• This is default featured slide 1 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

  • This is default featured slide 2 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

  • This is default featured slide 3 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

  • This is default featured slide 4 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

  • This is default featured slide 5 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

ETIKA PEMIMPIN DALAM AL-QUR'AN OLEH MASYKUR H MANSYUR



Etika Pemimpin dalam al-Qur’an
Oleh: Masykur H Mansyur (IAIN Syekh Nujati Cirebon DPK Unsika Karawang)

Terdapat berbagai kisah yang ditampilkan dalam al-Qur’an yang ada relevansinya dengan kehidupan kita sekarang ini. Al-Quran telah menampilkan sejumlah kisah dari mulai figur positif dan sekaligus figur negatif. Ada kisah pembela kebenaran seperti kisah para Nabi dan Rasul serta ada juga kisah-kisah kaum/tokoh yang diadzab oleh Allah karena kedzaliman mereka; seperti Fir’aun, Tsamud, ‘Ad, Abraha, Tubba’ Saba’ dan sebagainya.
 Salah satu figur positif di antara figur tersebut yang dibahas dalam khutbah singkat ini ialah cuplikan kisah Nabi Sulaiman dan Penguasa Saba’, yang diceritakan di dalam beberapa surah al-Quran, khususnya dalam surah an-Naml dan surah Saba’.
Sebagaimana disebutkan dalam Tafsir Ibnu Katsir dalam surat an-Naml 27 [20] Mujahid, Sa’id bin Jubair dan lain-lain berkata dengan sanad yang berasal –dari Ibnu ‘Abbas dan Shahabat lainnya berkata: “Hud-hud adalah binatang ahli dalam memberi arahan kepada Sulaiman tentang air. Jika beliau sedang berada di padang pasir, beliau memintanya untuk meneliti air yang berada di tapal batas, seperti manusia melihat sesuatu yang tampak di permukaan tanah. Jika burung Hud-hud telah memberikan petunjuk tentang hal tersebut, maka Nabi Sulaiman segera memerintahkan jin untuk menggali termpat tersebut sehingga memancar air dari dasarnya.

Suatu ketika Nabi Sulaiman menyelenggarakan rapat lengkap, yang diikuti oleh Jin, Burung dan Manusia, tetapi ada salah satu peserta rapat yang tidak hadir ialah Hud-hud, yaitu utusan dari bangsa burung, Dan dia memeriksa burung-burung itu, lalu berkata; mengapa aku tidak melihat Hud-hud, apakah ia termasuk yang tidak hadir?. [27:20] Nabi Sulaiman bertanya-tanya, apa sebab dia tidak hadir, apakah dia sakit?, atau dia memisahkan diri dari barisan? Atau ditangkap dan dimakan oleh binatang buas?. Karena Hud-hud nggak muncul-muncul beliaupun marah, tetapi kemarahannya dikendalikan oleh kearifannya sebagai seorang pemimpin. Pasti akan kusiksa dia dengan siksa yang berat, atau kusembelih dia, kecuali jika ia datang kepadaku dengan alasan yang jelas, [27:21]. Betul saja. Maka tidak lama kemudian (datanglah Hud-hud), lalu berkata“Aku telah mengetahui sesuatu yang kamu belum mengetahuinya dan kubawa kepadamu dari negeri Saba’ suatu berita penting yang diyakini,[27:22] Dari sisi ini Hud-hud beralasan dan meyakinkan Nabi Sulaiman bahwa ketidak hadirannya bukan karena lari dari tanggung jawab, melainkan ada hal rahasia penting yang ia ketahui, yang belum tentu diketahui oleh Nabi Sulaiman. Dan hal penting lainnya bahwa ia baru saja kembali dari perjalanan jauh yaitu ke negeri Saba’ yang terletak di selatan jazirah Arab, sedangkan kerajan Nabi Sulaiman berada di utara. Sulaiman mendengarkan dan menganalisis secara seksama argumentasi Hud-hud. Sesungguhnya aku menjumpai seorang wanita yang memerintah mereka dan dia dianugerahi segala sesuatu serta mempunyai singgasana yang besar [27:23]. Burung Hud-hud masih melanjutkan laporannya Aku mendapati dia dan kaumnya menyembah matahari, selain Allah, dan syetan telah menjadikan mereka memandang indah perbuatan-perbuatan mereka lalu menghalangi mereka dari jalan (Allah), sehingga mereka tidak dapat petunjuk [27:24].

