• This is default featured slide 1 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

  • This is default featured slide 2 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

  • This is default featured slide 3 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

  • This is default featured slide 4 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

  • This is default featured slide 5 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Malaikat Berganti Shift pada Waktu Ashar dan Subuh Oleh Masykur H. Mansyur (FKUB Karawang)

Rasulullah SAW menginformasikan bahwa para Malaikat berkumpul di waktu sholat Subuh dan waktu sholat Ashar. Karena di waktu Shubuh dan Ashar, para Malaikat berkumpul untuk berganti tugas, berganti shift di bumi. Lantas malaikat yang bermalam naik dan Tuhan mereka menanyai mereka (meskipun Allah paling tahu terhadap mereka), bagaimana kalian tinggalkan hamba-hamba-Ku?. Jawab para malaikat, "Kami tinggalkan mereka dalam keadaan sholat, dan kami datangi mereka juga dalam keadaan sholat." (HR Muslim) Waktu ashar merupakan waktu bertemunya malaikat yang bertugas di siang hari dengan malaikat yang akan bertugas di malam hari, maka lakukan shalat ashar karena ketika malaikat ditanya oleh Allah "sedang apa hamba-Ku?" Malaikat akan menjawab "sedang shalat". Waktu subuh merupakan waktu bertemunya malaikat yang bertugas di malam hari dengan malaikat yang akan bertugas di siang hari, maka lakukan shalat subuh karena ketika malaikat ditanya oleh Allah "sedang apa hamba-Ku?" Malaikat akan menjawab "sedang shalat". Dalam hadits dijelaskan عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ يَتَعَاقَبُونَ فِيكُمْ مَلَائِكَةٌ بِاللَّيْلِ وَمَلَائِكَةٌ بِالنَّهَار،ِ وَيَجْتَمِعُونَ فِي صَلَاةِ الْعَصْرِ وَصَلَاةِ الْفَجْرِ، ثُمَّ فَيَعْرُجُ الَّذِينَ بَاتُوا فِيكُمْ فَيَسْأَلُهُمْ رَبُّهُم وَهُوَ أَعْلَمُ بِهِمْ ُ كَيْفَ تَرَكْتُمْ عِبَادِي ؟ فَيَقُولُونَ أأَتَيْنَاهُمْ وَهُمْ يُصَلُّونَ وَتَرَكْنَاهُمْ وَهُمْ يُصَلُّون. Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: "momen terbaik untuk dipersaksikan para Malaikat malam hari dan para malikat siang hari silih berganti mendatangi kalian. Mereka berkumpul ketika sholat Subuh dak ketika sholat Ashar. Lalu. Malaikat yang mengawasi kalian di malam hari naik ke langit, lantas Allah bertanya kepada mereka (walau sesungguhnya Allah lebih tahu), 'bagaimana kalian tinggalkan hamba-hamba-Ku? Para Malaikat menjawab, 'kami datangi mereka, ketika mereka sedang melaksanakan sholat, dan kami meninggalkan mereka ketika mereka juga sedang mendirikan shalat’. (HR Bukhari & Muslim ) Pertanyaannya kenapa dua waktu itu yang dipilih Malaikat melapor pada waktu Ashar dan Subuh karena dua waktu tersebut merupakan momen pergantian tugas malaikat penjaga siang dan malam. Mereka berkumpul, naik ke langit, dan menyampaikan laporan amal manusia kepada Allah SWT. Kedua waktu ini dipilih karena merupakan titik krusial pergantian waktu, di mana shalat berjamaah sangat dianjurkan. Kenapa sholat subuh, karena pada waktu sholat subuh disaksikan oleh Malaikat, sebagaimana Firmn Allah dalam surat al-Isra’ 17 [78] أَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ لِدُلُوكِ ٱلشَّمۡسِ إِلَىٰ غَسَقِ ٱلَّيۡلِ وَقُرۡءَانَ ٱلۡفَجۡرِۖ إِنَّ قُرۡءَانَ ٱلۡفَجۡرِ كَانَ مَشۡهُودٗا ٧٨ Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap’ malam dan (dirikanlah pula shalat) subuh. Sesungguhnya shalat subuh itu disaksikan (oleh malaikat) Keutamaan sholat subuh Subuh menandai awal perencanaan aktivitas produktif, sementara ashar adalah waktu krusial laporan amal harian. Barang siapa yang bangun untuk shalat Subuh, maka ia telah membuka peluang besar mendapatkan perlindungan Allah. sholat subuh juga disaksikan oleh Malaikat, yaitu Malaikat siang dan Malaikat malam. Ustadz Adi Hidayat menekankan bahwa shalat Subuh yang dijaga akan menjadi pelindung dari berbagai kesulitan yang tak terlihat. 1. Disaksikan Langsung oleh malaikat Sholat Subuh menjadi ibadah yang secara khusus disaksikan oleh malaikat, sebagaimana disebutkan dalam HR Al-Bukhari No. 137 dan HR Muslim No. 632. Pada waktu ini, malaikat diperintahkan Allah untuk mencatat siapa saja yang memohon ampun dan berdoa kepada-Nya. Karena itu, waktu Subuh sangat dianjurkan untuk meningkatkan ketakwaan dan memperbanyak dzikir. 2. Bernilai pahala seperti sholat semalam penuh Dalam HR Muslim No. 656 dijelaskan bahwa seseorang yang melaksanakan sholat Isya berjamaah memperoleh pahala setengah malam, sedangkan mereka yang menunaikan sholat Subuh berjamaah mendapatkan pahala seperti sholat semalam suntuk. Keutamaan ini menunjukkan betapa besar nilai ibadah Subuh jika dikerjakan dengan istiqamah dan berjamaah. 3. Amalan yang mengantarkan ke surga Rasulullah SAW menyebutkan bahwa sholat Subuh dan Ashar merupakan dua sholat yang menjadi sebab langsung seseorang dijamin masuk surga (HR Al-Bukhari No. 574 dan HR Muslim No. 635). Konsistensi dalam menjaga dua sholat ini menjadi tanda kuatnya iman dan kedekatan seorang hamba dengan Allah SWT. 4. Dijamin mendapatkan kebaikan dan kemudahan hidup Dalam HR Muslim No. 163 dijelaskan bahwa siapa saja yang menjaga sholat Subuh akan berada dalam jaminan Allah. Artinya, Allah akan memberikan perlindungan, kemudahan urusan, serta membuka pintu rezeki. Kesulitan hidup pun akan dimudahkan dengan izin-Nya. Sementara itu, sholat ashar berada di penghujung siang dan menjelang malam, waktu di mana banyak orang mulai lengah. Sehingga sholat ashar sering ditinggalkan karena kesibukan sore hari. Justru karena sulit dijaga pahala sholat ini sangatlah besar. Dalam al-Qur’an surat al-Baqarah 2 [238] Allah berfirman حَٰفِظُواْ عَلَى ٱلصَّلَوَٰتِ وَٱلصَّلَوٰةِ ٱلۡوُسۡطَىٰ وَقُومُواْ لِلَّهِ قَٰنِتِينَ ٢٣٨ Peliharalah semua shalat(mu), dan (peliharalah) shalat wusthaa. Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu´ Maksud ayat tersebut kerjakanlah sholat lima waktu dengan rutin dan tepat waktunya, lengkap semua rukun dan syaratnya, dengan hati yang khusyu’ tanpa tergesa-gesa maupun menunda-nunda. Dan sholat wustha’ dari kata al- washath artinya adil dan yang terbaik. Al-wustha artinya yang paling utama. Bisa jadi pula makna yang diaksud sholat yang tengah-pertengahan dari segi jumlah, sebab ia terletak di tengah antra dua sholat sebelumnya dan dua sholat setelahnya. Syekh Mutawalli asy-Sya’rawi memaparkan bahwa ternyata ulama berbeda pendapat tentang makna salat wustha pada ayat tersebut. Apakah ia adalah sholat ashar, maghrib, isya, subuh