• This is default featured slide 1 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

  • This is default featured slide 2 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

  • This is default featured slide 3 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

  • This is default featured slide 4 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

  • This is default featured slide 5 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Khutbah Jum’at Alam Semesta-pun Bertasbih

Khutbah Jum’at Alam Semesta-pun Bertasbih Oleh Masykur H. Mansyur (Ketua FKUB Karawang) Kalimat tasbih yaitu mengikrarkan kesucian terhadap Allah SWT dari segala sifat kekurangan, kesalahan, keburukan, aib atau segala sesuatu yang tidak layak bagi-Nya, baik yang terlintas dalam hati dan pikiran pengucap maupun pihak lain. Kalimat tasbih dikenal dengan ucapan subhanallah. Subhanallah (Maha Suci Allah). Kata tasbih berasal dari kata kerja sabbaha dan yusabbihu yang artinya mensucikan. Tasbih termasuk amalan yang sangat mudah, tapi sarat pahala. Sebagai bagian dari dzikir, tasbih bisa dilakukan kapan pun dan di manapun; tidak mesti di masjid dan tidak harus dalam keadaan suci. Karena kalimat suci, maka lebih baik dalam keadaan suci.Tasbih bisa dilafalkan dalam perjalanan pergi atau pulang kerja, di kantor, sekolah, rumah, pasar, tempat olah raga, mall dan lain sebagainya. Bahkan Allah SWT memerintahkan bertasbih baik di dalam shalat maupun di luar shalat bahkan sepanjang waktu, sebagaimana firman-Nya dalam al-Qur’an surat al-Ahzab 33 [42] وَّسَبِّحُوْهُ بُكْرَةً وَّاَصِيْلًا Dan bertasbihlah kepada-Nya pada waktu pagi dan petang (dengan menyucikan Allah dari sifat-sifat kekurangan). Dan dikuatkan lagi dalam surat Thoha 20 [130] فَاصْبِرْ عَلٰى مَا يَقُوْلُوْنَ وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ قَبْلَ طُلُوْعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ غُرُوْبِهَاۚ وَمِنْ اٰنَاۤئِ الَّيْلِ فَسَبِّحْ وَاَطْرَافَ النَّهَارِ لَعَلَّكَ تَرْضٰى Maka, bersabarlah engkau (Nabi Muhammad) atas apa yang mereka katakan dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu sebelum matahari terbit dan sebelum terbenam. Bertasbihlah (pula) pada waktu tengah malam dan di ujung siang hari agar engkau merasa tenang. Tasbih adalah amalan para Nabi dan orang-orang beriman. Bahkan, seluruh alam semesta, yang di langit, bumi, dan di antara keduanya, semua yang berada di bawah Arsy Allah sejatinya mereka semua bertasbih kepada Allah tanpa henti untuk mendapatkan jalan (washilah) menuju kepada-Nya. Seluruh makhluk, langit, dan bumi bertasbih memuji Allah, menjadikan kalimat ini selaras dengan ritme alam raya. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam al-Qur’an surat al-Isra’ 17 [44], تُسَبِّحُ لَهُ السَّمٰوٰتُ السَّبْعُ وَالْاَرْضُ وَمَنْ فِيْهِنَّۗ وَاِنْ مِّنْ شَيْءٍ اِلَّا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهٖ وَلٰكِنْ لَّا تَفْقَهُوْنَ تَسْبِيْحَهُمْۗ اِنَّهٗ كَانَ حَلِيْمًا غَفُوْرًا Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun. Sayyid Quthb dalam Tafsir fi Zhilalil Qur’an menafsirkan ayat ini,….sungguh indah pemandangan semesta alam yang unik ini ketika menggambarkan hati dan jiwa. juga ketika bercerita tentang kerikil dan bebatuan, biji-bijian dan dedaunan, bunga-bunga dan buah-buahan, tumbuhan dan pepohonan, semut dan binatang melata lainnya, hewan dan manusia, mahluk yang berjalan di daratan dan yang berenang di lautan serta yang melayang di angkasa. Semuanya bersama-sama dengan penghuni langit bertasbih dan menghadapkan wajah nuraninya kepada Allah yang berada kepada ketinggian-Nya. Hati Nurani ini benar-benar bergetar mana kala merasakan adanya kehidupan bergerak di sekitar diri ini, yang terlihat maupun yang tak terlihat. Setiap kali tangan ini hendak menyentuh sesuatu, dan setiap kali kaki ini hendak menginjak sesuatu, terngiang darinya suara tasbih kepada Allah, seraya ia ikut berdenyut bersama nadi kehidupan. Semuanya bertasbih dengan cara dan bahasanya masing-masing, tetapi manusia tidak mengerti tasbih mereka, Sayyid Quthb lebih lanjut menjelaskan dalam tafsirnya, kamu tidak mengerti cara bertasbih mereka karena kamu terhalang oleh lempengan duniawimu. Juga karena kamu tidak bisa mendengarkannya dengan hatimu, dan kamu tidak mau membawa hatimu ke dalam rahasia-rahasia wujud yang tersembunyi. Kamu tidak berkenan membawanya kepada hukum alam yang menarik setiap benda atom yang ada di semesta alam raya ini agar semuanya menghadap kepada Sang Pencipta hukum alam dan yang mengatur alam semesta raya ini. Dikala hati ini menerawang dengan kebeningan jiwa sehingga mampu mendengar denyut nadi kehidupan dari segala mahluk yang bergerak maupun yang diam, sedangkan mereka melantunkan tasbih kepada Sang Pencipta, maka hati ini siap utuk berkomunikasi dengan Yang Maha Tinggi. Juga siap memahami rahasia-rahasia wujud yang sesungguhnya tak dapat dipahami oleh jiwa-jiwa yang lalai. Yakni jiwa yang terhalang oleh lempengan duniawi sehingga hatinya tak mampu berinteraksi dengan rahasia yang tersembunyi di dalam wujud semesta raya ini, yang sedang berdenyut bersama segala mahluk yang bergerak maupun yang diam. Al-Razi dan sejumlah ulama lainnya berpendapat bahwa tasbihnya manusia dan mahluk-mahluk berakal adalah tasbih yang sesungguhnya, artinya mereka mengucapkan “subhanallah”, untuk mencucikan dan mengagungkan Allah. Sedangkan tasbihnya selain manusia bersifat majasi, atau tasbih dilaalah (bukti). Artinya, keberadaan mahluk-mahluk tersebut menjadi bukti adanya Tuhan Sang Pencipta. Karena semua mahluk menjadi saksi bagi dirinya sendiri bahwa Allah Azza wa Jalla adalah Sang Pencipta Yang maha Kuasa. Sedangkan menurut al-Qurthubi dan sejumlah ulama lainnya berpendapat bahwa pendapat yang benar ialah segala sesuatu yang ada di alam ini benar-benar bertasbih, berdasarkan dalil-dalil yang menunjukkan hal tersebut. Seandainya tasbih tersebut sekedar tasbih dilaalah, tiada gunanya pengkhususan Nabi Dawud a.s. yang disebutkan dalam firman Allah yang artinya “bersabarlah atas apa yang mereka katakan. Dan ingatlah akan hamba Kami, Dawud yang mempunyai kekauatan; sungguh dia sangat taat (kepada Allah). Sungguh, Kamilah yang menundukkan gunung-guung untuk bertasbih Bersama dia (Dawud) pada waktu petang dan pagi. Al-Qur’an surat Shaad: 38 [17-18]) Selain sarat dengan kebaikan dan pahala, tasbih juga memiliki banyak keutamaan, antara lain; 1. Dapat menghapus dosa meskipun dosanya lebih banyak dari buih di lautan مَا عَلَى الْأَرْضِ رَجُلٌ يَقُولُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ إِلَّا كُفِّرَتْ عَنْهُ ذُنُوبُهُ وَلَوْ كَانَتْ أَكْثَرَ مِنْ زَبَدِ الْبَحْرِ. Tidak ada seorang laki-laki yang mengucapkan laa ilaaha illa Allah wa Allahu Akbar wa Subhaanallahi wal hamdulillah wa laa haulaa wa laa quwwata illaa billaah kecuali dosa-dosanya telah dileburkan darinya meskipun ia lebih banyak dari pada buih lautan. 2. Dapat menggugurkan kesalahan sebagaimana pohon menggugurkan daunnya أَخَذَ غُصْنًا فَنَفَضَهُ فَلَمْ يَنْتَفِضْ ثُمَّ نَفَضَهُ فَلَمْ يَنْتَفِضْ ثُمَّ نَفَضَهُ فَانْتَفَضَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ تَنْفُضُ الْخَطَايَا كَمَا تَنْفُضُ الشَّجَرَةُ وَرَقَهَا. Bahwasannya Rasulullah saw. mengambil ranting, lalu beliau menggugurkannya, namun ranting itu tidak gugur, kemudian beliau menggugurkannya lagi, namun tidak gugur, beliau menggugurkannya lagi, lalu ranting itu gugur. Rasulullah saw. pun bersabda, “Sungguh Subhanallah wal hamdulillah wa laa ilaaha illaa Allah wa Allahu Akbar itu dapat menggugurkan kesalahan-kesalahan sebagaimana pohon menggugurkan daunnya. 3. Ringan di ucapkan tapi berat dalam timbangan kebaikan yaitu Bacaan subhanallah wa bi hamdihi dan subhanallahil ‘Aziim 4. Bacaan yang paling dicintai Allah Subhanallah, Alhamdulillah, Laa Ilaaha Illa Allah, dan Allahu Akbar Wallahu a’lam bi al-shawaab
Share:

Khutbah Jum’at HUT Kemerdekaan RI ke 81 Tahun 2026

Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur Oleh Masykur H. Mansyur (Ketua FKUB Karawang) Mari kita jadikan Peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia tanggal 17 Agustus 2026 bukan hanya sekadar upacara seremonial tahunan belaka. Akan tetapi HUT RI Ke-81 adalah momentum perayaan milik kita semua; dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk Indonesia yang berdaulat. Sebagaimana tema HUT RI tahun ini “Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur” Oleh karena itu, masyarakat secara keseluruhan diharapkan terus berpartisipasi aktif dan mengambil peran untuk mengisi kemerdekaan ini dengan sebaik-baiknya. Peran serta masyarakat dalam mewujudkan “Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur” antara lain dengan; 1. Mensyukuri nikmat kemerdekaan Syukur kemerdekaan seyogyanya tidak diwujudkan lewat pesta pora atau kemewahan, bersenang-senang atau melampiaskan hawa nafsu yang melalaikan nilai agama. Kemerdekaan adalah amanah dan modal besar dari Tuhan yang harus diisi dengan tanggung jawab moral, kesadaran beribadah, serta pengabdian untuk membangun bangsa secara jujur dan berakhlak. Disamping menyadari hak dan kewajiban secara jernih, menggunakan kebebasan untuk berbuat kebajikan tanpa merusak kebebasan orang lain, serta menempatkan diri sebagai hamba Allah yang taat pada kebenaran. Orang yang merdeka tahu haknya, tetapi ia juga sadar kewajibannya terhadap sesama dan masyarakat. Menerima kemerdekaan dengan insaf disertai segala potensi kekuatan dan kelemahan dari bangsa dan Negara kita. Dalam Pembukaan UUD 1945 menegaskan bahwa kemerdekaan Indonesia disamping hasil usaha fisik bangsa, sejatinya pengorbanan para syuhada pahlawan bangsa, akan tetapi juga merupakan atas berkat rahmat anugerah dan kasih sayang Tuhan Yang Maha Kuasa. Hal ini menunjukkan keseimbangan antara ikhtiar manusia dan takdir Sang Pencipta Kewajiban bersyukur atas nikmat Allah sebagaimana firman Allah dalam surat al-Baqarah 2 [152] فَاذْكُرُوْنِيْٓ اَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْا لِيْ وَلَا تَكْفُرُوْنِ ࣖ Maka ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu. Bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu ingkar kepada-Ku". 2. Menjaga kesatuan dan persatuan dan menolak perpecahan Menjaga persatuan dan kesatuan berarti merawat kebersamaan dan kerukunan di tengah perbedaan suku, agama, dan budaya. Prinsip yang dianut oleh bangsa kita adalah Bhineka Tunggal Ika, yang menuntut saling menghormati keragaman suku, agama, ras, dan budaya tanpa memandang rendah kelompok lain demi menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Hal ini dapat dilakukan melalui sikap toleransi yang tinggi, saling menghormati antar warga, serta mengutamakan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi demi keutuhan bangsa. Kita bangsa Indonesia yang menganut Bhineka Tunggal Ika dengan berbagai keragaman yang ada, agar manusia saling mengenal (li ta'arafu), saling belajar, dan memperkuat persatuan dan persaudaraan bukan untuk saling membeda-bedakan atau merendahkan. Al-Qur’an menjelaskan dalam surat al-Hujurat 49 [13] يٰآاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْا ۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْ ۗاِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan. Kemudian, Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Mahateliti. Dan bangsa Indonesia jangan sampai terpecah belah karena perbedaan suku, agama, pilihan politik, maupun provokasi dan berita bohong. Jangan sampai pihak-pihak lain membuat desain agar kita sesama anak bangsa saling bertengkar, bercerei berei, sehingga lupa terhadap tujuan menjadi negeri yang berdaulat, sejahtera, aman, gemah ripah loh jinawi. Allah SWT mengingatkan dalam al-Qur’an surat Ali ‘Imran 3 [103] وَاعْتَصِمُوْا بِحَبْلِ اللّٰهِ جَمِيْعًا وَّلَا تَفَرَّقُوْا ۖ… Dan berpegangteguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai… Kekuatan utama Indonesia terletak pada semangat kebhinekaan dan gotong royong antar warga. 3. Mengisi kemerdekaan dengan karya nyata Mengisi kemerdekaan dengan karya nyata dan amal shaleh merupakan bentuk rasa syukur atas nikmat anugerah kemerdekaan dari Allah SWT. Dalam ajaran Islam, nikmat kebebasan harus diwujudkan melalui perbuatan bermanfaat, kerja keras, serta kontribusi positif bagi kemajuan bangsa dan agama. Al-Qur’an surat al-Taubah 9 [105] وَقُلِ اعْمَلُوْا فَسَيَرَى اللّٰهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُوْلُهٗ وَالْمُؤْمِنُوْنَۗ ... Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaan itu". Ayat ini memotivasi setiap Muslim untuk terus berkarya dan beramal nyata tanpa henti. Mengisi kemerdekaan berarti bekerja dan berkarya secara nyata demi kemajuan bangsa. Mewujudkan rasa syukur tidak lagi dilakukan dengan mengangkat senjata, melainkan melalui tindakan kontribusi positif, inovastif, kreatif di berbagai bidang kehidupan sesuai kapasitas dan profesi masing-masing bagi kemajuan masyarakat. Hal ini dapat diwujudkan melalui peningkatan kualitas diri, kepedulian sosial, serta pemanfaatan teknologi secara bijak sesuai moral dan akhlak untuk membangun negeri. 4. Mendo’akan para pahlawan Mendoakan para pahlawan adalah wujud penghormatan tulus atas jasa dan pengorbanan jiwa raga mereka demi merebut serta mempertahankan kemerdekaan. Kita memohon agar ampunan, rahmat dan kemuliaan derajat bagi mereka di sisi Allah, agar amal bakti dan pengorbanan mereka dalam membela bangsa, Negara dan agama diterima di sisi Tuhan Yang Maha Esa dengan pahala yang berlimpah dan ditempatkan di tempat yang paling mulia اَللّٰهُمَّ يَا اَللّٰهُ يَا مُجِيْبَ السَّائِلِيْنَ، نَسْأَلُكَ بِأَنَّكَ أَنْتَ اَللّٰهُ اَلْأَحَدُ اَلصَّمَدُ، أَنْ تَتَقَبَّلَ شُهَدَاءَنَا الَّذِيْنَ قُتِلُوا فِي سَبِيْلِكَ وَفِي سَبِيْلِ دِفَاعِ الْوَطَنِ اللَّهُمَّ أَدْخِلْهُم فِي جَنَّاتِكَ، وَجَازِهِمْ خَيْرَ الْجَزَاءِ. وَاجْعَلْ جِهَادَهُمْ وَتَفَانِيَهُمْ أُسْوَةً لَنَا فِي سَبِيلِ الْحَقِّ وَالْوَطَنِ Ya Allah, wahai Dzat yang mengabulkan doa para peminta. Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu dengan bersaksi bahwa Engkau adalah Allah, tiada tuhan selain Engkau, Yang Maha Esa, tempat bergantung, yang tidak beranak dan tidak diperanakkan, dan tiada seorang pun yang setara dengan-Nya Ya Allah, masukkanlah mereka ke dalam surga-Mu, dan berilah mereka balasan yang sebaik-baiknya. Jadikanlah jihad dan pengorbanan mereka sebagai teladan bagi kami di jalan kebenaran dan tanah air.
Share:

Khutbah Jum’at Qalbun Salim (Hati Yang Selamat)

Khutbah Jum’at Qalbun Salim (Hati Yang Selamat) Oleh Masykur H. Mansyur (Ketua FKUB Karawang) Perhatian Islam terhadap hati sangatlah besar. Al-Qur’an dan Sunnah berkali-kali menekankan bahwa baik-buruknya seorang manusia sangat ditentukan oleh kondisi hatinya. Karena hati merupakan tempat jatuhnya niat, keyakinan, serta ukuran baik atau buruknya suatu amal perbuatan seseorang. Dalam sebuah hadits Rasulullah bersabda أَلاَ وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً، إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، أَلاَ وَهِيَ الْقَلْبُ. رواه البخاري ومسلم. Ketahuilah, sesungguhnya di dalam tubuh terdapat segumpal daging. Jika segumpal daging itu baik, maka baiklah seluruh tubuhnya, dan jika segumpal daging tersebut buruk, maka buruklah seluruh tubuhnya. Ketahuilah, segumpal daging itu adalah hati.” (HR Bukhari dan Muslim) Kemudian kata salim diartikan sebagai selamat, sehat atau bersih, sehingga kata Qalbun Salim diartikan sebagai hati yang selamat. Qalbun Salim adalah hati yang bersih dari kesyirikan, keraguan, dan penyakit batin. Hati ini menjadi satu-satunya penentu keselamatan manusia di akhirat kelak saat harta dan anak tidak lagi berguna, sebagaimana firman Allah dalam al-Qur’an surat al-Syu’ara’ 26 [88-89] يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَّلَا بَنُوْنَ ۙ Yaitu pada hari ketika harta dan anak-anak tidak lagi berguna, untuk menebus semua dosa-dosa yang ada,” demikian Nabi Ibrahim menutup doanya. Allah tidak membutuhkan semua itu, karena Allah Mahakaya. اِلَّا مَنْ اَتَى اللّٰهَ بِقَلْبٍ سَلِيْمٍ ۗ Kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih, yang selamat dari noda dan dosa. Prof. Wahbah al-Zuhaili menafsirkan ayat يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَّلَا بَنُوْنَ adalah di hari itu tidaklah seseorang terselamtkan dari siksa Allah dengan hartanya, walaupun ditebus dengan emas sebesar bumi. Tidak pula dengan anak keturunannya walaupun ditebus dengan seluruh manusia yang ada di bumi. Sesungguhnya yang bisa menyelamatkan di hari itu adalah imannya kepada Allah SWT, keikhlasannya dalam beragama, dan yang terbebas dari perbuatan-perbuatan syirik dan orang-orang musyrik. Yang dimaksud dengan hati yang bersih adalah hati yang bersih dari keyakinan-keyakinan yang sesat dan akhlak yang tercela yang cenderung ke arah kemaksiatan, yang ujungnya adalah sikap kafir, syirik dan nifaq. Sa’id bin al-Musib mengatakan Qalbun Salim (hati yang selamat) adalah hati yang benar, yaitu hati orang mukmin, karena hati orang kafir adalah Qalbun Maridh (hati yang sakit) sebagaimana firman Allah dalam surat al-Baqarah 2 [10] فِيْ قُلُوْبِهِمْ مَّرَضٌۙ فَزَادَهُمُ اللّٰهُ مَرَضًاۚ وَلَهُمْ عَذَابٌ اَلِيْمٌ ۢ ەۙ بِمَا كَانُوْا يَكْذِبُوْنَ Dalam hati mereka ada penyakit, lalu Allah menambah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih disebabkan mereka berdusta. Dalam ayat lain yang terdapat pada surat al Shaafaat 37 [83-84] وَاِنَّ مِنْ شِيْعَتِهٖ لَاِبْرٰهِيْمَ ۘ اِذْ جَاۤءَ رَبَّهٗ بِقَلْبٍ سَلِيْمٍۙ Di antara para rasul yang Kami utus kepada umat terdahulu adalah Nabi Ibrahim. Dan sungguh, Nabi Ibrahim adalah termasuk golongannya, yaitu penerus ajaran dan agama Nabi Nuh. Nabi Ibrahim adalah kekasih Allah. Ingatlah ketika dia datang kepada Tuhannya dengan hati yang suci bersih dari keyakinan batil dan akhlak tercela sehingga dalam hatinya hanya ada ketaatan dan kecintaan kepada Allah. Qalbun Salīm adalah hati yang terbebas dari syirik (menyekutukan Allah), serta hati yang bersih dari berbagai penyakit batin seperti iri hati, sombong, riya’ (pamer), dengki, dan kemunafikan. Mereka memahami bahwa hanya orang yang memiliki hati yang bersih inilah yang akan selamat dan diterima oleh Allah di hari kiamat Hati yang bersih adalah hati yang mampu mengenali kebenaran dan tidak dikendalikan oleh hawa nafsu. Nabi Ibrahim as, telah menghadap Rabbnya dengan hati yang selamat, Allah menjadikan beliau teladan bagi manusia. Kemudian Allah wahyukan kepadamu (Muhammad), ikut agama Ibrahim yang lurus termaktub dalam surat al-Nahl [123] ثُمَّ اَوْحَيْنَآ اِلَيْكَ اَنِ اتَّبِعْ مِلَّةَ اِبْرٰهِيْمَ حَنِيْفًا ۗوَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ 123. Kemudian Kami wahyukan kepadamu, wahai Nabi Muhammad, “Ikutilah agama, yaitu sikap hidup dan akhlak Nabi Ibrahim yang lurus dan selalu dalam kebenaran, dan dia bukanlah termasuk orang musyrik.” Nabi Ibrahim menghadap Tuhannya dengan Qalbun Salim. Demikian pula Nabi Muhammad saw, menghadap kepada Rabbnya dengan Qalbun Salim. Termasuk dari kalangan para Nabi dan rasul, dan para sahabat Nabi kita Muhammad, semoga sholawat yang paling suci dan salam yang paling sempurna tercurah untuk beliau, begitu juga juga para syuhada’ dan orang-orang sholeh setelah mereka menghadap kepada Tuhannya dengan Qalbun Salim. Lalu bagaimana kita menghadap Tuhan denga Qalbun Salim. Maka jadikanlah pertanyaan ini judul besar dalam hidup kita. Inilah tujuan yang seharusnya dijadikan perioritas mulai saat ini, bukan bermaksud meniadakan dunia, akan tetapi menempatkan dunia pada tempatnya, dalam arti nomor satu jadikan Qalbun Salim yang paling banyak menyibukkan akal, pikiran dan hati. Syekh Shalih al-Sindi mengatakan. Hati yang selamat terhimpun dalam lima sifat أنَّ اْلَقْلبَ السَّلِيمَ هُوَ جَمَعَ خَمْسَةَ أَوْصَافٍ : الوَصفُ الأوََّلُ هو القلْبُ الذي أَسْلَمَ . الوَصفُ الثاني هو القَلْبُ الذي سَلَّمَ . الوصف الثالث هو القلْبُ الذي اسْتَسْلَمَ . الوَصفُ الربع هو القَلْبُ الذي سَلِمَ . الوصف الخامس هو القلْبُ الذي سَالَمَ Hati yang selamat terhimpun dalam lima sifat 1. Berserah diri kepada Allah yaitu sikap batin yang memadukan ikhtiar maksimal dengan keyakinan penuh bahwa hasil akhir ada di tangan-Nya. Tindakan ini bukan berarti diam tanpa usaha, melainkan wujud iman bahwa ketetapan Allah adalah yang terbaik. 2. Tunduk menerima sepenuhnya tuntunan Rasulullah Merupakan sifat as-salamah pada hati, yaitu kepasrahan mutlak, ketundukan batin, dan pengamalan tanpa ragu terhadap seluruh ajaran Nabi Muhammad ﷺ. Hal ini merupakan inti dari keimanan yang benar dan tanda qalbun salim (hati yang selamat) saat menghadap Allah SWT. 3. Pasrah menerima ketetapan qadha’ dan takdir Allah Merupakan sikap ikhlas , sabar, dan tenang dalam menghadapi segala ketentuan yang terjadi. Sikap ini mencakup keyakinan bahwa semua ketetapan datang dari Allah demi kebaikan hamba-Nya. 4. Bersih dan selamat dari penyakit-penyakit hati, ia bersih dan selamat dari segala sesuatu yang memutuskannya dari Allah dan dari mengingatnya 5. Berwala dan berpihak kepada wali-wali Allah dan memusuhi musuh-musuh Allah Siapa saja yang menghadap Rabbnya dengan hati yang memiliki sifat-sifat ini, hendaklah ia bergembira dengan kebaikan yang agung ini. Qalbun Salīm bukan hanya penting untuk akhirat, tetapi sangat penting untuk kehidupan sosial yang sehat dan damai di dunia. Hati yang selamat adalah hati yang tulus, tidak merasa lebih baik dari orang lain, tidak suka menyakiti, dan tidak penuh kebencian. Orang yang memiliki Qalbun Salīm akan mudah menerima nasihat, senang mendengar kebenaran, dan selalu terbuka untuk memperbaiki diri. Ia tidak hanya menyembunyikan perasaan negatif, tapi benar-benar menyingkirkan perasaan itu dari dalam hati. Inilah hati yang akan membawa kedamaian dalam keluarga, masyarakat, bahkan dalam hubungan antarbangsa Makna utama yang bisa dipetik dari uraian ini adalah bahwa Qalbun Salīm bukan hanya tentang kesucian hati untuk akhirat, tetapi juga menjadi dasar penting untuk membangun pribadi Muslim yang utuh serta sehat secara spiritual dan harmonis dalam kehidupan sosial. Jadi, Qalbun Salīm bukan hanya tujuan akhir, tapi juga proses berkelanjutan dalam membentuk akhlak, cara berpikir, dan cara berinteraksi dengan orang lain, agar selamat di dunia dan di akhirat. Wallahu a’lam bi al-shawaab
Share:

Khutbah Jum’at Iblis Menipu Manusia Secara Total

Khutbah Jum’at Iblis Menipu Manusia Secara Total Oleh Masykur H. Mansyur (FKUB Karawang) Berdasarkan literatur Islam, Iblis berarti; dihukum, diam, dan menyesal, di antara pakar ada yang mengatakan bahwa kata iblis إبليس terambil dari kata Bahasa Arab ) أبلس ablasa( yang berarti putus asa, atau dari kata ) بلسbalasa) yang berarti tiada kebaikan. Iblis mempunyai sifat sebagai pembangkang atas perntah Tuhan. Iblis sudah ada sebelum Nabi Adam as diciptakan dan hidup dalam alam Malaikat. Sejak awal dalam kisah penciptaan Adam yang disebut adalah Iblis. Iblis tidak saja mengingkari perintah Allah SWT, dan tidak mau menghormati Adam , tetapi kemudian terlibat perdebatan panjang dengan Allah SWT Iblis adalah makhluk dari golongan jin yang awalnya sangat taat dan shaleh. Namun, ia menjadi pembangkang dan dilaknat karena menolak perintah Tuhan untuk sujud kepada Nabi Adam a.s. karena merasa lebih mulia. Pertanyaannya kepada siapa saja Iblis menjalankan tipu daya ? Sesuai dengan sumpahnya, yaitu kepada semua manusia dengan cara menjadikan mereka manusia memandang baik (perbuatan maksiat) dan memandang jelek perbuatan baik seperti tercantum dalam al-Qur’an surat al-Hijr 15 [39-40] قَالَ رَبِّ بِمَآ اَغْوَيْتَنِيْ لَاُزَيِّنَنَّ لَهُمْ فِى الْاَرْضِ وَلَاُغْوِيَنَّهُمْ اَجْمَعِيْنَۙ اِلَّا عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِيْن Iblis berkata, ‘Ya Tuhanku, oleh karena Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, aku pastik akan menjadikan (kejahatan) tampak indah bagi mereka di bumi dan aku akan menyesatkan mereka semuanya’. Kecuali hamba-hamba-Mu yang terpilih (tulus dan ikhlas (di antara mereka) Jadi semua orang akan menjadi objek penyesatan Iblis, kecuali orang yang ikhlas. Sapakah orang yang ikhlas itu . orang yang ikhlas adalah orang yang terpilih dan dijaga oleh Allah arena ketulusan dan kemurnian keimanan mereka, hamba-hamba yang mendapatkan taufik untuk taat kepada-Nya, termasuk yang berada di jalan yang lurus menuju ridha Allah. Dari arah mana saja Iblis dapat menggoda manusia Iblis menggoda manusia dari seagala arah, sesuai dengan firman Allah dalam surat al-al-A”raf 7 [17] ثُمَّ لَاٰتِيَنَّهُمْ مِّنْۢ بَيْنِ اَيْدِيْهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ اَيْمَانِهِمْ وَعَنْ شَمَاۤىِٕلِهِمْۗ وَلَا تَجِدُ اَكْثَرَهُمْ شٰكِرِيْنَ Kemudian, pasti aku akan mendatangi mereka dari depan, dari belakang, dari kanan, dan dari kiri mereka. Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur.” godaan dari depan maksudnya, yaitu Iblis akan menyesatkan manusia dari perkara-perkara akhirat. Sehingga ia ragu akan kehidupan akhirat. Ia ragu akan adanya balasan atas segala perbuatan yang dilakukan, ia ragu akan adanya siksaan yang teramat pedih dan kenikmatan yang tiada duanya di surga, dan lain sebagainya. Godaan Iblis dari belakang maksudnya adalah ia akan menjadikan manusia cinta akan dunia. Sehingga ia selalu mengejar dunia dan melupakan akhiratnya. Yang meliputi segala aktivitas, kebutuhan, dan perhiasan hidup manusia di bumi, serta sarana kehidupan sehari-hari dengan berbagai cara tanpa memperhatikan syariat, ia memuaskan dirinya dengan segala kenikmatan walaupun melanggar syariat, dan lain sebagainya. Godaan Iblis dari sisi kanan maksudnya, ia akan mencegah manusia dari kebaikan-kebaikan. Setiap perbuatan baik yang bermanfaat bagi diri sendiri atau orang lain dan dilakukan sesuai dengan ajaran Islam. Sehingga, manusia ragu-ragu dan waswas dalam melakukan kebaikan, ia tidak ikhlas dalam melaksanakan ketaatan dan lain sebagainya. Godaan Iblis dari sisi kiri maksudnya, yaitu Iblis akan menghiasi keburukan dan kemaksiatan. Sehingga, manusia terjerumus ke dalam kemaksiatan dan keburukan, ia memutar balikkan fakta, dengan membuat keburukan seakan-akan kebaikan serta kenikmatan yang perlu dilakukan. Pada hal itu hanya tipu daya Iblis semata guna menjerumuskan manusia ke jurang kehancuran. Pada ujung ayat disebutkan wa laa tajidu