Sebetulnya burung Hud-hud ini menurut Sayyid Quthb dalam Tafsir fi Zhilalil Qur’an “Sesungguhnya burung Hud-hud ini mempunyai pemahaman, kecerdasan, keimanan, keindahan tutur kata dan susunan kalimat dalam melaporkan suatu peristiwa daya respon yang sensitif dalam sikapnya, dan isyarat yang sangat tajam. Ia betul-betul mengetahui bahwa wanita itu adalah Ratu kerajaan Saba’ dan pengikut-pengikutnya adalah rakyatnya, Ia mengetahui bahwa mereka semua menyembah dan bersujud kepada matahari dan tidak menyembah Allah, ia mengetahui bahwa sujud itu hanya dilakukan kepada Allah”.
 Sebagai seseorang yang memiliki sense of priority, laporan-laporan dari staf Nabi Sulaiman tidak dipetieskan tetapi langsung segera ditindaklanjuti dengan mengecek kembali, maka diutuslah kembali burung Hud-hud untuk mengantarkan surat kepada Ratu Bilqis.
اذْهَبْ بِكِتَابِي هَذَا فَأَلْقِهِ إِلَيْهِمْ ثُمَّ تَوَلَّ عَنْهُمْ فَانْظُرْ مَاذَا يَرْجِعُونَ (Pergilah dengan (membawa) suratku ini, lalu jatuhkanlah kepada mereka, kemudian berpalinglah dari mereka, lalu perhatikanlah apa yang mereka bicarakan”).[27:28]. Tidak lama kemudian, burung Hud-hud membawa surat itu kepada Ratu Balqis, pemimpin negeri Saba’ ketika itu. Sebagai seorang pemimpin tertinggi negeri Saba’, ia tidak mau gegabah dan mengambil tindakan sendiri, tetapi ia segera mengumpulkan para petingginya:  قَالَتْ يَاأَيُّهَا الْمَلَأُ إِنِّي أُلْقِيَ إِلَيَّ كِتَابٌ كَرِيمٌ (Berkata ia (Balqis): “Hai pembesar-pembesar, sesungguhnya telah dijatuhkan kepadaku sebuah surat yang mulia). [27:29]. Redaksi surat Nabi Sulaiman cukup singkat tetapi sarat dengan makna: إِنَّهُ مِنْ سُلَيْمَانَ وَإِنَّهُ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ. (Sesungguhnya surat itu, dari Sulaiman dan sesungguhnya (isi) nya: “Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang [27:30]. َ ألَّا تَعْلُوا عَلَيَّ وَأْتُونِي مُسْلِمِيْنَ  Bahwa janganlah kamu sekalian berlaku sombong terhadapku dan datanglah kepadaku sebagai orang-orang berserah diri” [27:31].
 Reaksi Pemimpin negeri Saba’ sangat hati-hati menanggapi surat Nabi Sulaiman. Ia meminta pendapat dan saran para pembesarnya mengenai langkah-langkah yang akan diambil: قَالَتْ يَاأَيُّهَا الْمَلَأُ أَفْتُونِي فِي أَمْرِي مَا كُنْتُ قَاطِعَةً أَمْرًا حَتَّى تَشْهَدُونِ  (Berkata dia (Balqis): “Hai para pembesar berilah aku pertimbangan dalam urusanku (ini) aku tidak pernah memutuskan sesuatu persoalan sebelum kamu berada dalam majelis-(ku)” [27:32]. Pola kepemimpinan yang terbuka seorang pemimpin disambut dengan sikap tawadhu’ dari para petingginya: قَالُوا نَحْنُ أُولُو قُوَّةٍ وَأُولُو بَأْسٍ شَدِيدٍ وَالْأَمْرُ إِلَيْكِ فَانْظُرِي مَاذَا تَأْمُرِينَ (Mereka menjawab: “Kita adalah orang-orang yang memiliki kekuatan dan (juga) memiliki keberanian yang sangat (dalam peperangan), dan keputusan berada di tanganmu, maka pertimbangkanlah apa yang akan kamu perintahkan”). [27:33].