ataukah dzuhur? Pembahasan mengenai hal tersebut, menurut Syekh asy-Sya’rawi, merupakan pembahasan yang mendalam, dimana makna dari salat wustha dapat dimungkinkan pada seluruh sholat yang lima waktu itu. Hal tersebut -menurut beliau- terjadi karena sesuatu apapun tidak dapat disebut sebagai wustha (di tengah), kecuali bila ia berada pada dua posisi yang berseberangan. Sedangkan pendapat yang memahami sholat wustha adalah shalat ashar, mereka berlandaskan pada hadis Nabi Muhammad Saw. saat Perang Khondaq, yang berbunyi: حَبَسُوْنَا عَنْ صَلاَةِ الوُسْطَى حَتَّى غَابَتِ الشَّمْشُ، مَلَأَ اللّهُ قُبُوْرَهُمْ وَبُيُوْتَهُمْ -أَوْ أَجْوَافَهُمْ- نَارًا “Mereka telah memblokir kita hingga kita tidak dapat melaksanakan sholat wustha hingga matahari tenggelam. Kita do’akan semoga Allah Swt. memenuhi kuburan atau rumah, atau perut mereka dengan api”. (HR. Bukhari: 4169). Wahbah az-Zuhaili mengatakan bahwa sholat wustha’ menurut pendapat yang kuat adalah wustha’ artinya sholat Ashar. Bersadar hadits marfu’ riwayat Muslim dan Abu Dawud dari Ali waktu perang Ahzab. شَغَلُوْنَ عَنِ الصّلاَة الوُسْطَى – صلاةِ العَصْرِ Mereka orang-orang kafir itu menyibukan kita sehingga tidak sempat mengerjakan sholat wustha – shalat Ashar. Pada hadits lain disebutkan فَإِنْ اسْتَطَعْتُمْ أَنْ لَا تُغْلَبُوا عَلَى صَلَاةٍ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ غُرُوبِهَا فَافْعَلُوا Jika kalian tidak lemah untuk melakukan sholat sebelum matahari terbit dan sebelum matahari terbenam, maka lakukanlah. HR Bukhari Dengan menjaga shalat Ashar, seseorang memperlihatkan keteguhan dalam ibadah meskipun dalam kondisi lelah. Itulah sebabnya, menjaga waktu ashar juga menjadi tanda keimanan dan keistiqamahan seorang hamba. Waktu sore hari, khususnya setelah sholat ashar hingga menjelang maghrib, adalah salah satu waktu dimana do’a - do’a lebih mudah dikabulkan oleh Allah. Dido’akan oleh malaikat secara khusus, sebagaimana hadits riwayat imam Tirmidzi,dan Ahmad. semoga Allah merahmati seseorang yang sholat sebelum terbenamnya mata hari dan sebelum terbitnya. Dalam al-Qur’an surat Qaf 50 [39] فَٱصۡبِرۡ عَلَىٰ مَا يَقُولُونَ وَسَبِّحۡ بِحَمۡدِ رَبِّكَ قَبۡلَ طُلُوعِ ٱلشَّمۡسِ وَقَبۡلَ ٱلۡغُرُوبِ ٣٩ 39. Maka bersabarlah kamu terhadap apa yang mereka katakan dan bertasbihlah sambil memuji Tuhanmu sebelum terbit matahari dan sebelum terbenam(nya). Dalam sebuah hadits dinyatakan ‘"Kami pernah duduk bersama Rasulullah SAW pada malam bulan purnama, lalu beliau mengarahkan pandangannya ke bulan dan bersabda: 'Sungguh, kelak di akhirat kalian a’kan melihat Rabb kalian sebagaimana kalian melihat bulan pada malam ini. Masing-masing dari kalian akan dapat dengan mudah melihat-Nya. Oleh karena itu, sekiranya kalian mampu untuk tidak ketinggalan mengerjakan sholat sebelum terbit matahari dan sebelum terbenamnya (secara berjamaah), hendaklah kalian mengerjakannya. Sebagai penutup mari kita mempersiapkan diri dan istiqamah untuk mulai membiasakan diri menjaga sholat kita dengan tepat waktu.Tidak hanya sebagai kewajiban, tetapi juga sebagai bentuk cinta dan taqwa kepada Allah. Dengan menjaga sholat tepat waktu ini, berarti kita sedang memohon perlindungan-Nya dalam setiap langkah kehidupan.
Share:

Istiqomah Salah Satu Ibadah Terberat Di Zaman Modern

Istiqamah Salah Satu Ibadah Terberat Di Zaman Modern Oleh: Masykur H. Mansyur (Ketua FKUB Karawang, dosen FAI Unsika Karawang) Istiqamah (konsistensi) dalam beribadah adalah salah satu ibadah terberat karena melawan hawa nafsu dan godaan duniawi yang dinamis. Ibadah ini menuntut keteguhan hati, bukan sekadar kuantitas, tapi juga untuk tetap taat kepada Allah SWT, menjadikannya kunci kemuliaan dan ketakwaan, serta amalan yang paling dicintai Allah. Secara bahasa istqamah diartikan sebagai lurus, teguh dan tetap. Sedangkan menurut istilah diartikan sebagai keadaan atau upaya seseorang untuk tetap teguh mengikuti jalan lurus (agama Islam) yang ditunjuk oleh Allah SWT. Siapa yang disebut dengan orang yang istiqamah itu, orang yang istiqamah adalah orang yang serasi antara hati, lisan (ucapan) dan tindakan berdasarkan keimanan, sebagaimana hadits Rasulullah yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal dari Anas bin Malik. لَايَسْتَقِيْمُُ إيْمَانُ عَبْدٍ حتي يَسْتَقِيْمَ قَلْبُهُ, وَلآ يَسْتَقِيْمُُ قَلْبُهُ حتي يَسْتَقِيْمَ لِسَانِهِ Tidaklah dapat dikatakan istiqamah iman seorang hamba, sehingga hatinya istiqamah, hatinya tidak dapat dikatakan istiqamah sehingga lisannya istiqamah Di samping itu orang yang istiqamah adalah orang yang berlaku lurus, sopan dan berbudi pekerti yang baik sebagaimana al-Qur’an surat al-Taubah 9 [7] …..فَمَا ٱسۡتَقَٰمُواْ لَكُمۡ فَٱسۡتَقِيمُواْ لَهُمۡۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلۡمُتَّقِينَ ٧ maka selama mereka berlaku lurus terhadapmu, hendaklah kamu berlaku lurus (pula) terhadap mereka. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertakwa. Kenapa istiqamah dikatakan sebagai ibadah terberat antara lain Tantangan istiqamah di zaman modern diantaranya; 1. Distraksi digital dan kecepatan. Dimana budaya instan dan media sosial menciptakan distraksi yang membuat konsistensi dalam ibadah cenderung menjadi sulit. 2. Belum lagi gaya hidup hedonis menjadi godaan materialism seringkali menggeser prioritas ibadah. 3. Termasuk kita harus hati-hati dengan kemaksiatan digital memungkinkan akses mudah terhadap hal-hal negative, menuntut keteguhan hati yang lebih kuat. meskipun penuh godaan Istiqamah bukanlah hal mustahil dan menjadi solusi utama untuk menjaga kualitas iman di tengah perkembangan IPTEK serta kemaksiatan yang semakin kompleks. Apa saja bentuk istiqamah di zaman modern Istiqamah saat ini tidak harus membatasi diri dari kemajuan teknologi, melainkan bagaimana mempertahankan agar tetap survive di tengah arus modernisasi. Dengan memperhatikan; 1. Ibadah secara konsisten ((bukan sekedar kuantitas), misalnya memulai dengan amalan kecil yang rutin, seperti sholat tepat waktu di sela kesibukan 2. Etika digital; yakni menggunakan media sosial untuk kebaikan dan menghindari penyebaran hoaks atau konten negative 3. Integritas (amanah); yakni jujur dalam bekerja dan bertanggung jawab di tengah lingkungan yang serba cepat, serta komitmen dalam setiap peran dan profesi yang kita jalani. Bagaimana caranya agar kita tetap istiqamah dalam beribadah 1. Managemen waktu ibadah Yaitu menjadwalkan ibadah sama pentingnya dengan pekerjaan 2. Memperhatikan lingkungan yang mendukung Yakni mencari komunitas atau teman yang mengingatkan pada kebaikan 3. Niat yang tulus Dengan memperbaharui niat ikhlas untuk meningkatkan ketakwaan, bukan sekedar rutinitas. Istiqamah di zaman modern, meski terlihat sulit, menuntun kita untuk tetap memiliki pedoman di dunia yang terus berubah secara dinamis. Oleh karena itu bagaimanapun modernnya zaman, istiqamah (teguh pendirian) selalu dipakai dalam arti yang positif. Pertama. Istiqamah dapat berfungsi sebagai pencegah setiap pribadi agar tidak tergoda oleh prilaku maksiat dan lebih-lebih ingkar kepada Allah setelah ia beriman. Perhatikan al-Qur’an surat Fushshilat 41 [6] قُلۡ إِنَّمَآ أَنَا۠ بَشَرٞ مِّثۡلُكُمۡ يُوحَىٰٓ إِلَيَّ أَنَّمَآ إِلَٰهُكُمۡ إِلَٰهٞ وَٰحِدٞ فَٱسۡتَقِيمُوٓاْ إِلَيۡهِ وَٱسۡتَغۡفِرُوهُۗ وَوَيۡلٞ لِّلۡمُشۡرِكِينَ ٦ Artinya; Katakanlah: "Bahwasanya aku hanyalah seorang manusia seperti kamu, diwahyukan kepadaku bahwasanya Tuhan kamu adalah Tuhan yang Maha Esa, maka tetaplah pada jalan yang lurus menuju kepada-Nya dan mohonlah ampun kepada-Nya. Dan kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang mempersekutukan-Nya Kedua. Orang yang istiqamah akan mendapatkan rezki yang banyak, sebagaimana firman Allah dalam surat al-Jin 72 [16] وَأَلَّوِ ٱسۡتَقَٰمُواْ عَلَى ٱلطَّرِيقَةِ لَأَسۡقَيۡنَٰهُم مَّآءً غَدَقٗا ١٦ Dan bahwasanya: jikalau mereka tetap berjalan lurus di atas jalan itu (agama Islam), benar-benar Kami akan memberi minum kepada mereka air yang segar (rezeki yang banyak) Ketiga orang yang istiqamah memperoleh surga, al-Qur’an surat Fushshilat 41 [30] إِنَّ ٱلَّذِينَ قَالُواْ رَبُّنَا ٱللَّهُ ثُمَّ ٱسۡتَقَٰمُواْ تَتَنَزَّلُ عَلَيۡهِمُ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ أَلَّا تَخَافُواْ وَلَا تَحۡزَنُواْ وَأَبۡشِرُواْ بِٱلۡجَنَّةِ ٱلَّتِي كُنتُمۡ تُوعَدُونَ ٣٠ Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka Malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: "Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu" Keempat, Do’a orang yang istiqamah akan diterima Dalam hadits riwayat Imam Ahmad dari Abu Zar yang artinya sungguh beruntunglah orang yang lkhlas hatinya, menjadikan hatinya selamat, lisannya benar, jiwanya tenang, budi pekertinya teguh, telinganya mau mendengar, matanya mau melihat. Maka telinga cukup teliti (dalam menyaring berita), dan mata mengakui pada apa yang disadari hatinya, dan berbahagialah orang yang menjadikan hatinya sadar. Wallahu a’lam bi al-shawwab
Share:

KHALIFAH UMAR DAN PEREMPUAN MISKIN

 

KHALIFAH UMAR DAN PEREMPUAN MISKIN

Oleh: Masykur H. Mansyur (IAIN Syekh Nurjati cirebon Dpk Unsika Karawang)

            Imam Abu Hamid al-Ghazali dalam bukunya, al-Tibr al-Masbuk fi Nashihah al-Mulk bercerita. Adalah Zaid bin Aslam (w. 136 H). Ia seorang ‘tabi’i”,generasi sesudah sahabat  dan termasuk ahli fiqh Madinah pada masanya. Ia seorang yang dimerdekakan oleh Umar bin Khaththab. Pada suatu hari Zaid bercerita:

            Pada suatu malam aku melihat Umar bin Khaththab, sang pemimpin, melakukan ronda malam bersama para petugas ronda malam itu. Aku mengikutinya dari belakang. Aku meminta diizinkan menemani mereka. Manakala kami berada di luar kota, kami melihat cahaya api. Kami menduga ada musafir yang beristirahat di sana. Kami mendekat dan melihat seorang perempuan janda dengan tiga anaknya yang sedang menangis. Sang ibu sedang meletakkan panci di atas tungku yang menyala. Bibirnya bergetar sambil mengadu kepada Tuhan: “Tuhanku, berikan keadilan atas Umar kepada-ku dan tuntutlah agar dia memberikan hak kami. Dia kenyang sendiri, sementara kami lapar”.

            Ketika mendengar ucapannya, Umar  sambil mengucapkan salam dan memohon izin  untuk masuk. Sang ibu menjawab, “Jika engkau bermaksud baik, masuklah’. Umar lalu masuk dan bertanya tentang keadaannya dan anak-anaknya. Perempuan itu mengatakan, “Aku dan anak-anakku datang dari tempat yang jauh. Aku ketakutan dan mereka lapar. Kami dalam keadaan amat payah dan sangat lapar. Mereka tidak dapat tidur lelap”. “Apakah gerangan yang ada dalam panci ini?” tanya Umar sambil menunjuk panci di atas tungku itu. “Aku masukkan air di dalamnya agar mereka mengira aku sedang memasak nasi, sehingga mereka bisa bersabar menunggunya”, jawab perempuan tersebut.

