• This is default featured slide 1 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

  • This is default featured slide 2 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

  • This is default featured slide 3 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

  • This is default featured slide 4 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

  • This is default featured slide 5 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Khutbah Jum’at Judul: Ramadhan Karim Oleh Masykur H Mansyur (IAIN Syekh Nurjati Cirebon DPK Unsika Karawang)


Mungkin ada diantara kita yang bertanya kenapa bulan ramadhan ini dikatakan sebagai bulan yang mulia atau bulan yang agung atau yang sering kita ucapkan Ramadhan Kariim.
Diriwayatkan dari Salman r.a., ia berkata, “Rasulullah saw, pernah menyampaikan khutbah kepada kami pada akhir bulan Sya’ban. Beliau bersabda;
Wahai saudara-saudara sekalian, bulan yang agung dan penuh berkah sudah hampir tiba, bulan yang didalamnya terdapat suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan, bulan yang puasanya ditetapkan oleh Allah sebagai kewajiban dan shalat malamnya sebagai ibadah sunnah. Barang siapa melakukan sebuah amal sunnah di dalamnya, maka ia seperti orang yang menunaikan sebuah amal fardhu di luarnya; dan barang siapa melakukan sebuah amal fardhu di dalamnya, maka dia terhitung seperti orang yang menunaikan tujuh puluh amal fardhu di luarnya. Dia adalah bulan kesabaran, dan pahala kesabaran adalah surga. Dia adalah bulan penghiburan (kepada kaum miskin). Pada bulan tersebut rezeki seorang mu’min bertambah. Barang siapa memberi buka kepada seorang yang berpuasa, niscaya dosa-dosanya akan diampuni, dirinya akan dibebaskan dari neraka, dan dia mendapat pahala seperti orang yang berpuasa tersebut tanpa berkurang sedikit pun pahalanya.
            Para sahabat berkata, “Wahai Rasulullah, tidak semua orang punya harta untuk memberi buka kepada orang yang berpuasa”! Rasululah bersabda, Allah memberi pahala ini kepada siapa pun yang memberi buka kepada orang yang berpuasa, meskipun hanya dengan sebutir kurma, seteguk air putih, atau campuran susu.
Bagian awal bulan ini adalah rahmat, bagian tengahnya adalah ampunan dosa, dan bagian akhirnya adalah pembebasan dari neraka. Barang siapa memberi budaknya keringanan dari pekerjaan pada bulan ini, niscaya Allah akan mengampuni dosanya dan membebaskan dari neraka. Perbanyaklah melakukan empat perkara dalam bulan ini, dua diantaranya untuk membuat Tuhan kalian ridha, dan dua lagi pasti kalian perlukan. Dua perkara untuk membuat Tuhan kalian ridha adalah mengucapkan syahadat laa ilaaha illa-llah (tiada Tuhan selain Allah) dan beristighfar, sedangkan dua perkara yang pasti kalian perlukan adalah memohon surga kepada Allah dan berlindung kepada-Nya dari neraka. Barang siapa memberi minum kepada orang yang berpuasa, niscaya Allah akan memberinya minum dari telagaku, sehingga dia tidak akan haus lagi sampai dia masuk surga
Sungguh lengkap sudah apa yang dikhutbahkan oleh baginda Rasulullah saw, tentang berbagai kemuliaan yang diperuntukkan bagi manusia yang melaksanakan ibadah, baik ibadah sunah maupun ibadah wajib di bulan ramadhan ini.