aktsara hum syaakiriin (“Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur [taat],”) Ali bin Abi Thalhah mengatakan dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata: “(Bersyukur) maksudnya, mengesakan-Nya. Sebenarnya awal dari pernyataan Iblis tersebut hanya merupakan prasangka dan dugaan belaka, tapi kemudian sesuai dengan kenyataan, sebagaimana firman Allah dalam surat Saba’ 34 [20-21] وَلَقَدْ صَدَّقَ عَلَيْهِمْ اِبْلِيْسُ ظَنَّهٗ فَاتَّبَعُوْهُ اِلَّا فَرِيْقًا مِّنَ الْمُؤْمِنِيْنَ ۝٢٠ Sungguh, Iblis benar-benar telah meyakinkan mereka terhadap kebenaran sangkaannya. Lalu, mereka mengikutinya, kecuali sebagian dari orang-orang mukmin. وَمَا كَانَ لَهٗ عَلَيْهِمْ مِّنْ سُلْطَانٍ اِلَّا لِنَعْلَمَ مَنْ يُّؤْمِنُ بِالْاٰخِرَةِ مِمَّنْ هُوَ مِنْهَا فِيْ شَكٍّۗ وَرَبُّكَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ حَفِيْظٌࣖ Tidak ada kekuasaan (Iblis) terhadap mereka, kecuali agar Kami dapat membedakan siapa yang beriman pada akhirat dan siapa yang ragu-ragu tentang (akhirat) itu. Tuhanmu Maha Memelihara segala sesuatu. Ketika Iblis menyampaikan misinya memperdaya manusia dari segala arah, maka Malaikat menjadi kasihan kepada manusia, lalu Malaikat berkata; “Ya Allah, bagaimana mungkin manusia dapat terhindar dari jebakan Iblis?” Allah menjawab masih tersisa dua arah: atas dan bawah, “Jika manusia mengangkat kedua tangannnya dalam doa dengan penuh rendah hati atau bersujud dengan dahinya di atas tanah dengan penuh kekhusyukan, Aku akan mengampuni dosa-dosa mereka.(Hadits Riwayat Imam Thabrani) Apa saja bentuk tipu daya Iblis Di antara tipu daya Iblis misalnya 1. Menunda taubat; Membisikkan ilusi bahwa ajal masih jauh, sehingga manusia terus menunda waktu untuk bertaubat dan memperbaiki diri 2. Dosa besar dengan menjerumuskan ke dalam zina, sihir, riba, atau pembunuhan 3. Dosa kecil dengan cara membuat manusia menyepelekan dosa kecil hingga menumpuk dan membinasakan hati. 4. Kepada ulama dan ahli ilmu dengan membisikkan rasa sombong atas ilmunya, merasa lebih mulia dari orang lain, serta memicu hasad (iri dengki) sesama pemegang ilmu. 5. Terhadap Ahli Ibadah: Membuat mereka fokus pada kuantitas ibadah tanpa memperhatikan syarat dan rukun yang sah, serta menjerumuskan mereka ke dalam sifat riya (pamer) 6. Terhadap Orang Kaya dengan memunculkan sifat kikir untuk bersedekah dengan menakut-nakuti mereka dengan kemiskinan, atau sebaliknya, menghamburkan harta demi pujian 7. Terhadap Orang Awam: dengan menyibukkan mereka dengan urusan duniawi secara berlebihan hingga melupakan kewajiban dasar agama seperti salat tepat waktu. 8. Dan lain sebagainya Bagaimana agar terhindar dari tipu daya Iblis Iblis merupakan makhluk Allah, yang diberi kemampuan untuk menyesatkan manusia sampai akhir zaman. Keberadaannya pun akan terus menggoda dan menjerumuskan setiap orang ke dalam perbuatan dosa. Oleh karena itu kita berupaya agar terhindar dari tipu daya Iblis. Cara agar terhindar dari tipu daya Iblis adalah dengan selalu mengingat Allah, memohon perlindungan-Nya, dan berpegang teguh pada ajaran agama. Trik agar terhindar dari godaan Iblis diantaranya; 1. Perkuat Iman dan Tawakal: Menyadari bahwa Iblis tidak punya kekuatan atas hamba yang tulus beriman serta berserah diri sepenuhnya kepada Allah. اِنَّ كَيْدَ الشَّيْطٰنِ كَانَ ضَعِيْفًا ۚ ࣖ sesungguhnya tipu daya setan dan juga kawan-kawan setan itu lemah dan rapuh. 2. Mengingat Allah (Zikir): Segera ingat kepada Allah saat rasa was-was atau bisikan jahat muncul di dalam hati. 3. Mewaspadai Setan dari Golongan Manusia: Menyadari bahwa setan tidak hanya dari bangsa jin, tetapi juga ada dari manusia yang mengajak kepada perbuatan durhaka. 4. Mengendalikan Amarah: Segera berwudhu atau merubah posisi tubuh saat emosi memuncak. 5. Melawan Sifat Malas: Segera bangkit untuk beribadah tanpa menunda-nunda waktu. 6. Menjaga Pandangan: Batasi diri dari hal-hal yang memicu syahwat dan maksiat. 7. Berdo’a memohon perlindungan Allah Wallahu ‘a’lam bi al-shawaab
Share:

Do’a pada Acara Hari Koperasi ke 79 (12-7-2026)

Do’a pada Acara Hari Koperasi ke 79 (12-7-2026) Dibacaakan pada Hari Ahad 19-7-2026 di Lapangan Karangpawitan Oleh Masykur H. Mansyur (Ketua FKUB Karawang) Ya Allah Yang Maha Esa Pada hari ini kami berkumpul dalam rangka Peringatan Hari Koperasi yang ke 79 seraya memanjatkan puji dan syukur ke hadirat-Mu atas segala rahmat dan karunia-Mu yang telah Engkau limpahkan kepada kami semua, hanya kepada-Mu kami berserah diri memohon pertolongan dengan harapan agar acara ini berlangsung hidmat, lancar dan sukses Ya Allah Tuhan Yang Maha mengetahui Kami memohon kehadhirot-Mu. Jadikanlah Peringatan Hari Koperasi yang ke 79 ini sebagai momentum kebangkitan koperasi dikelola secara profesional, dan adaptif terhadap perkembangan zaman serta menjadi penguat agar peran koperasi Indonesia dapat menjadi pilar ekonomi kerakyatan yang lnklusif dan berkelanjutan sehingga terwujud kemakmuran rakyat berdasarkan asas kekeluargaan dan tolong-menolong menuju Koperasi Berdaya, Indonesia Berjaya. Ya Allah, Ya Rahman Ya Rahim, Sesuai dengan tema hari koperasi tahun 2026 Koperasi Berdaya, Indonesia Berjaya" adalah komitmen agar koperasi dapat bertransformasi menjadi pilar ekonomi rakyat yang tangguh, modern, dan mandiri. Dengan harapan agar koperasi di berbagai daerah tumbuh kuat dan sejahtera, sehiungga menjadi fondasi kokoh yang mendorong kemajuan dan kemakmuran secara menyeluruh Ya Allah, Tuhan Yang Maha Perkasa Anugerahkanlah kepada kami semua sehat lahir batin, selamat dunia akhirat, dan bimbingan kepada para pemimpin dan para penggerak koperasi kami. Satukanlah langkah dan hati kami dalam semangat gotong royong dan kekeluargaan, agar kami mampu menghadapi tantangan zaman dalam mewujudkan keadilan dan kesejahteraan sosial bagi seluruh rakyat kami Ya Allah Tuhan Yang maha Pengampun Ampunilah dosa-dosa kami, dosa ibu bapak kami, dosa para pemimpin dan pejuang kami, terimalah amal sholeh mereka, karena Engkau Dzat Yang Maha Pengampun lagi maha Penyayang. Kabulkanlah do’a dan permohonan kami, agar kamu semua termasuk dalam golongan yang beruntung. Rabbana ….
Share:

Rahasia Iblis Terbongkar Oleh Nabi Musa

Rahasia Iblis Terbongkar Oleh Nabi Musa Oleh Masykur H. Mansyur (FKUB Kabupaten Karawang) Dalam banyak riwayat terungkap bahwa pada zaman dulu, Iblis sering kali datang menemui orang-orang shaleh, terutama para Nabi, untuk berdialog dengan mereka. Dari dialog tersebut ternyata sering terlontar kalimat-kalimat bijak dari Iblis terkait dengan strateginya dalam menggoda dan menjerumuskan manusia. Salah satu peristiwa mengenai hal ini, ketika Iblis pernah bertemu dengan Nabi Musa. Diceritakan dari Abdurrahman bin Ziyad bin An’am. Pada suatu kesempatan, di saat Nabi Musa sedang duduk di majlisnya, Iblis datang sambil mengenakan pakaian yang memiki tudung kepala yang berwarna warni. Ketika sudah dekat, Iblis melepas tudungnya dan meletakkannya. Kemudian, ia menghampiri Musa. “Assalamu’alaika, wahai Musa.” kata Iblis menyapa, “ Siapa kamu?” tanya Musa. “Aku Iblis.” Jawabnya. “Ternyata engkau, maka tidak ada ucapan salam buatmu, ada apa engkau datang ke sini?” kata Musa “Saya datang untuk mengucapkan salam kepadamu, karena posisi dan kedudukanmu di sisi Allah”, jawab Iblis. “Apa yang engkau kenakan tadi?” tanya Musa Ítu adalah sesuatu yang saya gunakan untuk menawan hati anak-anak cucu Adam” jawab Iblis. Musa bertanya “apa sesuatu yang jika dilakukan oleh manusia maka engkau akan bisa menguasainya?”. Iblis menjawab “Ketika manusia merasa ujub, merasa amalnya sudah banyak dan lupa akan dosa-dosanya.” Maka saya menguasainya. Saya ingin memperingatkan engkau tentang tiga hal. 1. Jangan engkau berduaan dengan perempuan yang tidak halal bagimu. Karena tidak ada seorang laki-laki berduaan dengan seorang perempuan yang tidak halal baginya, melainkan saya sendiri yang menemaninya dan menggodanya, bukan anak buah saya. 2. Janganlah engkau mengikrarkan suatu janji kepada Allah, melainkan engkau harus penuhi, melainkan saya sendiri yang langsung menemaninya dan menggodanya, supaya dia tidak memenuhi janji itu. 3. Janganlah engkau berniat mengluarkan sedekah, melainkan engkau harus benar-benar segera meluluskan dan melaksanakannya karena tidak ada seseorang yang berniat mengeluarkan sedekah, lalu dia tidak segera melaksanakannya, melainkan saya sendiri yang langsung menemaninya dan menggodanya supaya dia tidak jadi melaksanakannya, bukan anak buah saya. Lalu Iblis pergi sambil berkata, “Duh celaka, duh celaka, duh celaka, Musa telah mengetahui apa yang mesti dia peringatkan kepada anak cucu Adam (Kisah di atas bersumber dari Imam Ibnul Jauzi, Uyun al-Hikayat min Qashash al-Shalihin wa Nawadir al-Zahidin /500 Kisah Orang Saleh Penuh Hikmah, p 203-204) Berdasarkan dialog di atas betapa besarnya bahaya ujub. Ujub diartikan sebagai mengagumi kehebatan, kecerdasan, atau amal ibadah diri sendiri, serta lupa menisbatkan semua nikmat dan keberhasilan tersebut semata-mata sebagai anugerah dari Allah SWT Ujub (merasa kagum atau bangga pada diri sendiri) adalah salah satu pintu masuk godaan Iblis yang paling halus dan berbahaya. Menurut para ulama, ketika Iblis gagal menjerumuskan seseorang ke dalam dosa besar (seperti zina atau minuman keras), ia akan menggunakan jebakan ini, membisikkan rasa bangga atas amal kebaikan yang telah dilakukan. SWT. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam al-Baihaq Rasulullah bersabda وْ لَمْ تَكُوْنُوا تُذْنِبُوْنَ خَشِيْتُ عَلَيْكُمْ مَا هُوَ أَكْبَرُ مِنْ ذَلِكَ الْعُجْبَ الْعُجْبَ “Jika kalian tidak berdosa maka aku takut kalian ditimpa dengan perkara yang lebih besar darinya (yaitu) ujub ! ujub !” Peringatan Iblis tersebut membuat kita kaum muslimin perlu mengambil sikap agar terhindaar dari tipu daya iblis la’natullah Pertama, berduaan dengan lawan jenis Dalam Islam, larangan berduaan dengan lawan jenis yang bukan mahram disebut dengan khalwat. Hal ini diharamkan karena berpotensi menjadi jalan (pembuka) menuju perbuatan zina atau maksiat. Hal ini diingatkan oleh Allah dalam firman-Nya surat al-Isra’17 [32] وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنٰىٓ اِنَّهٗ كَانَ فَاحِشَةً ۗوَسَاۤءَ سَبِيْلًا Janganlah kamu mendekati zina. Sesungguhnya (zina) itu adalah perbuatan keji dan jalan terburuk. Merupakan larangan preventif: Allah tidak hanya melarang melakukan zina, tetapi juga melarang mendekati zina. Ini berarti segala pintu, sarana, atau perilaku yang dapat memicu perbuatan zina (seperti berdua-duaan dengan yang bukan mahram, melihat pornografi, atau berinteraksi bebas tanpa batas) juga diharamkan Dalam hadits yang diriwayatkan Imam Tirmidzi لَا يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إِلَّا كَانَ ثَالِثَهُمَا الشَّيْطَانُ Tidaklah seorang laki-laki berkhalwat dengan seorang perempuan kecuali yang ketiganya adalah setan.”. Kedua, menunaikan janji Menunaikan janji adalah tindakan memenuhi komitmen atau kesepakatan yang telah diucapkan kepada diri sendiri, orang lain, atau Tuhan. Dalam Islam, hal ini merupakan kewajiban moral dan spiritual yang menjadi cermin integritas, sebagaimana ditegaskan dalam Surah Al-Isra 17 [34] bahwa setiap janji akan dimintai pertanggungjawaban. …. اِنَّ الْعَهْدَ كَانَ مَسْـُٔوْلًا Sesungguhnya janji itu pasti diminta pertanggungjawabannya, Dalam perspektif teologis (khususnya Islam), setan menggunakan berbagai tipu daya psikologis dan spiritual untuk membuat manusia mengingkari janji mereka. Misalnya Setan membisikkan pikiran untuk menunda menepati janji hingga akhirnya waktu habis atau terlupa. Taswif sebagai sifat suka menunda-nunda amal kebaikan atau ibadah merupakan salah satu strategi atau senjata ampuh yang digunakan oleh Iblis untuk menyesatkan manusia. Anas bin Malik, mengatakan: التَّسْوِيفُ جُنْدٌ مِنْ جُنُودِ إِبْلِيسَ عَظِيمٌ ، طَالَمَا خَدَعَ بِهِ At-Taswif (sikap menunda-nunda) adalah salah satu tentara Iblis yang besar, sering kali Iblis mengelabui manusia menggunakannya. (Qashru Al-Amal karya Ibnu Abid Dunya: 201 Ketiga, jangan menunda sedekah Menyegerakan sedekah sangat dianjurkan karena menunda-nunda kebaikan dapat menghilangkan niat, padahal hari esok belum tentu menjadi milik kita. Menurut para ulama, bersegera bersedekah akan melipatgandakan manfaat sosial, menjaga nilai keimanan, serta melindungi diri dari berbagai malapetaka. Niat yang ditunda berpotensi digagalkan oleh godaan setan yang enggan melihat manusia beramal. Dan sedekah atau bantuan yang disalurkan segera akan lebih cepat dirasakan dan menyelamatkan mereka yang sangat membutuhkan, sebagaimana hadits Rasulullah يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ الصَّدَقَةِ أَعْظَمُ فَقَالَ أَنْ تَصَدَّقَ وَأَنْتَ صَحِيحٌ شَحِيحٌ تَخْشَى الْفَقْرَ وَتَأْمُلُ الْغِنَى وَلَا تُمْهِلَ حَتَّى إِذَا بَلَغَتْ الْحُلْقُومَ قُلْتَ لِفُلَانٍ كَذَا وَلِفُلَانٍ كَذَا أَلَا وَقَدْ كَانَ لِفُلَانٍ Wahai Rasulullah, sedekah apakah yang paling besar pahalanya?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kamu bersedekah pada saat dirimu sehat, kikir, takut fakir, sedangkan kamu berangan-angan menjadi orang kaya. Oleh karena itu, janganlah kamu menunda-nunda untuk bersedekah sehingga ruh sampai di tenggorokan. Maka, kamu baru berkata, “Ini untuk si fulan dan ini untuk si fulan sekalian.” Padahal harta itu memang sudah ditetapkan menjadi milik si fulan. Wallahu a’lam bi al-shawaab (Karawang Senin Sore, 29 Juni 2026)
Share:

Khutbah Jum’at Penghuni Surga Saling Berkomunikasi dengan Penghuni Neraka

Khutbah Jum’at Penghuni Surga Saling Berkomunikasi dengan Penghuni Neraka Oleh Masykur H. Mansyur (FKUB Kabupaten Karawang) Sebagai pemilik surga dan neraka, Allah mengabarkan kepada kita melalui Al-Qur’an, bahwa suatu saat nanti terjadi dialog antara penghuni surga dengan penghuni neraka. Kabar ini dimaksudkan agar kita sebagai hamba-Nya mengetahui beberapa penyebab seseorang masuk neraka. Ternyata pnghuni surga dan penghuni neraka bisa saling berhadapan dan berkomunikasi: Penghuni surga dapat memanggil penghuni neraka untuk bertanya apakah mereka telah mendapatkan azab yang dijanjikan. Dalam al-Qur’an surat al-A’raf 7 [44] وَنَادٰٓى اَصْحٰبُ الْجَنَّةِ اَصْحٰبَ النَّارِ اَنْ قَدْ وَجَدْنَا مَا وَعَدَنَا رَبُّنَا حَقًّا فَهَلْ وَجَدْتُّمْ مَّا وَعَدَ رَبُّكُمْ حَقًّا ۗقَالُوْا نَعَمْۚ فَاَذَّنَ مُؤَذِّنٌۢ بَيْنَهُمْ اَنْ لَّعْنَةُ اللّٰهِ عَلَى الظّٰلِمِيْنَ Para penghuni surga menyeru para penghuni neraka, “Sungguh, kami telah mendapati sesuatu (surga) yang dijanjikan Tuhan kepada kami itu benar. Apakah kamu telah mendapati (pula) sesuatu (azab) yang dijanjikan Tuhan kepadamu itu benar?” Mereka menjawab, “Benar.” Kemudian penyeru (malaikat) mengumumkan di antara mereka, “Laknat Allah bagi orang-orang yang zalim. Ayat ini menggambarkan dialog di akhirat antara penghuni surga dan neraka. Penghuni surga bersaksi bahwa janji Allah adalah kebenaran mutlak, sementara penghuni neraka mengakuinya dengan penuh penyesalan saat menerima azab atas kezaliman mereka. Sedangkan penghuni neraka mengajukan permintaan kepada penghuni surga agar diberikan sedikit air atau rezeki yang mereka miliki.. Mereka berseru meminta belas kasihan dalam kondisi haus dan lapar yang sangat menyiksa. Mereka memohon agar dituangkan sedikit air atau diberikan rezeki apa saja yang ada di dalam surga. Peristiwa ini menggambarkan keputusasaan dan siksaan berat yang dialami oleh orang-orang yang ingkar. Namun permintaan ini ditolak oleh penghuni surga karena Allah telah mengharamkannya bagi orang-orang kafir sebagaimana peringatan Allah dalam al-Qur’an surat al-A’raf 7 [50]. وَنَادٰٓى اَصْحٰبُ النَّارِ اَصْحٰبَ الْجَنَّةِ اَنْ اَفِيْضُوْا عَلَيْنَا مِنَ الْمَاۤءِ اَوْ مِمَّا رَزَقَكُمُ اللّٰهُ ۗقَالُوْٓا اِنَّ اللّٰهَ حَرَّمَهُمَا عَلَى الْكٰفِرِيْنَۙ Dan penghuni neraka menyeru penghuni surga: 'Limpahkanlah kepada kami sedikit air atau makanan yang telah direzekikan Allah kepadamu.' Mereka menjawab: 'Sesungguhnya Allah telah mengharamkan keduanya itu atas orang-orang kafir. Penghuni surga (golongan kanan) secara spesifik bertanya kepada para pendosa yang boleh jadi ketika di dunia mereka saling mengenal, mengenai alasan mereka terlempar ke dalam neraka Saqar dengan pertanyaan; مَا سَلَكَكُمْ فِيْ سَقَرَ "Apakah yang memasukkan kamu ke dalam (neraka) Saqar?" Ternyata karakter neraka Saqar Saqar digambarkan sebagai api yang membakar dan menghanguskan kulit manusia. Siksaan ini menghancurkan tubuh tanpa menyisakan daging atau tulang, namun kemudian tubuh tersebut dikembalikan utuh seperti semula untuk dibakar kembali secara terus-menerus. Yang menyebab kami masuk neraka saqar; 1. Karena dahulu ketika di dunia kami tidak termasuk orang yang melaksanakan sholat قَالُوْا لَمْ نَكُ مِنَ الْمُصَلِّيْنَۙ Shalat bukan sekadar kewajiban rutinitas. Lebih dalam, shalat adalah kebutuhan jiwa dan akal, Dikatakan sebagai kebutuhan jiwa, karena sebagai manusia, kita pasti memiliki rasa cemas dan harapan. Shalat menjadi sarana komunikasi di mana jiwa kita bersandar kepada Sang Pencipta, memohon ketenangan hidup. Sedangkan sebagai kebutuhan akal, bahwa pemahaman akan shalat memberikan ketenangan dan kemantapan. Ibadah ini mengajarkan manusia untuk tunduk pada hukum alam yang digariskan oleh satu Pengendali, yakni Allah SWT. Shalat juga sebagai wujud penghormatan mendalam kepada Allah, serta sarana pembentuk karakter yang mencegah pelakunya dari perbuatan keji dan mungkar. 2. Kami tidak memberi makan orang miskin وَلَمْ نَكُ نُطْعِمُ الْمِسْكِيْنَۙ Al-Qur'an sering mengaitkan kecaman terhadap pendusta agama dengan keengganan memberi makan orang miskin. Menyantuni orang yang kekurangan juga menjadi fondasi penting dalam kemanusiaan sebelum beranjak pada program pemberdayaan jangka Panjang. amalan ini juga dapat dikategorikan sebagai sedekah jariyah apabila dilakukan dengan cara mewakafkan harta tertentu yang keuntungannya digunakan secara rutin untuk memberi makan fakir miskin. Keutamaan memberi makan fakir miskin diantaranya; menjadi sebab utama masuk surga dan menjadi sifat para penghuni surga, kemudian dapat memadamkan dosa seperti air memadamkan api. Selanjutnya mendapat naungan di hari kiamat dan terhindar dari siksa, dan mendapatkan cinta dari Allah karena menyayangi makhluk di bumi membuat Allah juga menyayangi hamba-Nya 3. Kami biasa berbicara bohong bersama orang-orang yang mendustakan وَكُنَّا نَخُوْضُ مَعَ الْخَاۤىِٕضِيْنَۙ Berbohong adalah perbuatan dosa yang dilarang keras. Berbicara atau mendukung kebohongan bersama orang yang mendustakan kebenaran hanya akan menyeret seseorang pada kesesatan. Dalam Islam, hal ini termasuk perbuatan yang dapat mengeraskan hati dan merusak integritas moral. 4. Kami mendustakan hari pembalasan hingga kematian datang وَكُنَّا نُكَذِّبُ بِيَوْمِ الدِّيْنِۙ Mendustakan hari pembalasan (Yaum al-diin ) hingga datang kematian merujuk pada sikap menolak atau mengingkari adanya kehidupan setelah mati. ini adalah ciri orang yang melampau batas dan meremehkan syariat Allah. mendustakan hari pembalasan adalah bentuk pembangkangan manusia terhadap kebenaran. Hal ini menunjukkan penolakan terhadap keadilan mutlak Allah, sehingga setiap perbuatan di dunia tidak lagi dipertimbangkan memiliki konsekuensi. Prof. Quraish sangat menekankan urgensi mengimani Hari Pembalasan, yaitu meyakini bahwa pada fase tersebut manusia akan menerima ganjaran seadil-adilnya atas apa yang mereka lakukan di dunia. Wallahu a’lam bi al-shawaab (Karawang, Ahad 28 Juni 2026)
Share:

Postingan Populer

Diberdayakan oleh Blogger.

Recent Posts

Unordered List

  • Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit.
  • Aliquam tincidunt mauris eu risus.
  • Vestibulum auctor dapibus neque.

Pages

Theme Support

Need our help to upload or customize this blogger template? Contact me with details about the theme customization you need.