 Sebagai seorang pemimpin yang punya visi dan kecerdasan yang tinggi, ia sepenuhnya sependapat dengan saran para pembesarnya untuk tidak menggunakan  kekerasan di dalam menyikapi suatu persoalan, meskipun ia tidak menafikan kemungkinan itu. Ia menyampaikan strategi yang sebaiknya diambil: وَإِنِّي مُرْسِلَةٌ إِلَيْهِمْ بِهَدِيَّةٍ فَنَاظِرَةٌ بِمَ يَرْجِعُ الْمُرْسَلُونَ (Dan sesungguhnya aku akan mengirim utusan kepada mereka dengan (membawa) hadiah, dan (aku akan) menunggu apa yang akan dibawa kembali oleh utusan-utusan itu). (35). Ia mengutamakan pendekatan diplomasi selama itu masih memungkinkan. Ia memutuskan untuk mengirimkan bingkisan yang bernilai tinggi kepada Nabi Sulaiman dengan harapan kedua negeri ini menghindari jalan kekerasan. Sementara di pihak lain, Nabi Sulaiman tidak kalah cerdas dan kayanya. Ia menukar bingkisan itu dengan sesuatu yang lebih berharga dengan cara-cara yang amat canggih, sehingga proses penukaran itu tidak sempat dideteksi oleh pasukan Ratu Balqis. Akhirnya, kedua kerajaan ini menyatu dan membangun sinergi dengan cara terhormat dan beradab.
 Kecerdasan dan kearifan pemimpin negeri Saba’ mendapatkan pengakuan di dalam al-Quran: لَقَدْ كَانَ لِسَبَإٍ فِي مَسْكَنِهِمْ ءَايَةٌ جَنَّتَانِ عَنْ يَمِينٍ وَشِمَالٍ كُلُوا مِنْ رِزْقِ رَبِّكُمْ وَاشْكُرُوا لَهُ بَلْدَةٌ طَيِّبَةٌ وَرَبٌّ غَفُورٌ (Sesungguhnya bagi kaum Saba’ ada tanda (kekuasaan Tuhan) di tempat kediaman mereka, yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan sebelah kiri. (Kepada mereka dikatakan): “Makanlah olehmu dari rezki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun”). (Q.S. Saba’ [34:15].
 Figur Ratu Balqis, pemimpin negeri Saba’, selain memiliki singgasana besar (‘arsyun ‘azhim) negerinya juga dilukiskan sebagai Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafur, yang merupakan obsesi setiap negeri muslim. Sayang sekali kejayaan negeri ini tidak dapat dipertahankan karena para penerusnya meninggalkan pola-pola ideal kepemimpinan para pendahulunya. فَأَعْرَضُوا فَأَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ سَيْلَ الْعَرِمِ وَبَدَّلْنَاهُمْ بِجَنَّتَيْهِمْ جَنَّتَيْنِ ذَوَاتَيْ أُكُلٍ خَمْطٍ وَأَثْلٍ وَشَيْءٍ مِنْ سِدْرٍ قَلِيلٍ (Tetapi mereka berpaling, maka Kami datangkan kepada mereka banjir yang besar dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon Atsl dan sedikit dari pohon Sidr). [34:16].
Prof Nazarudin Umar mengatakan pelajaran berharga yang dapat diperoleh dari kisah di atas adalah sebagai berikut:
  1. Kejujuran, konsistensi, kecerdasan, kearifan, keterbukaan, dan sikap demokratis seorang pemimpin merupakan faktor kunci bagi pencapaian tujuan dan cita-cita sebuah bangsa. Sebaik apapun sebuah sistem tidak banyak gunanya tanpa kehadiran figur ideal seperti tadi;
  2. Figur yang berpotensi memiliki julukan pemilik ‘arsyun ‘azhim (singgasana besar) sebagai lambang supremasi kewibawaan sebuah negeri dan Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafur sebagai simbol ideal sebuah negeri, ternyata tidak hanya terdapat di negeri-negeri yang secara formal mencantumkan Islam sebagai dasar konstitusi, tetapi juga di sebuah bangsa yang secara substansial menerapkan prinsip-prinsip universal Islam;
  3. Pemimpin yang sukses tidak mesti hanya dari kalangan pria, tetapi kisah al-Quran di atas membuktikan adanya seorang perempuan, yakni  Ratu Balqis, yang berhasil menjadi penguasa sukses;