Dalam sebuah hadits disebutkan
لَوْ يَعْلَمُ الْعِبَادُ ما فيِ شَهرِ رَمَضَانَ لَتَمَنَّى اَنْ يَكُوْنَ شَهْرُ رَمَضاَنَ سَنَةً
ِِِArtinya, seandainya manusia mengetahui besarnya pahala yang tersedia di bulan ramadhan, niscaya dia berharap bulan ramadhan itu sepanjang tahun, (hadits riwayat Bukhari dan Muslim dari Abi Hurairah).
Dan pahalanya Allah sendiri yang melipatgandakannya sebagaimana firman-Nya dalam hadits qudsi
كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ بعَشْرِ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعمِائَة ضِعْفٍ ، قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ : إِلَّا الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ
Setap amal manusia dilipatgandakan pahalanya, satu amal kebaikan diberi pahala sepuluh, sampai tujuh ratus kali lipat. Allah ta’ala berfirman kecuali puasa, sebab puasa adalah untuk-Ku, dan Akulah yang memberi pahala atasnya.
Karena sesungguhnya yang diinginkan oleh orang yang berpuasa adalah taqwa kepada Allah swt. sebagaimana firman-Nya dalam surah al-Baqarah 2 : [183].
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ كُتِبَ عَلَيۡكُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُونَ
183. Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.

Ahmad Mustafa al-Maraghi dalam tafsir al-Maraghi (vol. 2, p. 117-118), puasa adalah untuk mempersiapkan diri dalam bertaqwa, hal ini dapat dilihat dari sikap yang menonjol diantaranya adalah; puasa ini dapat membiasakan seorang untuk takut kepada Allah, baik dalam keadaan sendiri atau dengan banyak orang. Sebab orang yang melakukan ini tidak ada pengawas yang mengawasi kecuali Tuhannya. Jika mereka meninggalkan keinginan yang ada dihadapannya, seperti makanan enak, minuman segar, buah yang matang dan isteri cantik di dalam rangka menjalankan ibadah puasa dan taat akan perintah Tuhan selama satu bulan penuh, berarti ia telah membiasakan diri untuk bertaqwa kepada Allah Swt. Sebab, jika tidak demikian, maka dia tidak akan kuat menahan keinginan-keingainan tersebut. Semakin berulangnya melakukan puasa, berarti telah membiasakan diri untuk bersikap malu terhadap Allah yang selalu mengawasi gerak-geriknya di dalam melaksanakan segala perintah dan menjauhi segala larangan-Nya. Selain itu, berarti pula puasa itu dapat menyempurnakan diri dan berlatih untuk mengekang hawa nafsu, mengingat kemauan hawa nafsu selalu mengiringi manusia kemana ia pergi.
Siapapun yang mempunyai sifat-sifat tersebut secara lengkap, pasti tidak akan berani melakukan penipuan terhadap oerang lain, juga tidak akan berani memakan harta mereka dengan jalan batil. Ia juga tidak akan berani meruntuhkan salah satu rukun Islam, zakat misalnya. Ia juga tidak berani melakukan berbagai perbuatan munkar dan berdosa. Jika ia terpaksa melakukan perbuatan tersebut, ia akan cepat sadar kembali dan bergegas melakukan taubat.
            Disini diperlukan perlindungan diri yang tulus ikhlas kepada Allah Swt. Orang yang beriman selalu membentengi diri dengan taqwa, yaitu selalu memelihara hubungan baiknya dengan Allah Swt, Tapi pada satu sisi, manusia juga sekali-sekali terlalai, dan pada saat terlalai inilah setan mencoba mengganggu, walaupun ia orang yang bertaqwa. Kalau demikian kembalilah untuk bertaubat. Al-Qur’an surat al’A’raf 7 : [201] Allah berfirman
إِنَّ ٱلَّذِينَ ٱتَّقَوۡاْ إِذَا مَسَّهُمۡ طَٰٓئِفٞ مِّنَ ٱلشَّيۡطَٰنِ تَذَكَّرُواْ فَإِذَا هُم مُّبۡصِرُونَ ٢٠١
201. Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa bila mereka ditimpa was-was dari syaitan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya
Wallahu a’lam bi al-shawaab

