Home »
» Keteguhan dan Kepasrahan Nabi Ibrahim dan Ismail
Keteguhan dan Kepasrahan Nabi Ibrahim dan Ismail
Keteguhan dan Kepasrahan Nabi Ibrahim dan Ismail
Oleh Masykur H. Mansyur (FKUB Kabupaten Karawang)
Kita semua pernah mencintai suatu dengan sangat dalam, mungkin anak kita, mungkin pasangan kita, mungkin harta dan kekayaan kita, mungkin juga kekuasaan dan jabatan kita, mungkin impian kita, mungkin harapan kita, yang sudah kita kejar bertahun-tahun lamanya. Dan justru disanalah pertanyaan itu muncul diam-diam seberapa jauh kita rela untuk melepasknannya, kalaulah Allah memintanya untuk melepaskannya. Itulah yang Allah minta dari nabiyullah Ibrahim as. Padahal beliau puluhan tahun belum punya anak. Berdo’a dan berusaha dengan air mata yang panjang, lalu do’a dan usahanya terkabul ketika beliau berusia sudah senja. Allah karuniakan seorang anak yang diberi nama Ismail. Dan hebatnya lagi anak tersayang buah hati satu-satunya, Allah minta untuk menyembelihnya. Tapi dengan kesabarannya Nabi Ibrahim tidak pernah lari, mencari alasan, ataupun takut dalam mengghadapi ini semua, bahkan beliau berinteraksi dengan intens bersama Ismail dengan penuh kelembutan, kebijaksaan. Dan Ismail tanpa ragu menjawab dengan tenang penuh keikhlasan “Wahai ayahku lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu”. Satu kalimat yang penuh haru yang tidak hadir dalam semalam, tapi lahir dari pendidikan bertahun-tahun lamanya karena Ibrahim dan Ismail lebih memilih Allah di atas segalanya.
Ini adalah ujian nyata yang berat, sulit dan sangat besar bagi keduanya sebgaimana firman-Nya dalam surat as-Shoffat 37 106
اِنَّ هٰذَا لَهُوَ الْبَلٰۤؤُا الْمُبِيْنُ
Sesungguhnya perintah ini benar-benar suatu ujian yang nyata dari Allah untuk menguji keimanan dan ketaatan hamba terhadap perintah-Nya.
Tidak ada cobaan yang lebih sulit dari itu. Allah SWT menguji Ibrahim dengan perintah menyembelih puteranya untuk membuktikan kebesaran ketakwaannya, belaiupun menjalankan dengan sabar dan mengharap pahala di sisi-Nya. Dan ketika sampai pada waktunya maka beliaupun melaksanakannya dan perhatikan dialog antara nabi Ibrahim dengan Ismail, as-Shoffat 37 [102].
فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يٰبُنَيَّ اِنِّيْٓ اَرٰى فِى الْمَنَامِ اَنِّيْٓ اَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرٰىۗ قَالَ يٰٓاَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُۖ سَتَجِدُنِيْٓ اِنْ شَاۤءَ اللّٰهُ مِنَ الصّٰبِرِيْنَ
Maka ketika anak itu sampai pada usia sanggup berusaha bersamanya, Nabi Ibrahim berkata, “Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku dalam mimpiku itu diperintah oleh Allah untuk menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!” Dengan penuh kepasrahan kepada Allah dan ketaatan pada ayahnya, dia menjawab, “Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan oleh Allah kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar dalam melaksanakan perintah-Nya.”
Kita sering berkata bahwa kita mencintai anak-anak kita, tapi cinta semacam apa yang sedang kita perjuangkan dan kita wariskan kepada mereka?. Rupanya kita sering sibuk dengan menyiapkan masa depan mereka dengan baik, menabung untuk biaya Pendidikan mereka, mencarikan pekerjaan untuk mereka, mencarikan jodoh terbaik buat mereka, bahkan kita berjuang semaksimal mungkin agar anak-anak kita tidak kekurangan apapun dari segi materi dan finasial.
Tapi pertanyaannya apakah mereka pernah melihat kita orangtuanya menangis dalam sujud kita ?. apakah mereka tahu bahwa semua kesibukkan kita sebagai orang tua masih punya Allah sebagai tempat Kembali ?.
Maka, tatkala sampai pada waktunnya, surat as-Shoffat 37 [103-104]
فَلَمَّآ اَسْلَمَا وَتَلَّهٗ لِلْجَبِيْنِۚ وَنَادَيْنٰهُ اَنْ يّٰٓاِبْرٰهِيْمُ ۙ
Maka ketika keduanya telah berserah diri dan dia (Ibrahim) membaringkan anaknya atas pelipisnya (untuk melaksanakan perintah Allah). Lalu Kami panggil dia wahai Ibrahim.
Ketaatan Ismail bukanlah tiba-tiba, tapi dia adalah buah dari pendidikan orang tua yang tidak pernah mengajarkan dunia sebagai tujuan hidup.
Dan hari ini kita mendapatkan pelajaran tentang cinta yang sesungguhnya, yaitu mengajarkan anak kita untuk cinta kepada Allah SWT, bukan sekedar cinta kepada dunia yang fana ini. Kalaulah hari ini Allah meminta kepada kita untuk melepaskan hal yang kita cintai, tentu kita sudah siap untuk menyerahkan kepada pemilik sesungguhnya yaitu Alllah SWT.
Belajar dari kisah para nabi, umat Islam diharapkan mampu menjadikan qurban sebagai momentum untuk meningkatkan kualitas keimanan, keikhlas dalam berqurban bukan hanya berarti menyembelih hewan, tetapi juga rela mengorbankan waktu, tenaga, dan harta demi kemaslahatan bersama. Sikap ikhlas ini dapat diterapkan dalam berbagai aspek kehidupan, seperti membantu sesama, bersedekah, dan menjalankan tugas dengan penuh tanggung jawab. Perhatikan surat al-Hajj 22 [37]
لَنْ يَّنَالَ اللّٰهَ لُحُوْمُهَا وَلَا دِمَاۤؤُهَا وَلٰكِنْ يَّنَالُهُ التَّقْوٰى مِنْكُمْۗ كَذٰلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللّٰهَ عَلٰى مَا هَدٰىكُمْ ۗ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِيْنَ
Daging (hewan kurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaanmu. Demikianlah Dia menundukkannya untukmu agar kamu mengagungkan Allah atas petunjuk yang Dia berikan kepadamu. Berilah kabar gembira kepada orang-orang yang muhsin.
Pada akhirnya, makna qurban dalam Islam adalah tentang perjalanan spiritual menuju ketakwaan yang lebih tinggi. Kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail mengajarkan bahwa keikhlasan dan ketaatan tanpa ragu dan kepasrahan secarra total terhadap perntah Allah akan selalu berbuah kebaikan, meskipun perintah tersebut sangat berat secara logika dan perasaan. Dengan memahami makna ini, ibadah qurban tidak hanya menjadi ritual tahunan, tetapi juga sarana untuk membentuk pribadi yang lebih sabar, peduli, dan penuh rasa syukur. Melalui semangat qurban, umat Islam diajak untuk terus menebarkan kebaikan dan menjadikan nilai pengorbanan sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.
Wallahu a’lam bi al-showaab







Tidak ada komentar:
Posting Komentar