  4. Pola kepemimpinan ideal tidak hanya bisa diterapkan di dalam masyarakat Islam, tetapi juga di dalam masyarakat pluralistik. Dengan kata lain, tanpa harus menunggu untuk menjadi Negara Islam, nilai-nilai dasar kepemimpinan Islami sudah dapat diterapkan. Masyarakat Saba’ yang pada awalnya adalah masyarakat penyembah matahari, tetapi mampu menciptakan sebuah masyarakat yang tangguh dan Islami;
  5. Langgengnya sebuah rezim di dalam suatu masyarakat ditentukan oleh seberapa jauh para penguasa dapat mempertahankan nilai-nilai luhur para pendahulunya. Modernitas dan perubahan merupakan sifat alamiah, tetapi mempertahankan nilai-nilai luhur yang masih relevan dan mengakomodir nilai-nilai baru yang lebih positif, itulah yang menjadi inti pola kepemimpinan profetik (kenabian), walaupun menurut Ibn Khaldun hal ini sulit dicapai karena setiap generasi adalah anak zamannya. Ada generasi perintis, ada generasi pembangun, ada generasi penikmat, dan akhirnya ada generasi perusak;
  6. Faktor lain ialah tingginya partisipasi dan dukungan masyarakat secara komprehensif, yang ditandai dengan hidupnya semangat musyawarah di dalam masyarakat. Hal ini sejalan dengan ayat: وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ  (Dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian, apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya. (QS. Āli ‘Imran [4]: 159);
  7. Figur pemimpin yang diwarnai dengan kecurangan, kerakusan, dan kezhaliman dalam kisah-kisah al-Quran semuanya berakhir dengan kondisi yang memprihatinkan. Sehebat apapun Fir’aun yang pernah melantik dirinya sebagai Tuhan (ana rabbukum al-a’la), tetapi akhirnya tersungkur di lautan kehinaan. Sebaliknya, pemimpin ideal yang bersahaja, memegang teguh amanah, menghargai konstituennya, dan menjauhi segala bentuk ketidakjujuran, semuanya berakhir dengan mengesankan, bahkan dipuji oleh sejarah.
 Penutup
Cuplikan kisah tersebut mudah-mudahan membawa inspirasi baru buat kita sebagai anggota masyarakat bangsa Indonesia yang kini sedang berusaha menciptakan model kepemimpinan yang sesuai dengan kondisi obyektif masyarakat kita. Kisah-kisah dalam al-Quran semestinya memberikan pelajaran kepada kita semua, baik sebagai pemimpin maupun sebagai anggota masyarakat. Pemimpin ideal dan masyarakat yang adil berbanding lurus dengan tingkat kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat.
     Kondisi bangsa kita yang pluralistik membutuhkan pengertian dan kearifan, baik sebagai pemimpin maupun sebagai rakyat. Kearifan dan kecerdasan seperti yang dimiliki oleh Nabi Sulaiman dan Pemimpin Saba’ perlu juga dimiliki oleh para pemimpin bangsa ini. Para elit politik seharusnya banyak belajar tentang kisah jatuh-bangunnya sebuah rezim dan hidup matinya sebuah bangsa di dalam al-Quran. Perlu diketahui bahwa al-Quran telah memberikan warning (peringatan) bahwa ajal tidak hanya dipunyai oleh seorang individu tetapi juga kelompok masyarakat. Likulli ummatin ajalun (setiap ummat atau rezim mempunyai ajal). Panjang atau pendeknya sebuah rezim menurut al-Quran ditentukan seberapa jauh seorang pemimpin berpegang teguh kepada nilai-nilai ideal kemanusiaan dan kemasyarakatan, seperti yang dibawa oleh para Nabi dan Rasul. Wallahu a’lam.