Bagaimana cara mengukur tingkat ketaqwaan kita kepada Allah Swt. dlam al-Qur’an surat al-Baqarah 2:[134]
۞وَسَارِعُوٓاْ إِلَىٰ مَغۡفِرَةٖ مِّن رَّبِّكُمۡ وَجَنَّةٍ عَرۡضُهَا ٱلسَّمَٰوَٰتُ وَٱلۡأَرۡضُ أُعِدَّتۡ لِلۡمُتَّقِينَ  ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ فِي ٱلسَّرَّآءِ وَٱلضَّرَّآءِ وَٱلۡكَٰظِمِينَ ٱلۡغَيۡظَ وَٱلۡعَافِينَ عَنِ ٱلنَّاسِۗ وَٱللَّهُ يُحِبُّ ٱلۡمُحۡسِنِينَ ١٣٤

133. Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa
134. (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan




Share:

MARHABAN YA RAMADHAN Oleh: Masykur H Mansyur. IAIN Syekh Nurjati Cirebon (DPK Unsika Karawang) Fakultas Agama Islam Uniska Karawang



Pada paruh kedua minggu ini sudah mulai tampak  kita saksikan spanduk dengan ungkapan marhaban ya ramadhan atau selamat datang bulan ramadhan. begitupun di WA, facebook, dan lain-lain. lalu apa sesungguhnya marhaban ya ramadhan tersebut ?.
Kata Marhaban sebagaimana dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) di artikan sebagai kata seru (aktif) untuk menyambut atau menghormati tamu (yang berarti selamat datang). Sama halnya dengan kata “ahlan wa sahlan” yang  juga berarti selamat datang.
Walaupun keduanya mempunyai pengertian yang sama “selamat datang” tetapi penggunaannya berbeda. Quraish Shihab dalam bukunya Wawasan al-Qur’an (p.512) menjelaskan para ulama tidak menggunakan ahlan wa sahlan untuk menyambut datangnya bulan ramadlan, melainkan “marhaban ya ramadlan”. Kata “ahlan  terambil  dari  kata  ahl  yang   berarti   "keluarga", sedangkan  sahlan berasal  dari kata sahl yang berarti mudah. Juga berarti "dataran  rendah"  karena mudah  dilalui,  tidak seperti  "jalan  mendaki".  Ahlan  wa  sahlan, adalah ungkapan selamat datang,  yang  dicelahnya  terdapat  kalimat  tersirat yaitu,  "(Anda  berada di tengah) keluarga dan (melangkahkan kaki di) dataran rendah yang mudah."
Masih menurut Quraish Shihab, kata marhaban terambil dari kata  rahb  yang  berarti  "luas"  atau "lapang",  sehingga marhaban menggambarkan bahwa tamu disambut dan diterima  dengan  dada  lapang,  penuh  kegembiraan, serta dipersiapkan  baginya ruang yang luas untuk melakukan apa saja yang  diinginkannya. Dari  akar   kata   yang   sama   dengan "marhaban", terbentuk  kata  rahbat  yang antara lain berarti "ruangan luas untuk kendaraan, untuk memperoleh perbaikan atau kebutuhan pengendara guna melanjutkan perjalanan." Marhaban ya Ramadhan berarti "Selamat  datang  Ramadhan" mengandung  arti bahwa kita menyambutnya dengan lapang dada, penuh kegembiraan; tidak   dengan  menggerutu   dan   menganggap    kehadirannya "mengganggu ketenangan" atau suasana nyaman kita.
Marhaban  ya  Ramadhan,  kita  ucapkan  untuk  bulan suci itu, karena kita mengharapkan agar jiwa raga kita diasah dan diasuh guna melanjutkan perjalanan menuju Allah Swt.
