Khutbah Jum'at Luasnya Kasih Sayang Allah pada Manusia
Oleh Masykur H. Mansyur (FKUB Karawang / FAI Unsika Karawang)
Syukur itu bukan sekedar mengucapkan Alhamdulilah. Syukur itu adalah ungkapan kebahagiaan atas nikmat yang diberikan, dengan cara menggunakan nikmat itu sesua ketentuan pemberi nikmat itu, misalnya kita bersyukur mata sehat dan dapat melihat, maka gunakan mata kita sesua dengan fungsi yang ditetapkan oleh pemberi mata itu, bahwa fungsi mata melihat yang baik-baik. Jadi ketika mata kita melihat pada yang tidak baik, itu artinya kita tidak mensyukuri pemberian nikmat mata. Ketika kita mengucapkan kalimat wa bi hamdik, saya syukuri nikmat-Mu ya Allah, alhamdulillah maka itu menjadi komitmen dalam diri kita untuk menjaga semua nikmat dalam bentuk syukur yang benar. Begitupun dengan organ tubuh kita yang lainnya.
Bahwa dalam sebuah hadits, Rasulullah bersabda, “Tatkala Allah menetapkan nasib makhluk-Nya, Dia menetapkan bagi diri-Nya di atas Arsy-Nya, ‘Sesungguhnya, rahmat-Ku lebih cepat daripada amarah-Ku.”
Apabila kita perhatikan kalimat “Rahmat-Ku mengalahkan amarah-Ku” dan “Sesungguhnya, rahmat-Ku lebih cepat daripada amarah-Ku”, mengandung makna yang sama, yaitu Allah Yang Maha Kuasa ingin menunjukkan bahwa kasih sayang-Nya lebih luas, besar, dan lebih cepat daripada amarah-Nya. Sebab, kasih sayang merupakan konsekuensi langsung dari sifat yang melekat pada diri-Nya, yakni ar-Rahman dan ar-Rahim. Sedangkan amarah-Nya berasal dari perbuatan hamba-Nya. Ini artinya, Allah ingin menegaskan bahwa rahmat-Nya tak akan pernah habis dan selalu ada bagi setiap hamba yang sangat membutuhkan-Nya.
Setiap saat, Allah Yang Maha Kuasa mencontohkan dan mengajarkan sifat kasih sayang-Nya kepada seluruh makhluk, baik yang berada di langit, gunung, bumi, laut, sungai, dan lain sebagainya, dengan cara memperlihatkan kebebasan absolut yang diberikan kepada Adam dan seluruh keturunannya. Akan tetapi, setelah mendapatkan banyak kebebasan, manusia lupa dan tidak sadar bahwa setiap kebebasan itu berbatasan dengan kebebasan yang lain. Dengan kata lain, kebebasan tersebut ada batasnya. Boleh jadi, ini disebabkan mereka terlalu banyak bermain-main (sibuk dengan urusan dunia) dan bermalas-malasan di dunia ini. Perhatikan surat al-Hadid 57 [20]
اِعْلَمُوْٓا اَنَّمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَّلَهْوٌ وَّزِيْنَةٌ وَّتَفَاخُرٌۢ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِى الْاَمْوَالِ وَالْاَوْلَادِۗ كَمَثَلِ غَيْثٍ اَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهٗ ثُمَّ يَهِيْجُ فَتَرٰىهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُوْنُ حُطَامًاۗ وَفِى الْاٰخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيْدٌۙ وَّمَغْفِرَةٌ مِّنَ اللّٰهِ وَرِضْوَانٌ ۗوَمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَآ اِلَّا مَتَاعُ الْغُرُوْرِ
Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.
Senada dengan ayat tersebut dijelaskan pula dalam surat al-Ankabut 29 [64]
وَمَا هٰذِهِ الْحَيٰوةُ الدُّنْيَآ اِلَّا لَهْوٌ وَّلَعِبٌۗ وَاِنَّ الدَّارَ الْاٰخِرَةَ لَهِيَ الْحَيَوَانُۘ لَوْ كَانُوْا يَعْلَمُوْنَ
Dan, tiadalah kehidupan dunia ini, melainkan senda gurau dan main-main. Dan, sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahu
Hal seperti itulah yang kemudian membuat seluruh makhluk, baik bumi, langit, lautan, dan gunung marah, dan tidak terima dengan yang dilakukan manusia. Terkait ini, dalam sebuah kisah pernah disebutkan bahwa setiap hari;
Bumi yang kita pijak ikut memohon dan berkata ya Allah ijinkan aku membenamkan anak Adam, mereka berjalan di atas punggungku, dan mereka makan nikmat-Mu, namun tidak bersyukur kepada-Mu.
Langitpun berucap, Setiap hari saat matahari terbit, langit mengadu: ya Allah ijinkan aku jatuh menimpa anak Adam, karena mereka memakan nikmat-Mu tapi tak mau bersyukur pada-Mu
Lautpun bermohon "Wahai Tuhanku, izinkan aku meluap dan menenggelamkan anak Adam. Karena mereka mencari nafkah di jalanku, memakan karunia-Mu, tetapi bermaksiat kepada-Mu
Gunung yang kokoh juga berkata, ya Allah ijinkan aku runtuh untuk menimbun anak Adam, mereka makan nikmat-Mu tapi tak mau bersyukur.
Mendengar kemarahan alam semesta tersebut, apa jawaban Allah Yang Maha Pengasih Maha Penyayang? Allah Subhana wa Ta'ala berfirman: biarkan Aku dan ciptaan-Ku. Kalau kalian yang menciptakan, maka kalian pasti menyayangi mereka. Jika mereka bertaubat kepada-Ku, maka Akulah kekasih mereka, jikalau mereka tak bertaubat, maka Akulah obat mereka. Jadi Allah SWT, senantiasa menahan keinginan tersebut dengan alasan bahwa di muka bumi ini masih ada hamba-hamba-Nya yang beriman, bertakwa, dan bertaubat.
Wallahu a’lam bi al-showaab