Home »
» Khutbah Jum’at Qalbun Salim (Hati Yang Selamat)
Khutbah Jum’at Qalbun Salim (Hati Yang Selamat)
Khutbah Jum’at Qalbun Salim (Hati Yang Selamat)
Oleh Masykur H. Mansyur (Ketua FKUB Karawang)
Perhatian Islam terhadap hati sangatlah besar. Al-Qur’an dan Sunnah berkali-kali menekankan bahwa baik-buruknya seorang manusia sangat ditentukan oleh kondisi hatinya. Karena hati merupakan tempat jatuhnya niat, keyakinan, serta ukuran baik atau buruknya suatu amal perbuatan seseorang.
Dalam sebuah hadits Rasulullah bersabda
أَلاَ وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً، إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، أَلاَ وَهِيَ الْقَلْبُ. رواه البخاري ومسلم.
Ketahuilah, sesungguhnya di dalam tubuh terdapat segumpal daging. Jika segumpal daging itu baik, maka baiklah seluruh tubuhnya, dan jika segumpal daging tersebut buruk, maka buruklah seluruh tubuhnya. Ketahuilah, segumpal daging itu adalah hati.” (HR Bukhari dan Muslim)
Kemudian kata salim diartikan sebagai selamat, sehat atau bersih, sehingga kata Qalbun Salim diartikan sebagai hati yang selamat. Qalbun Salim adalah hati yang bersih dari kesyirikan, keraguan, dan penyakit batin. Hati ini menjadi satu-satunya penentu keselamatan manusia di akhirat kelak saat harta dan anak tidak lagi berguna, sebagaimana firman Allah dalam al-Qur’an surat al-Syu’ara’ 26 [88-89]
يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَّلَا بَنُوْنَ ۙ
Yaitu pada hari ketika harta dan anak-anak tidak lagi berguna, untuk menebus semua dosa-dosa yang ada,” demikian Nabi Ibrahim menutup doanya. Allah tidak membutuhkan semua itu, karena Allah Mahakaya.
اِلَّا مَنْ اَتَى اللّٰهَ بِقَلْبٍ سَلِيْمٍ ۗ
Kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih, yang selamat dari noda dan dosa.
Prof. Wahbah al-Zuhaili menafsirkan ayat يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَّلَا بَنُوْنَ adalah di hari itu tidaklah seseorang terselamtkan dari siksa Allah dengan hartanya, walaupun ditebus dengan emas sebesar bumi. Tidak pula dengan anak keturunannya walaupun ditebus dengan seluruh manusia yang ada di bumi. Sesungguhnya yang bisa menyelamatkan di hari itu adalah imannya kepada Allah SWT, keikhlasannya dalam beragama, dan yang terbebas dari perbuatan-perbuatan syirik dan orang-orang musyrik. Yang dimaksud dengan hati yang bersih adalah hati yang bersih dari keyakinan-keyakinan yang sesat dan akhlak yang tercela yang cenderung ke arah kemaksiatan, yang ujungnya adalah sikap kafir, syirik dan nifaq. Sa’id bin al-Musib mengatakan Qalbun Salim (hati yang selamat) adalah hati yang benar, yaitu hati orang mukmin, karena hati orang kafir adalah Qalbun Maridh (hati yang sakit) sebagaimana firman Allah dalam surat al-Baqarah 2 [10]
فِيْ قُلُوْبِهِمْ مَّرَضٌۙ فَزَادَهُمُ اللّٰهُ مَرَضًاۚ وَلَهُمْ عَذَابٌ اَلِيْمٌ ۢ ەۙ بِمَا كَانُوْا يَكْذِبُوْنَ
Dalam hati mereka ada penyakit, lalu Allah menambah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih disebabkan mereka berdusta.
Dalam ayat lain yang terdapat pada surat al Shaafaat 37 [83-84]
وَاِنَّ مِنْ شِيْعَتِهٖ لَاِبْرٰهِيْمَ ۘ اِذْ جَاۤءَ رَبَّهٗ بِقَلْبٍ سَلِيْمٍۙ
Di antara para rasul yang Kami utus kepada umat terdahulu adalah Nabi Ibrahim. Dan sungguh, Nabi Ibrahim adalah termasuk golongannya, yaitu penerus ajaran dan agama Nabi Nuh. Nabi Ibrahim adalah kekasih Allah. Ingatlah ketika dia datang kepada Tuhannya dengan hati yang suci bersih dari keyakinan batil dan akhlak tercela sehingga dalam hatinya hanya ada ketaatan dan kecintaan kepada Allah.
Qalbun Salīm adalah hati yang terbebas dari syirik (menyekutukan Allah), serta hati yang bersih dari berbagai penyakit batin seperti iri hati, sombong, riya’ (pamer), dengki, dan kemunafikan. Mereka memahami bahwa hanya orang yang memiliki hati yang bersih inilah yang akan selamat dan diterima oleh Allah di hari kiamat
Hati yang bersih adalah hati yang mampu mengenali kebenaran dan tidak dikendalikan oleh hawa nafsu.