            Dalam menyambut bulan suci ramadlan tahun 1439 H. 2018, ini ada baiknya menyimak apa yang disampaikan oleh baginda Rasulullah saw dalam sebuah hadits sebagai berikut:
Diriwayatkan dari Salman r.a., ia berkata, “Rasulullah saw, pernah menyampaikan khutbah kepada kami pada akhir bulan Sya’ban. Beliau bersabda;
Wahai saudara-saudara sekalian, bulan yang agung dan penuh berkah sudah hampir tiba, bulan yang didalamnya terdapat suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan, bulan yang puasanya ditetapkan oleh Allah sebagai kewajiban dan shalat tahajudnya sebagai ibadah sunnah. Barang siapa melakukan sebuah amal sunnah di dalamnya, maka ia seperti orang yang menunaikan sebuah amal fardhu di luarnya; dan barang siapa melakukan sebuah amal fardhu di dalamnya, maka dia terhitung seperti orang yang menunaikan tujuh puluh amal fardhu di luarnya. Dia adalah bulan kesabaran, dan pahala kesabaran adalah surga. Dia adalah bulan penghiburan (kepada kaum miskin). Pada bulan tersebut rezeki seorang mu’min bertambah. Barang siapa memberi buka kepada seorang yang berpuasa, niscaya dosa-dosanya akan diampuni, dirinya akan dibebaskan dari neraka, dan dia mendapat pahala seperti orang yang berpuasa tersebut tanpa berkurang sedikit pun pahalanya.
            Para sahabat berkata, “Wahai Rasulullah, tidak semua orang punya harta untuk memberi buka kepada orang yang berpuasa”! Rasululah bersabda, Allah memberi pahala ini kepada siapa pun yang memberi buka kepada orang yang berpuasa, meskipun hanya dengan sebutir kurma, seteguk air putih, atau campuran susu.
Bagian awal bulan ini adalah rahmat, bagian tengahnya adalah ampunan dosa, dan bagian akhirnya adalah pembebasan dari neraka. Barang siapa memberi budaknya keringanan dari pekerjaan pada bulan ini, niscaya Allah akan mengampuni dosanya dan membebaskan dari neraka. Perbanyaklah melakukan empat perkara dalam bulan ini, dua diantaranya untuk membuat Tuhan kalian ridha, dan dua lagi pasti kalian perlukan. Dua perkara untuk membuat Tuhan kalian ridha adalah mengucapkan syahadat laa ilaaha illa-llah (tiada Tuhan selain Allah) dan beristighfar, sedangkan dua perkara yang pasti kalian perlukan adalah memohon surga kepada Allah dan berlindung kepada-Nya dari neraka. Barang siapa memberi minum kepada orang yang berpuasa, niscaya Allah akan memberinya minum dari telagaku, sehingga dia tidak akan haus lagi sampai dia masuk surga. Menurut Wahbah az-Zuhaily dalam kitab Fiqh Islam wa Adillatuhu (2011: 24-26, Vol. 3). Bahwa hadits tersebut diriwayatkan oleh Ibnu Huzaimah dalam Shahihnya, lalu dia berkomentar hadits ini shahih. Dia meriwayatkan dari jalur Baihaqi. Abusy Syaikh ibnu Hayyan juga meriwayatkan dalam ats-Tsawaab secara ringkas dari mereka berdua (at-Targhib wat-Tarhib 2/94-95). Demikian az-Zuhaily.