Share:

Khutbah Jum’at Judul: Ramadhan Karim Oleh Masykur H Mansyur (IAIN Syekh Nurjati Cirebon DPK Unsika Karawang)


Mungkin ada diantara kita yang bertanya kenapa bulan ramadhan ini dikatakan sebagai bulan yang mulia atau bulan yang agung atau yang sering kita ucapkan Ramadhan Kariim.
Diriwayatkan dari Salman r.a., ia berkata, “Rasulullah saw, pernah menyampaikan khutbah kepada kami pada akhir bulan Sya’ban. Beliau bersabda;
Wahai saudara-saudara sekalian, bulan yang agung dan penuh berkah sudah hampir tiba, bulan yang didalamnya terdapat suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan, bulan yang puasanya ditetapkan oleh Allah sebagai kewajiban dan shalat malamnya sebagai ibadah sunnah. Barang siapa melakukan sebuah amal sunnah di dalamnya, maka ia seperti orang yang menunaikan sebuah amal fardhu di luarnya; dan barang siapa melakukan sebuah amal fardhu di dalamnya, maka dia terhitung seperti orang yang menunaikan tujuh puluh amal fardhu di luarnya. Dia adalah bulan kesabaran, dan pahala kesabaran adalah surga. Dia adalah bulan penghiburan (kepada kaum miskin). Pada bulan tersebut rezeki seorang mu’min bertambah. Barang siapa memberi buka kepada seorang yang berpuasa, niscaya dosa-dosanya akan diampuni, dirinya akan dibebaskan dari neraka, dan dia mendapat pahala seperti orang yang berpuasa tersebut tanpa berkurang sedikit pun pahalanya.
            Para sahabat berkata, “Wahai Rasulullah, tidak semua orang punya harta untuk memberi buka kepada orang yang berpuasa”! Rasululah bersabda, Allah memberi pahala ini kepada siapa pun yang memberi buka kepada orang yang berpuasa, meskipun hanya dengan sebutir kurma, seteguk air putih, atau campuran susu.
Bagian awal bulan ini adalah rahmat, bagian tengahnya adalah ampunan dosa, dan bagian akhirnya adalah pembebasan dari neraka. Barang siapa memberi budaknya keringanan dari pekerjaan pada bulan ini, niscaya Allah akan mengampuni dosanya dan membebaskan dari neraka. Perbanyaklah melakukan empat perkara dalam bulan ini, dua diantaranya untuk membuat Tuhan kalian ridha, dan dua lagi pasti kalian perlukan. Dua perkara untuk membuat Tuhan kalian ridha adalah mengucapkan syahadat laa ilaaha illa-llah (tiada Tuhan selain Allah) dan beristighfar, sedangkan dua perkara yang pasti kalian perlukan adalah memohon surga kepada Allah dan berlindung kepada-Nya dari neraka. Barang siapa memberi minum kepada orang yang berpuasa, niscaya Allah akan memberinya minum dari telagaku, sehingga dia tidak akan haus lagi sampai dia masuk surga
Sungguh lengkap sudah apa yang dikhutbahkan oleh baginda Rasulullah saw, tentang berbagai kemuliaan yang diperuntukkan bagi manusia yang melaksanakan ibadah, baik ibadah sunah maupun ibadah wajib di bulan ramadhan ini.

Dalam sebuah hadits disebutkan
لَوْ يَعْلَمُ الْعِبَادُ ما فيِ شَهرِ رَمَضَانَ لَتَمَنَّى اَنْ يَكُوْنَ شَهْرُ رَمَضاَنَ سَنَةً
ِِِArtinya, seandainya manusia mengetahui besarnya pahala yang tersedia di bulan ramadhan, niscaya dia berharap bulan ramadhan itu sepanjang tahun, (hadits riwayat Bukhari dan Muslim dari Abi Hurairah).
Dan pahalanya Allah sendiri yang melipatgandakannya sebagaimana firman-Nya dalam hadits qudsi
كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ بعَشْرِ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعمِائَة ضِعْفٍ ، قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ : إِلَّا الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ
Setap amal manusia dilipatgandakan pahalanya, satu amal kebaikan diberi pahala sepuluh, sampai tujuh ratus kali lipat. Allah ta’ala berfirman kecuali puasa, sebab puasa adalah untuk-Ku, dan Akulah yang memberi pahala atasnya.
Karena sesungguhnya yang diinginkan oleh orang yang berpuasa adalah taqwa kepada Allah swt. sebagaimana firman-Nya dalam surah al-Baqarah 2 : [183].
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ كُتِبَ عَلَيۡكُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُونَ
183. Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.

