas), misalnya memulai dengan amalan kecil yang rutin, seperti sholat tepat waktu di sela kesibukan 2. Etika digital; yakni menggunakan media sosial untuk kebaikan dan menghindari penyebaran hoaks atau konten negative 3. Integritas (amanah); yakni jujur dalam bekerja dan bertanggung jawab di tengah lingkungan yang serba cepat, serta komitmen dalam setiap peran dan profesi yang kita jalani. Bagaimana caranya agar kita tetap istiqamah dalam beribadah 1. Managemen waktu ibadah Yaitu menjadwalkan ibadah sama pentingnya dengan pekerjaan 2. Memperhatikan lingkungan yang mendukung Yakni mencari komunitas atau teman yang mengingatkan pada kebaikan 3. Niat yang tulus Dengan memperbaharui niat ikhlas untuk meningkatkan ketakwaan, bukan sekedar rutinitas. Istiqamah di zaman modern, meski terlihat sulit, menuntun kita untuk tetap memiliki pedoman di dunia yang terus berubah secara dinamis. Oleh karena itu bagaimanapun modernnya zaman, istiqamah (teguh pendirian) selalu dipakai dalam arti yang positif. Pertama. Istiqamah dapat berfungsi sebagai pencegah setiap pribadi agar tidak tergoda oleh prilaku maksiat dan lebih-lebih ingkar kepada Allah setelah ia beriman. Perhatikan al-Qur’an surat Fushshilat 41 [6] قُلۡ إِنَّمَآ أَنَا۠ بَشَرٞ مِّثۡلُكُمۡ يُوحَىٰٓ إِلَيَّ أَنَّمَآ إِلَٰهُكُمۡ إِلَٰهٞ وَٰحِدٞ فَٱسۡتَقِيمُوٓاْ إِلَيۡهِ وَٱسۡتَغۡفِرُوهُۗ وَوَيۡلٞ لِّلۡمُشۡرِكِينَ ٦ Artinya; Katakanlah: "Bahwasanya aku hanyalah seorang manusia seperti kamu, diwahyukan kepadaku bahwasanya Tuhan kamu adalah Tuhan yang Maha Esa, maka tetaplah pada jalan yang lurus menuju kepada-Nya dan mohonlah ampun kepada-Nya. Dan kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang mempersekutukan-Nya Kedua. Orang yang istiqamah akan mendapatkan rezki yang banyak, sebagaimana firman Allah dalam surat al-Jin 72 [16] وَأَلَّوِ ٱسۡتَقَٰمُواْ عَلَى ٱلطَّرِيقَةِ لَأَسۡقَيۡنَٰهُم مَّآءً غَدَقٗا ١٦ Dan bahwasanya: jikalau mereka tetap berjalan lurus di atas jalan itu (agama Islam), benar-benar Kami akan memberi minum kepada mereka air yang segar (rezeki yang banyak) Ketiga orang yang istiqamah memperoleh surga, al-Qur’an surat Fushshilat 41 [30] إِنَّ ٱلَّذِينَ قَالُواْ رَبُّنَا ٱللَّهُ ثُمَّ ٱسۡتَقَٰمُواْ تَتَنَزَّلُ عَلَيۡهِمُ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ أَلَّا تَخَافُواْ وَلَا تَحۡزَنُواْ وَأَبۡشِرُواْ بِٱلۡجَنَّةِ ٱلَّتِي كُنتُمۡ تُوعَدُونَ ٣٠ Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka Malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: "Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu" Keempat, Do’a orang yang istiqamah akan diterima Dalam hadits riwayat Imam Ahmad dari Abu Zar yang artinya sungguh beruntunglah orang yang lkhlas hatinya, menjadikan hatinya selamat, lisannya benar, jiwanya tenang, budi pekertinya teguh, telinganya mau mendengar, matanya mau melihat. Maka telinga cukup teliti (dalam menyaring berita), dan mata mengakui pada apa yang disadari hatinya, dan berbahagialah orang yang menjadikan hatinya sadar. Wallahu a’lam bi al-shawwab
Share:

Postingan Populer

Diberdayakan oleh Blogger.

Recent Posts

Unordered List

  • Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit.
  • Aliquam tincidunt mauris eu risus.
  • Vestibulum auctor dapibus neque.

Pages

Theme Support

Need our help to upload or customize this blogger template? Contact me with details about the theme customization you need.