            Sungguh lengkap sudah apa yang dikhutbahkan oleh baginda Rasulullah saw, tentang berbagai kemuliaan yang diperuntukkan bagi manusia yang melaksanakan ibadah, baik ibadah sunah maupun ibadah wajib di bulan ramadhan ini. Begitu amat pentingnya bulan ramadhan ini sampai-sampai Nabi Muhammad saw pernah bersabda;
لَوْ يَعْلَمُ الْعِبَادُ ما فيِ شَهرِ رَمَضَانَ لَتَمَنَّى اَنْ يَكُوْنَ شَهْرُ رَمَضاَنَ سَنَةً
ِِِArtinya, seandainya manusia mengetahui besarnya pahala yang tersedia di bulan ramadhan, niscaya dia berharap bulan ramadhan itu sepanjang tahun, (hadits riwayat Bukhari dan Muslim dari Abi Hurairah).
Puasa Ramadhan diwajibkan setelah kiblat dialihkan ke ka’bah pada tanggal 10 Sya’ban tahun 2 H. Tepatnya satu setengah tahun setelah Nabi berhijrah ke Madinah. Nabi saw menjalani puasa Ramadhan selama Sembilan tahun.
Wahbah Az-Zuhaili dalam kitab Fiqh Islam wa Adilatuhu. Orang yang mengingkari kewajiban puasa Ramadhan terhitung kafir dan diperlakukan seperti orang murtad, jadi dia diminta bertaubat. Jika sudi bertaubat dia diampuni. Adapun orang yang meninggalkan puasa karena malas, tanpa ada udzur, dan tidak mengingkari kewajibannya, maka dia terhitung fasik, bukan kafir.
Berdasarkan dalil al-Qur’an, sunnah dan ijma’ puasa bulan ramadhan merupakan rukun dan fardhu (kewajiban dalam Islam).
Dalilnya al-Qur’an surah al-Baqarah ayat 2 :[183, 185]]
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ كُتِبَ عَلَيۡكُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُونَ ١٨٣
183. Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.
شَهۡرُ رَمَضَانَ ٱلَّذِيٓ أُنزِلَ فِيهِ ٱلۡقُرۡءَانُ هُدٗى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَٰتٖ مِّنَ ٱلۡهُدَىٰ وَٱلۡفُرۡقَانِۚ فَمَن شَهِدَ مِنكُمُ ٱلشَّهۡرَ فَلۡيَصُمۡهُۖ وَمَن كَانَ مَرِيضًا أَوۡ عَلَىٰ سَفَرٖ فَعِدَّةٞ مِّنۡ أَيَّامٍ أُخَرَۗ يُرِيدُ ٱللَّهُ بِكُمُ ٱلۡيُسۡرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ ٱلۡعُسۡرَ وَلِتُكۡمِلُواْ ٱلۡعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُواْ ٱللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَىٰكُمۡ وَلَعَلَّكُمۡ تَشۡكُرُونَ ١٨٥
185. (Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur
Dalam hadits disebutkan “ seorang laki-laki berambut kusut menghadap Nabi saw, lalu berkata, ‘Wahai Rasulullah jelaskan kepada saya puasa yang diwajibkan Allah atas diri saya,’ Beliau bersabda, ‘Puasa bulan Ramadhan.’ Orang itu bertanya, ‘Adakah yang lain?’ Beliau menjawab, “Tidak ada”, kecuali jika kau ingin melakukan puasa sunnah. ‘Dia berkata, ‘Jelaskan kepada saya zakat yang diwajibkan atas diri saya, ‘Beliau kemudian menjelaskan kepada syari’at Islam. Setelah itu dia berkata, Demi Allah yang telah memuliakan Anda, saya tidak akan melakukan amal yang sunnah, tetapi saya tidak akan mengurangi amal yang diwajibkan Allah atas diri saya’,
Nabi lantas bersabda;
فقال النبَّيُِّ اَفْلَحَ إِنْ صَدَقَ أَوْدَخَلَ الْجَنَّةَ إِنْ صَدَقَ
Beruntunglah dia jika ucapannya itu tadi benar, atau, Dia pasti masuk surga jika ucapannya tadi benar. (Muttafaq alaih