Nabi Ibrahim as, telah menghadap Rabbnya dengan hati yang selamat, Allah menjadikan beliau teladan bagi manusia. Kemudian Allah wahyukan kepadamu (Muhammad), ikut agama Ibrahim yang lurus termaktub dalam surat al-Nahl [123]
ثُمَّ اَوْحَيْنَآ اِلَيْكَ اَنِ اتَّبِعْ مِلَّةَ اِبْرٰهِيْمَ حَنِيْفًا ۗوَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ
123. Kemudian Kami wahyukan kepadamu, wahai Nabi Muhammad, “Ikutilah agama, yaitu sikap hidup dan akhlak Nabi Ibrahim yang lurus dan selalu dalam kebenaran, dan dia bukanlah termasuk orang musyrik.”
Nabi Ibrahim menghadap Tuhannya dengan Qalbun Salim. Demikian pula Nabi Muhammad saw, menghadap kepada Rabbnya dengan Qalbun Salim. Termasuk dari kalangan para Nabi dan rasul, dan para sahabat Nabi kita Muhammad, semoga sholawat yang paling suci dan salam yang paling sempurna tercurah untuk beliau, begitu juga juga para syuhada’ dan orang-orang sholeh setelah mereka menghadap kepada Tuhannya dengan Qalbun Salim.
Lalu bagaimana kita menghadap Tuhan denga Qalbun Salim. Maka jadikanlah pertanyaan ini judul besar dalam hidup kita. Inilah tujuan yang seharusnya dijadikan perioritas mulai saat ini, bukan bermaksud meniadakan dunia, akan tetapi menempatkan dunia pada tempatnya, dalam arti nomor satu jadikan Qalbun Salim yang paling banyak menyibukkan akal, pikiran dan hati.
Syekh Shalih al-Sindi mengatakan. Hati yang selamat terhimpun dalam lima sifat
أنَّ اْلَقْلبَ السَّلِيمَ هُوَ جَمَعَ خَمْسَةَ أَوْصَافٍ : الوَصفُ الأوََّلُ هو القلْبُ الذي أَسْلَمَ . الوَصفُ الثاني
هو القَلْبُ الذي سَلَّمَ . الوصف الثالث هو القلْبُ الذي اسْتَسْلَمَ . الوَصفُ الربع هو القَلْبُ الذي سَلِمَ . الوصف الخامس هو القلْبُ الذي سَالَمَ
Hati yang selamat terhimpun dalam lima sifat
1. Berserah diri kepada Allah yaitu sikap batin yang memadukan ikhtiar maksimal dengan keyakinan penuh bahwa hasil akhir ada di tangan-Nya. Tindakan ini bukan berarti diam tanpa usaha, melainkan wujud iman bahwa ketetapan Allah adalah yang terbaik.
2. Tunduk menerima sepenuhnya tuntunan Rasulullah
Merupakan sifat as-salamah pada hati, yaitu kepasrahan mutlak, ketundukan batin, dan pengamalan tanpa ragu terhadap seluruh ajaran Nabi Muhammad ﷺ. Hal ini merupakan inti dari keimanan yang benar dan tanda qalbun salim (hati yang selamat) saat menghadap Allah SWT.
3. Pasrah menerima ketetapan qadha’ dan takdir Allah
Merupakan sikap ikhlas , sabar, dan tenang dalam menghadapi segala ketentuan yang terjadi. Sikap ini mencakup keyakinan bahwa semua ketetapan datang dari Allah demi kebaikan hamba-Nya.
4. Bersih dan selamat dari penyakit-penyakit hati, ia bersih dan selamat dari segala sesuatu yang memutuskannya dari Allah dan dari mengingatnya
5. Berwala dan berpihak kepada wali-wali Allah dan memusuhi musuh-musuh Allah
Siapa saja yang menghadap Rabbnya dengan hati yang memiliki sifat-sifat ini, hendaklah ia bergembira dengan kebaikan yang agung ini.
Qalbun Salīm bukan hanya penting untuk akhirat, tetapi sangat penting untuk kehidupan sosial yang sehat dan damai di dunia. Hati yang selamat adalah hati yang tulus, tidak merasa lebih baik dari orang lain, tidak suka menyakiti, dan tidak penuh kebencian. Orang yang memiliki Qalbun Salīm akan mudah menerima nasihat, senang mendengar kebenaran, dan selalu terbuka untuk memperbaiki diri. Ia tidak hanya menyembunyikan perasaan negatif, tapi benar-benar menyingkirkan perasaan itu dari dalam hati. Inilah hati yang akan membawa kedamaian dalam keluarga, masyarakat, bahkan dalam hubungan antarbangsa
Makna utama yang bisa dipetik dari uraian ini adalah bahwa Qalbun Salīm bukan hanya tentang kesucian hati untuk akhirat, tetapi juga menjadi dasar penting untuk membangun pribadi Muslim yang utuh serta sehat secara spiritual dan harmonis dalam kehidupan sosial. Jadi, Qalbun Salīm bukan hanya tujuan akhir, tapi juga proses berkelanjutan dalam membentuk akhlak, cara berpikir, dan cara berinteraksi dengan orang lain, agar selamat di dunia dan di akhirat.
Wallahu a’lam bi al-shawaab







Tidak ada komentar:
Posting Komentar