Ahmad Mustafa al-Maraghi dalam tafsir al-Maraghi (vol. 2, p. 117-118), puasa adalah untuk mempersiapkan diri dalam bertaqwa, hal ini dapat dilihat dari sikap yang menonjol diantaranya adalah; puasa ini dapat membiasakan seorang untuk takut kepada Allah, baik dalam keadaan sendiri atau dengan banyak orang. Sebab orang yang melakukan ini tidak ada pengawas yang mengawasi kecuali Tuhannya. Jika mereka meninggalkan keinginan yang ada dihadapannya, seperti makanan enak, minuman segar, buah yang matang dan isteri cantik di dalam rangka menjalankan ibadah puasa dan taat akan perintah Tuhan selama satu bulan penuh, berarti ia telah membiasakan diri untuk bertaqwa kepada Allah Swt. Sebab, jika tidak demikian, maka dia tidak akan kuat menahan keinginan-keingainan tersebut. Semakin berulangnya melakukan puasa, berarti telah membiasakan diri untuk bersikap malu terhadap Allah yang selalu mengawasi gerak-geriknya di dalam melaksanakan segala perintah dan menjauhi segala larangan-Nya. Selain itu, berarti pula puasa itu dapat menyempurnakan diri dan berlatih untuk mengekang hawa nafsu, mengingat kemauan hawa nafsu selalu mengiringi manusia kemana ia pergi.
Siapapun yang mempunyai sifat-sifat tersebut secara lengkap, pasti tidak akan berani melakukan penipuan terhadap oerang lain, juga tidak akan berani memakan harta mereka dengan jalan batil. Ia juga tidak akan berani meruntuhkan salah satu rukun Islam, zakat misalnya. Ia juga tidak berani melakukan berbagai perbuatan munkar dan berdosa. Jika ia terpaksa melakukan perbuatan tersebut, ia akan cepat sadar kembali dan bergegas melakukan taubat.
            Disini diperlukan perlindungan diri yang tulus ikhlas kepada Allah Swt. Orang yang beriman selalu membentengi diri dengan taqwa, yaitu selalu memelihara hubungan baiknya dengan Allah Swt, Tapi pada satu sisi, manusia juga sekali-sekali terlalai, dan pada saat terlalai inilah setan mencoba mengganggu, walaupun ia orang yang bertaqwa. Kalau demikian kembalilah untuk bertaubat. Al-Qur’an surat al’A’raf 7 : [201] Allah berfirman
إِنَّ ٱلَّذِينَ ٱتَّقَوۡاْ إِذَا مَسَّهُمۡ طَٰٓئِفٞ مِّنَ ٱلشَّيۡطَٰنِ تَذَكَّرُواْ فَإِذَا هُم مُّبۡصِرُونَ ٢٠١
201. Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa bila mereka ditimpa was-was dari syaitan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya
Wallahu a’lam bi al-shawaab

Bagaimana cara mengukur tingkat ketaqwaan kita kepada Allah Swt. dlam al-Qur’an surat al-Baqarah 2:[134]
۞وَسَارِعُوٓاْ إِلَىٰ مَغۡفِرَةٖ مِّن رَّبِّكُمۡ وَجَنَّةٍ عَرۡضُهَا ٱلسَّمَٰوَٰتُ وَٱلۡأَرۡضُ أُعِدَّتۡ لِلۡمُتَّقِينَ  ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ فِي ٱلسَّرَّآءِ وَٱلضَّرَّآءِ وَٱلۡكَٰظِمِينَ ٱلۡغَيۡظَ وَٱلۡعَافِينَ عَنِ ٱلنَّاسِۗ وَٱللَّهُ يُحِبُّ ٱلۡمُحۡسِنِينَ ١٣٤

133. Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa
134. (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan




Share:

MARHABAN YA RAMADHAN Oleh: Masykur H Mansyur. IAIN Syekh Nurjati Cirebon (DPK Unsika Karawang) Fakultas Agama Islam Uniska Karawang