Wallahu a’lam bi al-shawaab. khutbah jum'at dibacakan di Kantor Kemenag Kab. Karawang, 11 Mei 2018.
Share:

Bahaya Ujub Oleh Masykur H Mansyur Kaprodi Manajemen Pendidikan Islam (MPI) Unsika Karawang.




            Ujub merupakan satu dari sekian banyak akhlaq tercela. Ujub sebagaimana dikatakan oleh Imam al-Ghazali dalam Mukhtashor Ihya’ Ulumuddin yaitu kesombongan batin atas kesempurnaan ilmu atau amal yang digambarkannya melalui lisan maupun perbuatan (tindakan). Jika merasa khawatir, bahwa kesempurnaan itu akan lenyap, maka ia bukan disebut sebagai orang yang berlaku ujub. Dan jika merasa gembira karena menganggap kesempurnaan tersebut sebagai nikmat yang datang dari Allah, maka ini juga bukan termasuk orang yang berlaku ujub. Melainkan sebagai orang yang merasa gembira atas anugerah yang Allah Ta’ala berikan kepadanya. Dan jika ia memandang kesempurnaan tersebut sebagai sifat tanpa memperhatikan bahwa hal itu bisa lenyap dan tidak juga memperhatikan kepada siapa yang telah memberikannya, melainkan hanya terpaku pada sifat itu sendiri, maka sikap seperti ini termasuk yang membinasakan.
            Umul Mu’minin Siti Aisyah pernah ditanya “kapan seseorang dikatakan tidak baik?” beliau menjawab “ketika ia menganggap dirinya paling baik”.
Jawaban Siti Aisyah sungguh padat dan singkat, tapi mempunyai makna yang luas dan mendalam. Itulah yang dimaksud dengan ujub yaitu salah satu dari akhlaq tercela. Secara sederhana ujub diartikan sebagai terpesona atau kagum terhadap kebaikan diri sendiri.
Bagaimanapun hebatnya orang yang sok menyombongkan diri, tetap saja ia adalah termasuk orang yang lemah, dan dia berada dalam jurang kehancuran.

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam al-Tabrani dari Annas.