            Sesudah mendengar cerita ibu tersebut, Umar keluar menuju warung rempah-rempah untuk membeli bumbu secukupnya dan ke warung lain untuk membeli gandum satu karung. Sesudah itu ia kembali ke gubug itu. Umar memikul sendiri barang-barang yang dibelinya. Teapi Zaid segera memintanya untuk membawanya. “Tuan biarkan aku membawanya”. Umar menjawab; “Jika engkau yang memikulnya, siapa yang akan memikul dosaku dan siapa pula yang akan menghalangi  terkabulnya pengaduan (do’a) perempuan dan anak-anaknya itu atasku”.

            Sepanjang perajalanan ke tempat mereka, Umar tak henti-hentinya menangis. Umar menyerahkan kepadanya semua bahan makanan tersebut. Si ibu menerimanya dan mengucapkan terima kasih. “Semoga Allah menjaga budi baikmu, Nak”. Umar lalu memasukkan bahan-bhan terebut ke dalam panci dan menyalakan api. Manakala api meredup, dia meniup bara api itu hingga debu berterbangan mengenai wajahnya yang bersih. Ia menunggu masakan itu sampai masak, Umar kemudian meletakkannya ke atas piring sambil mempersilahkan mereka makan.

            Umar mengatakan, “Ibu tolong jangan mendo’akan buruk atas Umar, karena dia tidak mendengar apapun tentang nasib ibu dan anak-anak ini”. (Abu Hamid al-Ghazali, al-Tibr al-Masbuk, hlm, 54-55. Sumber K.H. Husen Muhammad, Lisanul Hal Kisah-kisah Teladan dan Kearifan, Jakarata, PT. Qaf Media Kreatifa, 2020, hlm. 39-41.

Share:

Khutbah Jum’at Ikhtiar dan Tawakal Hadapi Covid-19 Oleh Masykur H.Mansyur (IAIN Syekh Nurjati Cirebon DPK Unsika Karawang)


