• This is default featured slide 1 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

  • This is default featured slide 2 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

  • This is default featured slide 3 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

  • This is default featured slide 4 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

  • This is default featured slide 5 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Perintah Shalat dan Kurban

Perintah Sholat dan Kurban Oleh Masykur H. Mansyur (FKUB Karawang/FAI Unsika Karawang) Shalat dan kurban (sebagaimana tersirat dalam Surah Al-Kautsar) adalah dua bentuk ibadah yang saling melengkapi. Shalat merupakan bentuk hubungan vertikal untuk menyucikan jiwa. Shalat yang dilakukan dengan benar dan khusyuk akan membentuk karakter moral seseorang. Karakter ini harus diwujudkan dalam sikap saling menolong dan berkorban untuk kepentingan bersama. Sedangkan kurban adalah bukti cinta kasih Allah kepada hamba-Nya, karena ibadah kurban juga merupakan merefleksikan rasa kemanusiaan. Dimana Allah mengganti perintah pengorbanan anak pada zaman Nabi Ibrahim dengan seekor domba sebagai bukti bahwa Allah sangat mencintai dan menghormati manusia, bukan untuk mengorbankan nyawa manusia. Disamping itu juga, kurban adalah sebagai wujud aktualisasi kepedulian sosial, kemanusiaan, dan spiritualitas secara horizontal. Jadi shalat dan kurban adalah satu kesatuan. Ibadah vertikal, dalam hal ini shalat akan melahirkan empati sosial yang sempurna jika disertai dengan ibadah horizontal seperti berkurban. Perhatikan surat al-An’am 6 [162] قُلْ اِنَّ صَلَاتِيْ وَنُسُكِيْ وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِيْ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَۙ Katakanlah sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Menurut Ibnu Katsir (Ringkas) / Fathul Karim Mukhtashar Tafsir al-Qur'an al-'Adzhim, karya Syaikh Prof. Dr. Hikmat bin Basyir bin Yasin, Professor Fakultas al-Qur'an Universitas Islam Madinah. Menjelaskan bahwa Allah SWT memerintahkan untuk memberitahu orang-orang musyrik yang menyembah selain Allah dan menyembelih hewan dengan menyebut nama selain Allah, bahwa dia berbeda dengan mereka dalam hal itu. Sesungguhnya shalat dan ibadahnya hanya untuk Allah saja, dan tidak ada sekutu bagi-Nya. Jadi yang dimaksud dalam ayat tersebut adalah bukan hanya shalat dan sembelihan biasa, tapi keseluruhan hidup harus menjadi wujud syukur atas nikmat itu. Hal ini senada sebagaiamana firman-Nya dalam surat al-Kautsar 108 [2], yaitu: فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْۗ (Maka dirikanlah salat karena Tuhanmu, dan berkorbanlah yaitu ikhlaskanlah shalat dan kurbanmu hanya untuk-Nya. Sesungguhnya orang-orang musyrik itu menyembah berhala dan menyembelih untuk berhala. Jadi Allah memerintahkan kepada beliau untuk berbeda dengan mereka dan menyimpang dari apa yang mereka lakukan, serta menghadapkan diri dengan maksud dan niat yang tulus ikhlas kepada Allah SWT. Maka laksanakanlah sholat karena Tuhanmu dan berkurbanlah Ada yang berpendapat bahwa yang dimaksud dengan shalat adalah perintah melaksanakan shalat lima waktu. Sementara pendapat lain dari beberapa murid Ibn Abbas memahami perintah shalat, tapi shalat Idul Adha. Menurut tafsir Jalalain yang dimaksud dengan shalat adalah shalat hari raya kurban. Wanhar dalam ayat tersebut dan berkurbanlah untuk manasik hajimu. Ada pula yang mengartikan nusuk pada ayat tersebut dengan sembelihanku. Disebutkan shalat dan kurban adalah karena keutamaan kedua ibadah ini, di mana hal itu menunjukkan cinta kepada Allah SWT, mengikhlaskan ibadah kepada-Nya, dan menunjukkan pendekatan diri kepada Allah baik dengan hati, lisan, anggota badan maupun dengan harta. Sholat merupakan tiang agama yang berfungsi sebagai sarana komunikasi langsung dengan Allah SWT. Ibadah ini membawa dampak luar biasa, mulai dari memberikan ketenangan batin, menjadi