Pada paruh kedua minggu ini sudah mulai tampak  kita saksikan spanduk dengan ungkapan marhaban ya ramadhan atau selamat datang bulan ramadhan. begitupun di WA, facebook, dan lain-lain. lalu apa sesungguhnya marhaban ya ramadhan tersebut ?.
Kata Marhaban sebagaimana dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) di artikan sebagai kata seru (aktif) untuk menyambut atau menghormati tamu (yang berarti selamat datang). Sama halnya dengan kata “ahlan wa sahlan” yang  juga berarti selamat datang.
Walaupun keduanya mempunyai pengertian yang sama “selamat datang” tetapi penggunaannya berbeda. Quraish Shihab dalam bukunya Wawasan al-Qur’an (p.512) menjelaskan para ulama tidak menggunakan ahlan wa sahlan untuk menyambut datangnya bulan ramadlan, melainkan “marhaban ya ramadlan”. Kata “ahlan  terambil  dari  kata  ahl  yang   berarti   "keluarga", sedangkan  sahlan berasal  dari kata sahl yang berarti mudah. Juga berarti "dataran  rendah"  karena mudah  dilalui,  tidak seperti  "jalan  mendaki".  Ahlan  wa  sahlan, adalah ungkapan selamat datang,  yang  dicelahnya  terdapat  kalimat  tersirat yaitu,  "(Anda  berada di tengah) keluarga dan (melangkahkan kaki di) dataran rendah yang mudah."
Masih menurut Quraish Shihab, kata marhaban terambil dari kata  rahb  yang  berarti  "luas"  atau "lapang",  sehingga marhaban menggambarkan bahwa tamu disambut dan diterima  dengan  dada  lapang,  penuh  kegembiraan, serta dipersiapkan  baginya ruang yang luas untuk melakukan apa saja yang  diinginkannya. Dari  akar   kata   yang   sama   dengan "marhaban", terbentuk  kata  rahbat  yang antara lain berarti "ruangan luas untuk kendaraan, untuk memperoleh perbaikan atau kebutuhan pengendara guna melanjutkan perjalanan." Marhaban ya Ramadhan berarti "Selamat  datang  Ramadhan" mengandung  arti bahwa kita menyambutnya dengan lapang dada, penuh kegembiraan; tidak   dengan  menggerutu   dan   menganggap    kehadirannya "mengganggu ketenangan" atau suasana nyaman kita.
Marhaban  ya  Ramadhan,  kita  ucapkan  untuk  bulan suci itu, karena kita mengharapkan agar jiwa raga kita diasah dan diasuh guna melanjutkan perjalanan menuju Allah Swt.
            Dalam menyambut bulan suci ramadlan tahun 1439 H. 2018, ini ada baiknya menyimak apa yang disampaikan oleh baginda Rasulullah saw dalam sebuah hadits sebagai berikut:
Diriwayatkan dari Salman r.a., ia berkata, “Rasulullah saw, pernah menyampaikan khutbah kepada kami pada akhir bulan Sya’ban. Beliau bersabda;
Wahai saudara-saudara sekalian, bulan yang agung dan penuh berkah sudah hampir tiba, bulan yang didalamnya terdapat suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan, bulan yang puasanya ditetapkan oleh Allah sebagai kewajiban dan shalat tahajudnya sebagai ibadah sunnah. Barang siapa melakukan sebuah amal sunnah di dalamnya, maka ia seperti orang yang menunaikan sebuah amal fardhu di luarnya; dan barang siapa melakukan sebuah amal fardhu di dalamnya, maka dia terhitung seperti orang yang menunaikan tujuh puluh amal fardhu di luarnya. Dia adalah bulan kesabaran, dan pahala kesabaran adalah surga. Dia adalah bulan penghiburan (kepada kaum miskin). Pada bulan tersebut rezeki seorang mu’min bertambah. Barang siapa memberi buka kepada seorang yang berpuasa, niscaya dosa-dosanya akan diampuni, dirinya akan dibebaskan dari neraka, dan dia mendapat pahala seperti orang yang berpuasa tersebut tanpa berkurang sedikit pun pahalanya.
            Para sahabat berkata, “Wahai Rasulullah, tidak semua orang punya harta untuk memberi buka kepada orang yang berpuasa”! Rasululah bersabda, Allah memberi pahala ini kepada siapa pun yang memberi buka kepada orang yang berpuasa, meskipun hanya dengan sebutir kurma, seteguk air putih, atau campuran susu.