Alhamdulillah kita bersyukur keharibaan Allah SWT, karena kita bisa melaksanan kembali shalat jum’at, karena selama kurang lebih dua bulan yang lalu banyak masjid tidak menyelenggarakan kegiatan, termasuk shalat jum’at, ini semua adalah akibat dari pandemi Covid-19 yang melanda negei ini. Sejak awal April 2020 pemerintah Indonesia telah menetapkan fenomena ini sebagai Bencana Nasional. Hingga Kamis kemarin, 11 Juni 2020, Corona melaju saat Adaptasi Normal Baru setidaknya tercatat ada 43.414 ODP, 14.052 PDP, 34 Provinsi, 242 Kabupaten Kota, 35.295 positif, 12.636 sembuh dan 2000 orang meninggal dunia. Dari sekian banyaknya yang terkena Covid-19 mungkin saja di antaranya ada warga atau saudara kita, sahabat kita, tetangga kita.  Kita do’akan semoga warga yang terkena musibah ini segera sembuh, dan yang telah meninggal dunia semoga Allah SWT menerima iman Islamnya dan  mengampuni dosa-dosanya, Amin.
Hadirin Jama’ah Jum’at Rahimakumullah.
Segala yang terjadi di dunia ini tentu tidak lepas dari kehendak Allah Swt. Suka atau duka, baik atau buruk, senang atau susah, Allah SWT yang telah mengatur semua yang terjadi di alam semesta ini. Suatu hal yang perlu digaris bawahi adalah semua yang berlangsung di atas bumi ini adalah atas ijin dan kehendak Allah SWT. Allah berfirman dalam surat al-Taghabun 64 [11].
مَآ أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذۡنِ ٱللَّهِۗ وَمَن يُؤۡمِنۢ بِٱللَّهِ يَهۡدِ قَلۡبَهُۥۚ وَٱللَّهُ بِكُلِّ شَيۡءٍ عَلِيمٞ
Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan ijin Allah; dan barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.
Pada ayat lain disebutkan dalam surah al-Baqarah 2 [216]
كُتِبَ عَلَيۡكُمُ ٱلۡقِتَالُ وَهُوَ كُرۡهٞ لَّكُمۡۖ وَعَسَىٰٓ أَن تَكۡرَهُواْ شَيۡ‍ٔٗا وَهُوَ خَيۡرٞ لَّكُمۡۖ وَعَسَىٰٓ أَن تُحِبُّواْ شَيۡ‍ٔٗا وَهُوَ شَرّٞ لَّكُمۡۚ وَٱللَّهُ يَعۡلَمُ وَأَنتُمۡ لَا تَعۡلَمُونَ ٢١٦
216. Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui
Oleh karena itu dalam menghadapi  musibah  wabah yang sedang melanda dunia sekarang walaupun  dirasakan  tidak menyenangkan, atau sesuatu yang dianggap buruk dan kebanyakan orang membencinya bahkan banyak yang stress karenanya, dan  semua  berharap wabah ini cepat berlalu  dan bisa hidup normal kembali.di balik itu tentu ada hikmah yang besar bagi orang orang yang pandai mengambilnya. Maka sebagai orang yang beriman sikap optimisme akan muncul dan  harapan baik akan kita dapatkan. Kita yakin  di balik musibah yang sangat memilukan ini tentu ada beberapa pelajaran  positif yang dapat kita gali sebagai ibrah bagi kita semua.
1.      Berikhtiar
Ikhtiar bagi orang yang beriman adalah kewajiban. Ikhtiar jika seseorang mengharapkan sesuatu, misalnya perubahan nasib, mendapatkan rezeki, ilmu, kelulusan ujian, kesehatan dan sebagainya, maka ia harus melakukan suatu upaya lahiriah secara aktif dan nyata, dan inilah yang disebut ikhtiar atau usaha. Demikian pula jika kita berharap terhindar atau selamat dari acaman Virus Corona yang mematikan itu, kita harus memperhatikan petunjuk dari para ahli kesehatan. Sebagai orang beriman ikhtiar yang dilakukan adalah dengan melaksanakan “Prosedur Standar Tatanan Baru Beraktifitas Keseharian dengan Disiplin Menjalankan Protokol Kesehatan. Yaitu; 1). Jaga jarak aman fisik 1-2 meter, 2). Displin gunakan masker, 3). Menyiapkan tempat cuci tangan/hand sanitizer diruang publik, 4). Mengukur suhu tubuh, 5). Membatasi hingga separuh pengunjung di sasilitas umum.
2.      Berdo’a
Disamping ikhtiar yang kita lakukan, kita juga harus melakukan upaya batiniah,yakni memohon dan berdo’a kepada Allah SWT. Allah berfirman dalam surat al-Baqarah 2 [186]
وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌۖ أُجِيبُ دَعۡوَةَ ٱلدَّاعِ إِذَا دَعَانِۖ
فَلۡيَسۡتَجِيبُواْ لِي وَلۡيُؤۡمِنُواْ بِي لَعَلَّهُمۡ يَرۡشُدُونَ ١٨٦
186. Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran
Dengan penuh kesungguhan kita harus optimis bahwa Allah akan menjawab do’a-do’a kita termasuk permohonan dalam menangani Covid-19. Salah satu do’a sebagai amalan menghadapi Covid-19
بِسْمِ اللهِ لَا يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَيْئٌ فِي اْلأَرْضِ وَلَا فِي السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيْعُ اْلعَلِيْمُ
"Dengan menyebut nama Allah yang bersama nama-Nya tidak ada sesuatu yang berbahaya baik di bumi maupun di langit. Dan Dialah yang Maha mendengar lagi Maha Mengetahui.
3.      Tawakal
Selain melakukan ikhtiar dan berdo’a kpada Allah tidakketinggalan adalah tawakal..Tawakal adalah suatu sikap mental seseorang yang merupakan hasil dari keyakinannya semata-mata kepada Allah SWT.
Dalam surat Ali Imran 3 [159] Allah berfirman

فَإِذَا عَزَمۡتَ فَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱللَّهِۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلۡمُتَوَكِّلِينَ ١٥٩
159. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya
بارك الله لي ولكم
Share:

Postingan Populer

Diberdayakan oleh Blogger.

Recent Posts

Unordered List

  • Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit.
  • Aliquam tincidunt mauris eu risus.
  • Vestibulum auctor dapibus neque.

Pages

Theme Support

Need our help to upload or customize this blogger template? Contact me with details about the theme customization you need.