benteng dari perbuatan keji dan mungkar, hingga meningkatkan kesehatan fisik melalui setiap gerakannya Setiap orang yang melaksanakan shalat, maka ia akan menjadikan shalat sebagai momentum relaksasi untuk mengadukan segala masalah dan menenangkan pikiran dari tekanan hidup. Orang yang tekun melaksanakan shalat, akan senantiasa menjaga moral dan perilaku agar tetap berada di jalan yang benar sesuai tuntunan agama. Dan dengan shalat dapat menjadi penggugur dosa-dosa kecil, asalkan pelakunya menjauhi dosa-dosa besar dan hasilnya akan mendatangkan limpahan pahala yang besar. Sebagaimana sabda Rasulullah saw الصَّلَاةُ الْخَمْسُ وَالْجُمْعَةُ إِلَى الْجُمْعَةِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُنَّ مَا لَمْ تُغْشَ الْكَبَائِرُ Shalat lima waktu dan shalat Jumat ke Jumat berikutnya adalah penghapus untuk dosa di antaranya selama tidak melakukan dosa besar. Mengingat shalat sebagai kewajiban yang harus dijalankan dengan penuh kesadaran dan khusyu’. Maka setiap kali melaksanakan shalat, kita seharusnya merasakan betapa besar karunia Allah yang telah memberikan kita sarana untuk menghapus dosa-dosa kita. Sedangkan perintah kurban, bahwa setiap umat telah disyari’atkan penyembilihan hewan kurban sebagaimana firman Allah dalam surat al-Hajj 22 [34] وَلِكُلِّ اُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنْسَكًا لِّيَذْكُرُوا اسْمَ اللّٰهِ عَلٰى مَا رَزَقَهُمْ مِّنْۢ بَهِيْمَةِ الْاَنْعَامِۗ فَاِلٰهُكُمْ اِلٰهٌ وَّاحِدٌ فَلَهٗٓ اَسْلِمُوْاۗ وَبَشِّرِ الْمُخْبِتِيْنَ ۙ Bagi setiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (kurban) agar mereka menyebut nama Allah atas binatang ternak yang dianugerahkan-Nya kepada mereka. Tuhanmu ialah Tuhan Yang Maha Esa. Maka, berserahdirilah kepada-Nya. Sampaikanlah (Nabi Muhammad) kabar gembira kepada orang-orang yang rendah hati lagi taat (kepada Allah). Motif utama pekurban seyogianya bukan perkara duniawi seperti menarik pujian atau simpati. Melainkan, sudah semestinya kurban yang ditunaikan murni ditujukan untuk-Nya. Sebab, hakikat dan esensi berkurban ialah tercapainya ketakwaan dalam diri seseorang. “Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya.” (QS. al-Hajj [22]: 37). Relevansi ibadah sholat dan kurban sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits dari Abu Hurairah yang diriwayatkan Imam Ahmad dan Ibnu Majjah مَنْ كَانَ لهُ سَعَة وَلمْ يَضَحْ فَلا يَقْربَنَّ مُصَلَّانَا Barangsiapa yang mempunyai kemampuan, tetapi ia tidak berkurban maka janganlah ia mendekati (menghampiri) tempat shalat kami, Berkurban memiliki pahala dan keutamaan yang besar. Karena itu, tuntunan berkurban disandingkan dengan perintah shalat seperti tertuang di surah al-Kautsar ayat 2. Sebuah hadis menyebut pula, berkurban sangat dicintai Allah SWT. Dan, hewan yang dikurbankan kelak akan menjadi saksi dan bukti ketulusan di hadapan-Nya. Sholat dan kurban memiliki relevansi yang sangat kuat dalam Islam, di mana keduanya diposisikan sebagai cerminan kesalehan spiritual (vertikal) dan kesalehan sosial (horizontal). Ibadah kurban selalu dikaitkan dengan pelaksanaan sholat, baik dari segi waktu pelaksanaannya maupun sebagai bentuk rasa syukur atas nikmat Allah. Penggandengan perintah sholat dan kurban, keduanya disandingkan sebagai wujud rasa syukur (terima kasih) hamba atas limpahan nikmat dari Allah SWT. Namun ada semacam ancaman tegas bagi kaum muslimin yang sudah mampu secara finansial tetapi enggan berbagi melalui kurban. Ulama menilai, orang yang meremehkan kepedulian sosial (kurban) dianggap tidak layak mengikuti syiar ibadah berjamaah seperti sholat bersama kaum muslimin lainnya Pada akhirnya antara ibadah shalat dan kurban mengandung dua poros kesalehan: Kesalehan spiritual yang diwujudkan dalam bentuk shalat: hubungan dengan Allah yang memperkuat hati dan membentuk akhlak. Kesalehan sosial yang diwujudkan dalam kurban: pengorbanan untuk memberi manfaat kepada sesama. Wallahu a’lam bi al-shawaab
Share:

Keteguhan dan Kepasrahan Nabi Ibrahim dan Ismail

Keteguhan dan Kepasrahan Nabi Ibrahim dan Ismail Oleh Masykur H. Mansyur (FKUB Kabupaten Karawang) Kita semua pernah mencintai suatu dengan sangat dalam, mungkin anak kita, mungkin pasangan kita, mungkin harta dan kekayaan kita, mungkin juga kekuasaan dan jabatan kita, mungkin impian kita, mungkin harapan kita, yang sudah kita kejar bertahun-tahun lamanya. Dan justru disanalah pertanyaan itu muncul diam-diam seberapa jauh kita rela untuk melepasknannya, kalaulah Allah memintanya untuk melepaskannya. Itulah yang Allah minta dari nabiyullah Ibrahim as. Padahal beliau puluhan tahun belum punya anak. Berdo’a dan berusaha dengan air mata yang panjang, lalu do’a dan usahanya terkabul ketika beliau berusia sudah senja. Allah karuniakan seorang anak yang diberi nama Ismail. Dan hebatnya lagi anak tersayang buah hati satu-satunya, Allah minta untuk menyembelihnya. Tapi dengan kesabarannya Nabi Ibrahim tidak pernah lari, mencari alasan, ataupun takut dalam mengghadapi ini semua, bahkan beliau berinteraksi dengan intens bersama Ismail dengan penuh kelembutan, kebijaksaan. Dan Ismail tanpa ragu menjawab dengan tenang penuh keikhlasan “Wahai ayahku lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu”. Satu kalimat yang penuh haru yang tidak hadir dalam semalam, tapi lahir dari pendidikan bertahun-tahun lamanya karena Ibrahim dan Ismail lebih memilih Allah di atas segalanya. Ini adalah ujian nyata yang berat, sulit dan sangat besar bagi keduanya sebgaimana firman-Nya dalam surat as-Shoffat 37 106 اِنَّ هٰذَا لَهُوَ الْبَلٰۤؤُا الْمُبِيْنُ Sesungguhnya perintah ini benar-benar suatu ujian yang nyata dari Allah untuk menguji keimanan dan ketaatan hamba terhadap perintah-Nya. Tidak ada cobaan yang lebih sulit dari itu. Allah SWT menguji Ibrahim dengan perintah menyembelih puteranya untuk membuktikan kebesaran ketakwaannya, belaiupun menjalankan dengan sabar dan mengharap pahala di sisi-Nya. Dan ketika sampai pada waktunya maka beliaupun melaksanakannya dan perhatikan dialog antara nabi Ibrahim dengan Ismail, as-Shoffat 37 [102]. فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يٰبُنَيَّ اِنِّيْٓ اَرٰى فِى الْمَنَامِ اَنِّيْٓ اَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرٰىۗ قَالَ يٰٓاَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُۖ سَتَجِدُنِيْٓ اِنْ شَاۤءَ اللّٰهُ مِنَ الصّٰبِرِيْنَ Maka ketika anak itu sampai pada usia sanggup berusaha bersamanya, Nabi Ibrahim berkata, “Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku dalam mimpiku itu diperintah oleh Allah untuk menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!” Dengan penuh kepasrahan kepada Allah dan ketaatan pada ayahnya, dia menjawab, “Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan oleh Allah kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar dalam melaksanakan perintah-Nya.” Kita sering berkata bahwa kita mencintai anak-anak kita, tapi cinta semacam apa yang sedang kita perjuangkan dan kita wariskan kepada mereka?. Rupanya kita sering sibuk dengan menyiapkan masa depan mereka dengan baik, menabung untuk biaya Pendidikan mereka, mencarikan pekerjaan untuk mereka, mencarikan jodoh