Bagian awal bulan ini adalah rahmat, bagian tengahnya adalah ampunan dosa, dan bagian akhirnya adalah pembebasan dari neraka. Barang siapa memberi budaknya keringanan dari pekerjaan pada bulan ini, niscaya Allah akan mengampuni dosanya dan membebaskan dari neraka. Perbanyaklah melakukan empat perkara dalam bulan ini, dua diantaranya untuk membuat Tuhan kalian ridha, dan dua lagi pasti kalian perlukan. Dua perkara untuk membuat Tuhan kalian ridha adalah mengucapkan syahadat laa ilaaha illa-llah (tiada Tuhan selain Allah) dan beristighfar, sedangkan dua perkara yang pasti kalian perlukan adalah memohon surga kepada Allah dan berlindung kepada-Nya dari neraka. Barang siapa memberi minum kepada orang yang berpuasa, niscaya Allah akan memberinya minum dari telagaku, sehingga dia tidak akan haus lagi sampai dia masuk surga. Menurut Wahbah az-Zuhaily dalam kitab Fiqh Islam wa Adillatuhu (2011: 24-26, Vol. 3). Bahwa hadits tersebut diriwayatkan oleh Ibnu Huzaimah dalam Shahihnya, lalu dia berkomentar hadits ini shahih. Dia meriwayatkan dari jalur Baihaqi. Abusy Syaikh ibnu Hayyan juga meriwayatkan dalam ats-Tsawaab secara ringkas dari mereka berdua (at-Targhib wat-Tarhib 2/94-95). Demikian az-Zuhaily.
            Sungguh lengkap sudah apa yang dikhutbahkan oleh baginda Rasulullah saw, tentang berbagai kemuliaan yang diperuntukkan bagi manusia yang melaksanakan ibadah, baik ibadah sunah maupun ibadah wajib di bulan ramadhan ini. Begitu amat pentingnya bulan ramadhan ini sampai-sampai Nabi Muhammad saw pernah bersabda;
لَوْ يَعْلَمُ الْعِبَادُ ما فيِ شَهرِ رَمَضَانَ لَتَمَنَّى اَنْ يَكُوْنَ شَهْرُ رَمَضاَنَ سَنَةً
ِِِArtinya, seandainya manusia mengetahui besarnya pahala yang tersedia di bulan ramadhan, niscaya dia berharap bulan ramadhan itu sepanjang tahun, (hadits riwayat Bukhari dan Muslim dari Abi Hurairah).
Puasa Ramadhan diwajibkan setelah kiblat dialihkan ke ka’bah pada tanggal 10 Sya’ban tahun 2 H. Tepatnya satu setengah tahun setelah Nabi berhijrah ke Madinah. Nabi saw menjalani puasa Ramadhan selama Sembilan tahun.
Wahbah Az-Zuhaili dalam kitab Fiqh Islam wa Adilatuhu. Orang yang mengingkari kewajiban puasa Ramadhan terhitung kafir dan diperlakukan seperti orang murtad, jadi dia diminta bertaubat. Jika sudi bertaubat dia diampuni. Adapun orang yang meninggalkan puasa karena malas, tanpa ada udzur, dan tidak mengingkari kewajibannya, maka dia terhitung fasik, bukan kafir.
Berdasarkan dalil al-Qur’an, sunnah dan ijma’ puasa bulan ramadhan merupakan rukun dan fardhu (kewajiban dalam Islam).
Dalilnya al-Qur’an surah al-Baqarah ayat 2 :[183, 185]]
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ كُتِبَ عَلَيۡكُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُونَ ١٨٣
183. Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.
شَهۡرُ رَمَضَانَ ٱلَّذِيٓ أُنزِلَ فِيهِ ٱلۡقُرۡءَانُ هُدٗى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَٰتٖ مِّنَ ٱلۡهُدَىٰ وَٱلۡفُرۡقَانِۚ فَمَن شَهِدَ مِنكُمُ ٱلشَّهۡرَ فَلۡيَصُمۡهُۖ وَمَن كَانَ مَرِيضًا أَوۡ عَلَىٰ سَفَرٖ فَعِدَّةٞ مِّنۡ أَيَّامٍ أُخَرَۗ يُرِيدُ ٱللَّهُ بِكُمُ ٱلۡيُسۡرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ ٱلۡعُسۡرَ وَلِتُكۡمِلُواْ ٱلۡعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُواْ ٱللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَىٰكُمۡ وَلَعَلَّكُمۡ تَشۡكُرُونَ ١٨٥
185. (Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur
Dalam hadits disebutkan “ seorang laki-laki berambut kusut menghadap Nabi saw, lalu berkata, ‘Wahai Rasulullah jelaskan kepada saya puasa yang diwajibkan Allah atas diri saya,’ Beliau bersabda, ‘Puasa bulan Ramadhan.’ Orang itu bertanya, ‘Adakah yang lain?’ Beliau menjawab, “Tidak ada”, kecuali jika kau ingin melakukan puasa sunnah. ‘Dia berkata, ‘Jelaskan kepada saya zakat yang diwajibkan atas diri saya, ‘Beliau kemudian menjelaskan kepada syari’at Islam. Setelah itu dia berkata, Demi Allah yang telah memuliakan Anda, saya tidak akan melakukan amal yang sunnah, tetapi saya tidak akan mengurangi amal yang diwajibkan Allah atas diri saya’,
Nabi lantas bersabda;
فقال النبَّيُِّ اَفْلَحَ إِنْ صَدَقَ أَوْدَخَلَ الْجَنَّةَ إِنْ صَدَقَ
Beruntunglah dia jika ucapannya itu tadi benar, atau, Dia pasti masuk surga jika ucapannya tadi benar. (Muttafaq alaih

Wallahu a’lam bi al-shawaab. khutbah jum'at dibacakan di Kantor Kemenag Kab. Karawang, 11 Mei 2018.
Share:

Postingan Populer

Diberdayakan oleh Blogger.

Recent Posts

Unordered List

  • Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit.
  • Aliquam tincidunt mauris eu risus.
  • Vestibulum auctor dapibus neque.

Pages

Theme Support

Need our help to upload or customize this blogger template? Contact me with details about the theme customization you need.