 عن أنس قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : ثَلَاثٌ مُهْلِكَاتٌ : شُحٌّ مُطَاعٌ وَهَوًى مُتَّبَعٌ وَإِعْجَابُ الْمَرْءِ بِنَفْسِهِ
“Tiga hal yang membawa pada jurang kebinasaan: (1) tamak lagi kikir, (2) mengikuti hawa nafsu (yang selalu mengajak pada kejelekan), dan ujub (takjub pada diri sendiri).
            Tercatat dalam sejarah Islam bahwa ujub atau sombong karena merasa kuat pernah terjadi pada masa Rasululah saw. Dalam perang Hunain jumlah pasukan muslim sangatlah banyak yaitu sekitar 12.000 orang. Karena merasa jumlah yang sangat banyak, sebagian sahabat sebelum perang dimulai sudah merasa menang.
Hal itu tertuang dalm surah al_Taubah 9 {25]
لَقَدۡ نَصَرَكُمُ ٱللَّهُ فِي مَوَاطِنَ كَثِيرَةٖ وَيَوۡمَ حُنَيۡنٍ إِذۡ أَعۡجَبَتۡكُمۡ كَثۡرَتُكُمۡ فَلَمۡ تُغۡنِ عَنكُمۡ شَيۡ‍ٔٗا وَضَاقَتۡ عَلَيۡكُمُ ٱلۡأَرۡضُ بِمَا رَحُبَتۡ ثُمَّ وَلَّيۡتُم مُّدۡبِرِينَ ٢٥
25. Sesungguhnya Allah telah menolong kamu (hai para mukminin) di medan peperangan yang banyak, dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu diwaktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlah(mu), maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikitpun, dan bumi yang luas itu telah terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari kebelakang dengan bercerai-berai.
Prof. Hamka dalam Tafsir al-Azhar menjelaskan bahwa, perasaan tentara Islam ketika berangkat adalah sedikit abai. Abu Bakar sendiri-pun nyaris lalai melihat banyak bilangan itu, sehingga terloncat dari mulutnya. Kita tidak akan dapat dikalahkan lagi, lantaran sedikit. Artinya bahwa bilangan kita telah banyak, lebih dari 12.000 orang. Sedangkan yang lainpun se-akan-akan ada perasan begitu.Hawazin dan Tsaqif akan dapat kita kalahkan. Sedangkan Quraisy yang lebih kuat telah kita kalahkan. Apalagi orang-orang Mekkah yang baru beberapa minggu saja memeluk Islam, dengan berbesar hati ikut pergi perang sebab merasa tidak akan kalah dan akan mendapat banyak laba harta rampasan karena menurut Muhammad saw. Maka, berangkatlah tentara besar itu meninggalkan Mekkah menuju negeri orang Hawazin dan Tsaqif itu.
Karena mereka sudah merasa menang sebelum perang, akhirnya mereka lalai dari incaran dan siasat musuh. Ketika sampai di lembah Hunain, pasukan Islam diserang musuh dari segala penjuru termasuk dilereng-lereng bukit yang sangat strategis. Dengan laihainya pasukan Malik bin Auf menggelontorkan batu-batu besar dan diserang dengan tombak dan anak panah, sehingga pasukan Islam lari tunggang langgang, kocar kacir. Timbul panic dan kegugupan luar biasa sehingga barisan yang tadinya teratur menjadi kocar-kacir berderai-derai.
Namun  tiba-tiba muncul lagi kegembiraan di hati pemimpin-pemimpin Mekah. Rasulullah saw menguatkan kembali persatuan diantara umat Islam. Setelah melakukan instropeksi dan konsolidasi, serta atas pertolongan Allah SWT, akhirnya peperangan ini dimenagkan oleh kaum muslimin.
            Ada ujub yang disebabkan oleh keyakinan dan perilaku. Orang ujub biasanya merasa paling benar dan suci dibandingkan dengan orang lain, karena orang semacam ini menanggap dirinya sudah melkasanakan ajaran agama sesuai dengan tuntutan. Ada lagi, orang ujub juga, merasa paling pintar dalam hal agama, sehingga tidak memberi ruang orang lain untuk bicara soal agama. Orang ujub semacam ini bisa menilai orang dari sisi siapa yang bicara, bukan dari sisi apa yang menjadi isi pembicaraannya. Ujub ini muncul dari orang yang tinggi semangat atau motivasi keagamaannya, tapi miskin ilmu, pada sisi yang lain muncul pada orang pandai, tapi miskin akhlaqnya.
            Allah SWT mengingatkan kita dalam al-Qur’an surat al-Najm 53 [32]
…..فَلَا تُزَكُّوٓاْ أَنفُسَكُمۡۖ هُوَ أَعۡلَمُ بِمَنِ ٱتَّقَىٰٓ ٣٢
32. maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa.
Termasuk larangan menyombongkan diri sebagaimana dalam al-Qur’an surat al-Isra 38
وَلَا تَمۡشِ فِي ٱلۡأَرۡضِ مَرَحًاۖ إِنَّكَ لَن تَخۡرِقَ ٱلۡأَرۡضَ وَلَن تَبۡلُغَ ٱلۡجِبَالَ طُولٗا ٣٧
37. Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung
Siapa orang sombong itu ?. Orang sombong adalah orang yang tak tahu siapa dirinya.Bersifat angkuh karena dia telah lupa bahwa hidup manusia di dunia ini hanyalah bersifat sementara. Kelak akan mati, akan kembali masuk ke tanah dan kembali jadi tanah, tinggal tulang-tulang yang berserekan dan menakutkan.
Oleh sebab itu, seorang mukmin sejati ialah seorang yang tahu diri, lalu ditempatkan dirinya itu pada tempat yang sebenarnya. Itulah yang dikenal dalam bahasa Arab sebagai sifat tawadhu’. Atau tegakla yang sederhana, ukurlah kekuatan diri, seperti hadits Rasulullah saw.
مَاهَلَكَ امْرُؤٌ عَرَفَ قَدْرَ نَفْسِهِ
Tidaklah akan celaka orang yang mengerti kedudukan dirinya.
Wallahu a’lam bi al-shawaab
.










Share:

Postingan Populer

Diberdayakan oleh Blogger.

Recent Posts

Unordered List

  • Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit.
  • Aliquam tincidunt mauris eu risus.
  • Vestibulum auctor dapibus neque.

Pages

Theme Support

Need our help to upload or customize this blogger template? Contact me with details about the theme customization you need.