terbaik buat mereka, bahkan kita berjuang semaksimal mungkin agar anak-anak kita tidak kekurangan apapun dari segi materi dan finasial. Tapi pertanyaannya apakah mereka pernah melihat kita orangtuanya menangis dalam sujud kita ?. apakah mereka tahu bahwa semua kesibukkan kita sebagai orang tua masih punya Allah sebagai tempat Kembali ?. Maka, tatkala sampai pada waktunnya, surat as-Shoffat 37 [103-104] فَلَمَّآ اَسْلَمَا وَتَلَّهٗ لِلْجَبِيْنِۚ وَنَادَيْنٰهُ اَنْ يّٰٓاِبْرٰهِيْمُ ۙ Maka ketika keduanya telah berserah diri dan dia (Ibrahim) membaringkan anaknya atas pelipisnya (untuk melaksanakan perintah Allah). Lalu Kami panggil dia wahai Ibrahim. Ketaatan Ismail bukanlah tiba-tiba, tapi dia adalah buah dari pendidikan orang tua yang tidak pernah mengajarkan dunia sebagai tujuan hidup. Dan hari ini kita mendapatkan pelajaran tentang cinta yang sesungguhnya, yaitu mengajarkan anak kita untuk cinta kepada Allah SWT, bukan sekedar cinta kepada dunia yang fana ini. Kalaulah hari ini Allah meminta kepada kita untuk melepaskan hal yang kita cintai, tentu kita sudah siap untuk menyerahkan kepada pemilik sesungguhnya yaitu Alllah SWT. Belajar dari kisah para nabi, umat Islam diharapkan mampu menjadikan qurban sebagai momentum untuk meningkatkan kualitas keimanan, keikhlas dalam berqurban bukan hanya berarti menyembelih hewan, tetapi juga rela mengorbankan waktu, tenaga, dan harta demi kemaslahatan bersama. Sikap ikhlas ini dapat diterapkan dalam berbagai aspek kehidupan, seperti membantu sesama, bersedekah, dan menjalankan tugas dengan penuh tanggung jawab. Perhatikan surat al-Hajj 22 [37] لَنْ يَّنَالَ اللّٰهَ لُحُوْمُهَا وَلَا دِمَاۤؤُهَا وَلٰكِنْ يَّنَالُهُ التَّقْوٰى مِنْكُمْۗ كَذٰلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللّٰهَ عَلٰى مَا هَدٰىكُمْ ۗ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِيْنَ Daging (hewan kurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaanmu. Demikianlah Dia menundukkannya untukmu agar kamu mengagungkan Allah atas petunjuk yang Dia berikan kepadamu. Berilah kabar gembira kepada orang-orang yang muhsin. Pada akhirnya, makna qurban dalam Islam adalah tentang perjalanan spiritual menuju ketakwaan yang lebih tinggi. Kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail mengajarkan bahwa keikhlasan dan ketaatan tanpa ragu dan kepasrahan secarra total terhadap perntah Allah akan selalu berbuah kebaikan, meskipun perintah tersebut sangat berat secara logika dan perasaan. Dengan memahami makna ini, ibadah qurban tidak hanya menjadi ritual tahunan, tetapi juga sarana untuk membentuk pribadi yang lebih sabar, peduli, dan penuh rasa syukur. Melalui semangat qurban, umat Islam diajak untuk terus menebarkan kebaikan dan menjadikan nilai pengorbanan sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Wallahu a’lam bi al-showaab
Share:

Postingan Populer

Diberdayakan oleh Blogger.

Recent Posts

Unordered List

  • Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit.
  • Aliquam tincidunt mauris eu risus.
  • Vestibulum auctor dapibus neque.

Pages

Theme Support

Need our help to upload or customize this blogger template? Contact me with details about the theme customization you need.